SELAMAT HARI KESEHATAN NASIONAL KE 50


Sabtu, 01 Agustus 2009

Konsep Diabetes Melitus

2.3.1 Pengertian
Diebetes Melitus adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kelainan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia (Smeltzer, 2002).
Diabetes Melitus atau DM adalah keadaan hiperglikemia kronik yang disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron (Arif Mansjoer,1999)
Diabetes Melitus adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang mengalami peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurangan hormon insulin secara absolute dan relative (Sunita Almatsier, 2006)
Dari beberapa penggertian di atas, pengertian Diabetes Melitus secara umum adalah kelainan heterogen yang ditandai dengan hiperglikemia akibat kekurangan hormon insulin baik secara absolute maupun relatif yang menimbulkan beberapa
komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah disertai lesi pada membran basalis.
2.3.2 Etiologi
Menurut Smeltzer (2002), etiologi Diabetes Melitus adalah sebagai berikut:
1. Insulin Dependenn Diabetes Melitus atau IDDM yaitu Diabetes Melitus Tergantung Insulin atau DMTI disebabkan ketidak mampuan sel Beta pankreas untuk menghasilkan Insulin karena telah dihancurkan oleh proses autoimun.
2. Non Insulin Dependent Diabetes Melitus atau NIDDM yaitu Diabetes Melitus Tidak Tergantung Insulin atau DMTTI disebabkan resistensi insulin atau gangguan sekresi insulin. Retensi insulin adalah tidak efektifnya insulin untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan.
2.3.3 Gejala klinik
Menurut PERKENI (2006) terdapat gejala klasik Diabetes Melitus adalah:
1. Keluhan banyak minum atau polidipsi, banyak makan atau polifagia, banyak kencing atau poliuria.
2. Kadar glukosa darah pada waktu puasa lebih dari 126 mg/dL
3. Kadar glukosa darah dua jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dL
2.3.4 Diagnosa Diabetes Melitus
Menurut PERKENI (2006), diagnosis DM dapat ditegakkan dengan 3 cara, yaitu :
1. Jika keluhan klasik ditemukan, glukosa plasma sewaktu ≥ 200 mg/dl. Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemerluasan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir
2. Jika keluhan klasik ditemukan, pemeriksaan glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dl. Puasa diartikan pasien tidak mendapat kalori tambahan sedikitnya 8 jam.
3. Kadar glukosa plasma 2 jam pada TTS toleransi Glukosa Oral atau TTGO ≥ 200 ml/dl. TTGO dilakukan dengan standar WHO menggunakan beban glukosa.
2.3.5 Komplikasi
Menurut Smeltzer (2002) komplikasi Diabetes Melitus dibagi menjadi 3 yaitu :
2.3.5.1 Akut
1) Hipoglikemia
2) Diabetes Ketoasidosis
3) Hiperglikemia
2.3.5.2 Kronik
1) Makrovaskuler berupa penyakit koroner. Penyakit serebrovaskuler, penyakit vaskuler perifer atau komplikasi gangren
Gangren adalah proses atau keadaan yang ditandai dengan adanya jaringan mati atau nekrosis, namun secara mikrobiologis adalah proses nekrosis yang disebabkan oleh infeksi. Gangren kaki diabetik adalah luka pada kaki yang merah kehitam–hitaman dan berbau busuk akibat sumbatan yang terjadi di pembuluh darah sedang atau besar ditungkai (Elvina Karyadi:2009).
Gangren adalah penyakit pembuluh darah kecil neuropati perifer dengan defisit sensasi nyeri dan respon inflamasi neurogenik serta infeksi sekunder (Smeltzer, 2002), Gangren dapat disebabkan beberapa factor diantaranya :
(1) Gangguan peredaran darah pada kaki mengenai pembuluh darah besar makrovaskuler berupa pengendapan kolestrol, kalium dan bahan – bahan jaringan sehingga terjadi pengeseran dan penyempitan dinding pembuluh darah. Akan darah kurang lancar mengakibatkan pemberian makanan dan oksigenasi juga berkurang. Jaringan di ujung menjadi rawan dan rapuh disamping itu pembekuan darah menjadi mudah. Pada kaki Diabetes terjadi pula gangguan pembuluh darah bagian dalam yang menyebabkan pembuluh darah tidak baik lagi. Kedua hal tersebut menyebabkan mudahnya timbul penyumbatan aliran darah oleh bekuan–bekuan darah. Kematian jaringan ini akan ditandai perubahan warna darah merah menjadi biru sampai hitam. Tanda khas gangren adalah berbau busuk.
(2) Gangguan Persyarafan kaki mengakibatkan bertambah mudahnya luka, karena gangguan ini mengenai syaraf penerima sensasi. Penderita kehilangan rasa sakit pada kaki. Segala gesekan dan roda paksa menjadi tak terasa, luka tiba–tiba sudah menganga tanpa disadari.


(3) Ruda paksa atau trauma.
Penderita diabetes juga mengalami ruda paksa pada kaki. Kesempatan luka lebih besar karena kelainan peredaran darah dan persyarafan. Beberapa ruda paksa yang menyebabkan luka adalah trauma mekanik, misalnya pemakaian sepatu yang sempit, kesandung batu, luka waktu memotong kuku, gigitan serangga dan sebagainya, kemudian trauma suhu, misalnya luka bakar, air panas dan sebagainya.
(4) Infeksi dipengaruhi oleh faktor gangguan gula darah, dengan berbagai akibat gangguan metabolisme sampingannya merupakan sarana baik berkembang biaknya kuman. Faktor daya tahan, kurang mampu darah putih sebagai alat pemungkas atau imunitas selluler disertai gangguan imunitas humoral. Faktor pembuluh darah kecil dan besar menyebabkan aliran darah terhambat, tersumbat, daya penyembuh jaringan berkurang serta faktor saraf.
2) Microvaskuler berupa Retinopati Nefropati
3) Neuropati Diabetes
2.3.6 Pencegahan Diabetes Melitus dengan Komplikasi Gangren
Menurut Ari Sutjahjo (1998), upaya pencegahan kaki Diabetes dilakukan dengan cara penyuluhan kepada penderita meliputi :
1. Memeriksa Glukosa darah secara teratur
2. Melatih untuk merawat kaki
3. Memeriksa kaki secara menyeluruh, meliputi kulit, kuku, adanya jamur ataupun adanya luka pada kaki
2.3.7 Penatalaksanaan
Menurut Askandar Tjokroprawito (1996), terdapat 5 dasar pengobatan Diabetes mellitus :
1. Diet Diabetik
2. Latihan Fisik
3. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat
4. Obat hipoglikemia yaitu obat diabetik dan insulin
5. Cangkok prangkreas
Penatalaksanaan diabetes mellitus meliputi pengobatan primer dan sekunder. Pengobatan primer diantaranya adalah diet diabetik, latihan fisik, penyuluhan kesehatan masyarakat. Sedangkan untuk pengobatan sekunder diantaranya adalah obat hipoglikemia dan cangkok pankreas.
Penatalaksanaan Diabetes Melitus menurut Sunita Almatsier (2006) bertujuan untuk membantu pasien memperbaiki kebiasaan makan dan olahraga untuk mendapatkan kontrol metabolik yang lebih baik, dengan cara :
1) Mempertahankan kadar glukosa darah mendekati normal dengan menyeimbangkan asuhan makanan dengan insulin.
2) Mencapai dan mempertahankan kadar lipid serum normal
3) Memberi cukup energi untuk mempertahankan atau mencapai berat badan normal
4) Menghidari atau menangani komplikasi akut pasien yang menggunakan insulin
5) Meningkatkan derajat kesehatan secara keseluruhan melalui gizi yang optimal
Pelaksanaan diet Diabetes Melitus adalah sebagai berikut :
1) Diet
Diet merupakan salah satu syarat utama dalam penyembuhan suatu penyakit makanan memenuhi kebutuhan gizi dan termakan habis akan mempercepat perbaikan gizi pasien, sehingga kondisi umumnya dalam waktu singkat dapat kembali ketaraf normal (Arif M, 1999).
(1) Pedoman 3 J atau Jumlah, Jadwal dan Jenis artinya : J1 : jumlah kalori yang diberikan harus dihabiskan, J2 : jadwal amakan harus diikuti atau interval 3 jam , J3 : jenis gula dan makan yang manis harus dipantang
(2) Tujuan penatalaksanaan Diet,
Menurut Brunner dan Suddart (2001), tujuan panatalaksanaan diet sebagai berikut : memberikan semua unsur makanan esensial, misalnya vitamin, mineral, mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai, memenuhi kebutuhan energi, mencegah fluktuasi kadar glukosa darah glukosa darah setiap harinya dengan mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal, melalui cara– cara yang aman dan praktis, menurunkan kadar lemak darah jika meningkat.
(3) Penentuan gizi penderita dan jumlah kalori perhari.
Menurut Askandar Tjokroprawito (1996), penentuan gizi penderita dan jumlah kalori perhari adalah :


Keterangan :
BBR = Berat badan relative
BB = Berat badan dalam kilogram
TB = Tinggi badan dalam centimeter
Kebutuhan kalori perhari untuk menuju BB normal : gemuk atau BBR lebih dari 120 % kebutuhan kalori sehari = 15 kal / kg BB. Berat badan lebih atau BBR lebih dari 10 %, kebutuhan kalori sehari 20 kal/ kg BB. Berat badan normal atau BBR 90 – 100%, kebutuhan kalori sehari 30 kal/kg BB. Berat badan kurang atau BBR kurang dari 90%, kebutuhan kalori sehari 40 – 60 kal/kg BB
(4) Tujuan pengobatan diet pada Diabetes Melitus.
Menurut Engram Barbara (1999), tujuan pengobatan diet pada Diabetes Melitus adalah mencapai dan mempertahankan kadar glukosa darah mendekati norma, mencapai dan mempertahankan kadar lipid normal, mecegah komplikasi akut dan kronis serta meningkatkan kualitas hidup.
(5) Macam diet diabetes melitus.
Menurut Askandar Tjokroprawito (1996) macam – macam diet Diabetes Melitus meliputi : Diet B, Diet B puasa, Diet B1, Diet B1 puasa, Diet B2, Diet B3, Diet Be, Diet M, Diet M Puasa, Diet G, Diet KV, Diet GL, Diet H.
Menurut Nielson dalam Augusta B (2009), menjaga kadar gula dengan menjalankan diet rendah karbohidrat, prinsip terapy diet rendah karbohidrat adalah membatasi asuhan karbohidrat seminimal mungkin, termasuk glukosa atau gula yang merupakan sumber karbohidrat. Tubuh kita biasanya menggunakan karbohidrat sebagai sumber energi utama dengan penghantaran hormon insulin. Dengan membatasi asuhan karbohidrat, maka produksi insulin akan menurun.
Tingginya asupan karbohidrat menyebabkan gula darah meningkat diiringi dengan meningkatnya kadar insulin. Kalebihan hasil metobilisme karbohidrat disimpan sebagai lemak di dalam tubuh sebagai cadangan energi. Kondisi ini menstimulasi otak untuk memberikan sinyal lapar. Kita akan mengkonsumsi lebih banyak karbohidrat. Jika hal ini berlangsung dalam jangka waktu lama, sel akhirnya menjadi resisten terhadap insulin. Akibatnya pankreas bekerja lebih keras untuk memproduksi lebih banyak lagi insulin.
Bila asupan makanan sangat sedikit mengandung karbohidrat, lemak tubuh akan dibakar sebagai sumber energi. Gula darah akan stabil dan kadar insulin turun. Pada penderita diabetes mellitus, sel–sel yang sebelumnya resisten terhadap insulin akan kembali peka.
Diet rendah karbohidrat dibagi menjadi 4 tahap :
(1) Diet tahap I, dilakukan selama 1 minggu. Tujuannya untuk mangadaptasi tubuh. Pada tahap I, makan tiga kali namun dengan asupan karbohidrat setengah dari jumlah yang biasa dimakan, sayur dan protein lebih banyak dari biasanya dan tanpa buah–buahan. Snack dimakan dua kali berupa protein dan sayur.
(2) Diet tahap II, yaitu sama sekali membatasi asupan karbohidrat selama 2 minggu, makan tiga kali tanpa pembatasan jumlah.
(3) Diet tahap III, karbohidrat mulai dikembalikan ke dalam menu secara bertahap. Pada tahap ini biasanya sudah terjadi perubahan perilaku dan pola makan, yaitu tidak dapat merasa lapar, cepat merasa kenyang, lebih menahan diri, tidak banyak membutuhkan karbohidrat dan gula, lebih banyak makan sayur dan protein.
(4) Diet tahap IV adalah tahap pemeliharaan, tubuh akan memberikan sinyal lapar dan kenyang sesuai kebutuhan tubuh. Kita tetap dapat menikmati makanan dalam jumlah yang tidak berlebihan.
2) Latihan Fisik
Latihan fisik adalah proses melakukan kegiatan tertentu secara sistematis dan berulang – ulang menurut cara dan aturan tertentu dengan intensitas, frekuensi, lama tertentu untuk mencapai kinerja yang diinginkan sesuai jenis pekerjaan seseorang.
3) Penyuluhan kesehatan masyarakat
Penyuluhan penting agar regulasi Diabetes Melitus mudah tercapai dan komplikasi Diabetes Melitus dapat ditekan frekuensi dan beratnya.
(1) Beberapa hal yang perlu dijelaskan pada penderita diabetes melitus adalah:apa penyakit Diabetes Melitus itu, cara diet yang benar, kesehatan mulut, latihan ringan, sedang teratur setiap hari, tidak boleh latihan berat berbahaya, baik bagian bawah ankle jaint atau daerah bawah sepatu, potong kuku, tersandung, luka, tidak boleh menahan kencing atau retensio urine memudahkan infeksi saluran kencing.
(2) Media penyuluhan kesehatan masyarakat meliputi: televisi, kaset video, diskusi kelompok, poster, leafet dan sebagainya.
(3) Prinsip dalam penyuluhan kesehatan masyarakat adalah beri dukungan, nasehat positif dan hindari kecemasan, beri informasi secara bertahap, mulai dari hal yang sederhana baru yang kompleks, pakai alat Bantu dengar pandang, lakukan pendekatan pasien dengan memberi pengobatan sederhana, jangan memaksakan tujuan pada pasien, lakukan motivasi dengan cara memberi penghargaan dan mendiskusikan hasil tes laboratorium.
4) Cangkok pangkreas dibagi 2 yaitu : pankreas total atau dengan tanpa Duodenum, pancreas segmental atau hanya karpus dan kauda pankreas
5) Obat
Menurut PERKENI (2006) obat dalam terapi Diabetes Mellitus, sebagai berikut:
(1) Obat Hipoglikemik oral atau OHO
Berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 4 golongan, yaitu pemicu sekresi insulin atau insulin secretagogue = sulfonylurea danglinid, penambah senstivitas terhadap insulin = metformen, tiazolidindin, asorbsi glukosa = penghambat glukosidase alfa.
(2) Insulin
Pemberian insulin diperlukan pada keadaan : penurunan berat badan yang cepat, hiperglikemia berat yang disertai ketosis, ketoasidosis diabetik, hiperglikemia hiperosmolar non ketotik, Hiperglikemia dengan asidosis laktat, gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir maksimal, stres berat seperti infeksi sistemik, operasi besar, IMA atau infark miokart akut, stroke, kehamilan dengan Diabetes Melitus gestasional yang telah terkendali dengan perencanaan makan, gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat, kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih obat hipoglikemia oral: dosis dimulai dengan dosis rendah, lalu dinaikkan secara bertahap, harus diketahui betuk, bagaimana cara kerja, lama kerja dan efek samping obat tersebut, bila memberikannya bersama obat lain, pikirkan kemungkinan adanya interaksi obat, pada kegagalan sekunder terhadap obat hipoglikemia oral golongan lain, bila gagal, baru beralih kepada insulin, usahakan agar harga obat terjangkau pasien.
Tabel 2.1 Kriteria pengendalian Diabetes Melitus
Komponen Baik Sedang Buruk
Glukosa darah plasma
vena (mg/dl)
- Puasa, 80-109 110-139 > 140
- 2 JPP 110-159 160-199 > 200
Hb AIC (%) 4-6 6-8 > 8
Kolesterol total (mg/dl) < 200 200-239 > 240
Koleterol LDL
- Tanpa PJK < 130 130-159 > 160
- Dengan PJK < 100 100-129 >130
Kolesterol HDL (mg/dl) > 45 35-45 > 35
Triglisarida (mg/dl)
- Tanpa PJK < 200 < 200 – 249 > 250
- Dengan PJK < 150 < 150 – 199 > 200
BMI / IMT
- Wanita 18,5-23,9 23-25 > 25 atau <18,5
- Pria 20-24,9 25-27 > 27 atau < 20
Tekanan darah (MmHg) < 140/90 140-160/90-95 > 160/95
Sumber : Arif Mansjoer (1999)

Konsep Status Gizi

2.3 Konsep Status Gizi
2.3.1 Pengertian
Status gizi ada tanda-tanda/ penampilan yang diakibatkan oleh keadaan keseimbangan antar gizi di satu pilihan dan pengeluaran oleh organisme di pihak lain (Supriasa IDN, 2003 : 18)

2.3.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Adalah
Menurut Supriasa IDN, (2003 : 25), factor-faktor yang mempengaruhi status gizi adalah
1) Faktor langsung terdiri dari asupan makanan dan penyakit.
2) Faktor tidak langsung terdiri ekonomi, pertanian, budaya, pendidikan, kebersihan lingkungan dan fasilitas kesehatan

2.3.3 Penilaian Status Gizi
Menurut Supriasa IDN, (2003 : 25) penyebab status gizi dibagi menjadi 2 yaitu
2.3.3.1 Penilaian Secara Tidak Langsung
1) Survei Konsumsi
Metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi.
2) Statistik Vital
Menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umum. Angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi.
3) Faktor ekologi
Bingo mengungkapkan malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat bergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah dan irigasi.
2.3.3.2 Penilaian secara langsung
1) Antropometri
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam penguasaan dimensi tubuh manusia dan komposisi dari umur dan tingkat gizi. Parameter pada antropometri adalah umur, berat badan dan tinggi badan. Menurut Supriasa IDN,(2003 : 60) penggolongan keadaan gizi pada orang dewasa dengan menggunakan indikasi masa tubuh yaitu kurus bila indeks masa tubuh kurang dari 17,0 sampai 18,5. Normal bila indeks masa tubuh dari 25,0 sampai lebih dari 27,0. Sedangkan indeks masa tubuh diukur dengan rumus :
Indeks masa tubuh :
2) Biokimia
Yaitu dengan pemeriksaan spesimen yang diuji secara labolatoris dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh, jaringan tubuh yang dipergunakan antara lain : darah, urine, tinja dan juga berbagai jaringan tubuh lainnya seperti hati dan otot.

3) Biofisis
Metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi dan melihat perubahan dari jaringan.

Konsep Masa Nifas

2.2 Konsep Masa Nifas
2.2.1 Pengertian
Masa nifas dimulai setelah kelahiran placenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil berlangsung kira-kira 6 minggu (Saifuddin AB., 2002).
Masa nifas mulai setelah partus selesai, dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu, akan tetapi alat genetalia baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan (Sarwono P, 1999).

2.2.2 Masa Nifas
Menurut Saifuddin AB (2002) masa nifas dibagi menjadi 3 periode yaitu :
1) Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan.
2) Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.
3) Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan atau tahunan.

2.2.3 Tujuan Asuhan Nifas
Menjaga kesehatan ibu dan bayi, baik fisik maupun psikologi. Melaksanakan skrening yang komprehenship, mendeteksi masalah, mengobati merujuk bila terjadi komplikasi, memberikan penyuluhan tentang perawatan diri dan nutrisi, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat serta memberikan pelayanan Keluarga Berencana (Saifuddin AB., 2002).

2.2.4 Perubahan Yang Terjadi Pada Masa Nifas
2.2.4.1 Perubahan Fisik
Perubahan fisik yang terjadi pada masa nifas meliputi :
1) Suhu Tubuh, selama 24 jam pertama dapat meningkat sampai 380c sebagai akibat efek dehidrasi persalinan. Setelah 24 jam wanita harus tidak demam (Bobak, 2005).
2) Denyut Nadi, denyut nadi dan volume sekuncup serta curah jantung tetap tinggi selama jam pertama setelah bayi lahir. Kemudian mulai menurun dengan frekwensi yang tidak diketahui. Pada minggu ke-8 sampai ke-10 setelah melahirkan, denyut nadi kembali ke frekwensi sebelum hamil (Bobak, 2005). Nadi berkisar antara 60 sampai 80 kali per menit, segera setelah partus terjadi bradikardi (Hanifa Hanifa Wiknjosastro, 1999).
3) Tekanan Darah, tekanan darah sedikit berubah atau menetap. Hipotensi ortostatik, yang diindikasikan oleh rasa pusing dan seakan ingin pingsan segea setelah berdiri, dapat timbul dalam 48 jam pertama. Hal ini merupakan akibat pembengkakan limpa yang terjadi setelah wanita melahirkan (Bobak, 2005). Penurunan tekanan segera setelah persalinan sering terjadi akibat kehilangan darah yang berlebihan. Pada umumnya beberapa kasus ditemukan keadaan hipertensi post partum, tetapi akan menghilang dengan sendirnya apabila tidak terdapat penyakit-penyakit lain yang menyertainya dalam kurang lebih 2 bulan tanpa pengobatan (Hanifa Wiknjosastro, 1999).
4) Pernafasan, yaitu Pernafasan berada pada batas normal, teratur, cukup dalam, dengan frekuensi kurang lebih 18 kali per menit. Apabila pernafasan tidak teratur, dangkal, berbunyi, frekuensi rendah atau tinggi menunjukkan keadaan jantung dan paru-paru tidak normal (Bobak, 2005).
2.2.4.2 Involusio Alat-alat Kandungan
Menurut Bobak (2005) involusio alat-alat kandungan yang dialami oleh ibu nifas adalah :
1) Involusio, yaitu perubahan yang merupakan proses kembalinya alat kandungan atau uterus dan jalan kelahiran setelah bayi dan plasenta dilahirkan hingga mencapai keadaan seperti belum hamil. Proses involusi terjadi karena adanya autolysis atau penghancuran jaringan. Otot-otot uterus yang tumbuh karena adanya hiperplasi, dari jaringan otot yang membesar menjadi lebih panjang sepuluh kali dan menjadi lima kali lebih tebal dari waktu hamil, dan akan susut kembali mencapai keadaan semula.
2) Aktivitas Otot-otot, merupakan adanya kontraksi dan retraksi dari otot-otot setelah anak lahir, untuk menjepit pembuluh darah dan pecah karena adanya pelepasan plasenta dan berguna untuk mengeluarkan isi uterus yang tidak diperlukan.
3) Ischemia, yaitu kekurangan darah pada uterus. Kekurangan darah bukan saja disebabkan karena adanya kontraksi dan retraksi yang cukup lama tetapi juga disebabkan oleh pengurangan aliran darah yang ke uterus dalam masa hamil. Karena uterus membesar menyesuaikan dengan pertumbuhan janin untuk memenuhi kebutuhannya darah banyak dialirkan ke uterus, agar uterus dapat mengadakan hypertrophy dan hyperplasi.
Ketiga faktor tersebut saling mempengaruhi dengan yang lainnya dalam proses involusi uterus.
2.2.4.3 Uterus Secara Berangsur-Angsur Menjadi Kecil Atau Involusi Sehingga Akhirnya Kembali Seperti Sebelum Hamil.
Tabel 2.1 Tinggi Fundus Uteri dan Berat Uterus Menurut Masa Involusi
Involusi Tinggi Fundus Uteri Berat Uterus
Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram
Uri lahir 2 jari bawah pusat 750 gram
1 minggu Pertengahan pusat simpisis 500 gram
2 minggu Tidak teraba di atas simpisis 350 gram
6 minggu Bertambah kecil 50 gram
8 minggu Sebesar normal 30 gram
Sumber : Bobak, 2005

2.2.4.4 Bekas Implantasi Uri
Tempat implantasi placenta bisa mengecil karena kontraksi dan menonjol ke kavum uteri dengan diameter 7,5 cm. Sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm, pada minggu ke enam 2,4 cm dan akhirnya pulih (Bobak, 2005).
1) Rasa Sakit atau After Pains, mules-mules yang disebabkan kontraksi rahim, biasanya berlangsung 2 sampai 4 hari pasca persalinan (Bobak, 2005).
2) Lochea yaitu cairan sekret yang berasal dari dalam kavum uteri dan vagina dalam masa nifas.

Menurut Bobak (2005) lochea yang keluar dari ibu nifas setelah bayi lahir adalah :
1) Lochea rubra (crueta), mengandung darah dan debris desidua serta debris trofoblastik, terjadi selama 2 hari pasca persalinan.
2) Lochea serosa, aliran darah menyembur menjadi merah muda atau coklat. Cairan ini terdiri dari darah lama, serum leukosit dan debris jaringan, terjadi setelah 3 sampai 4 hari.
3) Lochea alba, cairan berwarna kuning sampai putih yang mengandung leucosyt, desidua, sel epitel, mukus, serum, dan bakteri. Terjadi 10 hari setelah bayi lahir sampai dua sampai enam minggu setelah bayi lahir.
2.2.4.5 Serviks
Menurut Bobak (2005) setelah persalinan bentuk serviks agak menganga seperti corong berwarna merah kehitaman. Konsistensi lunak, kadang-kadang terdapat pelukaan-pelukaan kecil. Setelah bayi lahir, tangan masih bisa masuk rongga rahim, setelah 2 jam dapat dilalui 2 sampai 3 jari dan setelah 7 hari hanya dapat dilalui 1 jari.
2.2.4.6 Vagina dan perineum
Vagina yang semula sangat teregang akan kembali secara bertahap ke ukuran sebelum hamil, enam sampai 8 minggu setelah bayi lahir. Rugae akan kembali terlihat pada sekitar minggu ke empat, walaupun tidak akan semenonjol pada wanita nulipara, pada umumnya rugae akan memipih secara permanen. Mukosa tetap atrofik pada wanita menyusui sekurang-kurangnya sampai menstruasi dimulai kembali, penebalan mukosa vagina terjadi seiring pemulihan fungsi ovarium (Bobak, 2005).
2.2.4.7 Topangan otot panggul
Menurut Bobak (2005) struktur penopang uterus dan vagina bisa mengalami cedera sewaktu melahirkan dan masalah gynekologi dapat timbul dikemudian hari. Jaringan penopang dasar panggul yang terobek atau teregang saat ibu melahirkan memerlukan waktu sampai enam bulan untuk kembali ke tonus semula.

2.2.5 Kebutuhan Dasar Masa Nifas
Kebutuhan dasar pada masa nifas meliputi :
2.2.5.1 Aktivitas
Sebaiknya ibu-ibu post partum dapat melakukan ambulasi dini setelah kondisi fisiknya mulai membaik. Ambulasi dilakukan secara bertahap yaitu :
1) Miring kanan atau miring kiri setelah 2 jam post partum
2) Duduk sendiri setelah 6 sampai 8 jam post partum
3) Berjalan setelah 12 jam post partum
Mobilisasi di atas mempunyai variasi tergantung pada komplikasi persalinan nifas dan sembuhnya luka (Bobak, 2005).
2.2.5.2 Istirahat
Istirahat disini bukan berarti istirahat fisiknya saja melainkan juga mental. Maka ibu harus terhindar dari masalah-masalah yang menyebabkan tidak tenang. Kebutuhan istirahat tidur pada masa nifas antara 8-10 jam sehari (Bobak, 2005).
2.2.5.3 Nutrisi dan Cairan
1) Pengertian
Nutrisi adalah zat kimia baik organik dan anorganik yang terdapat dalam makanan dan dibutuhkan untuk menajalankan fungsi tubuh (Bobak, 2005).
2) Fungsi utama nutrisi
(1) Menyediakan energi utama proses dan pergerakan tubuh yang bermasalah terhadap nutrisi
(2) Menyediakan struktur material untuk jaringan tubuh seperti tulang dan otot.
(3) Mengatur proses tubuh, sejumlah energi yang dihasilkan oleh nutrisi atau makanan disebut nilai kalori, energi dibutuhkan untuk : Aktivitas muskular, sekresi kelenjar, mempertahankan potensial membran saraf dan serabut otot, sintesa zat dalam sel, untuk absorsi makanan dalam GI (Bobak, 2005).
Menurut Saifuddin AB (2002) makanan dan minuman merupakan faktor penting dalam pemulihan kondisi tubuh serta pembentukan dan pengelaran air susu ibu. Maka diperlukan nutrisi tambahan dan tidak ada pembatasan cairan yang masuk. Ibu yang menyusui seharusnya :
1) Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari.
2) Makanan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup.
3) Minum sedikit 3 litar setiap hari.
4) Minum pil zat besi untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin.
3) Kebutuhan nutrisi ibu nifas
Tabel 2.2 : Kebutuhan nutrisi ibu nifas
No Zat gizi Ibu nifas Wanita dewasa
1.
2.
3. Energi (kkal)
Protein (g)
Besi (mg) 220 + 700
48 + 16
26 + 1 22 - 00
45
26
Sumber : Saifudin AB,( 2001: 124)
2.2.5.4 Perawatan Payudara
Perawatan buah dada dilakukan setelah bayi dilahirkan dengan tujuan agar laktasi dapat berjalan lancar. Puting susu perlu mendapat perhatian pada fissura. Karena yang kering kemungkinan bertumpuk dan mengiritasi puting susu (Saifuddin AB., 2002).
2.2.5.5 Perawatan Vulva
Menurut Bobak (2005) perawatan vulva dan perineum pada ibu nifas meliputi :
1) Bersihkan perineum dengan sabun ringan dan air hangat minimal sekali sehari
2) Bersihkan dari simfisis pubis sampai daerah anus
3) Gunakan pembalut dari daerah depan ke belakang untuk melindungi permukaan pembelut dari kontaminasi
4) Bungkus pembalut yang kotor dan buang di tempat sampah yang tertutup.
5) Ganti pembalut setiap kali ibu buang air kecil dan defekasi atau setidaknya empat kali sehari.
6) Cuci tangan sebelum dan sesudah mengganti pembalut.
7) Kaji jumlah dan tanda lokhea setiap penggantian pembalut
2.2.5.6 Latihan
Dengan dilakukan latihan dapat mengembalikan otot-otot perut dan panggul. Latihan yang dilakukan beberapa menit setiap hari akan dapat bermanfaat (Saifuddin AB., 2002).
2.2.5.7 Eliminasi Uri
Menurut Hanifa Wiknjosastro (1999) kebutuhan eliminasi uri hendaknya dapat dilakukan sendiri setelah 6 jam pasca persalinan. Jika ibu belum dapat kencing spontan, lakukan rangsangan pada kandung kencing dengan menyiram vulva dengan air hangat dan dingin secara bergantian. Sedangkan eliminasi alvi atau buang air besar harus dilakukan selambat-lambatnya 3 sampai 4 hari pasca persalinan. Bila sulit buang air besar dan terjadi obstipasi dapat diberikan obat laksans per oral atau per rektal.
2.2.5.8 Penggunaan Keluarga Berencana
Pasangan suami istri sebaiknya harus menunggu kurang lebih 2 tahun untuk hamil kembali. Masa post partum merupakan saat yang paling baik untuk pemasangan alat kontrasepsi (Hanifa Wiknjosastro, 1999).
1) Kontrasepsi Pascapersalinan, pada umumnya klien pasca persalinan ingin menunda kehamilan berikutnya paling sedikit 2 tahun lagi, atau tidak ingin tambahan anak lagi. Konseling tentang keluarga berencana atau metode kontrasepsi sebaiknya diberikan sewaktu asuhan antenatal maupun pascapersalinan (Saifuddin AB., 2002).


2) Anjuran ibu pascapersalinan
Menurut Saifuddin A.B (2002) hal yang dianjurkan ibu pascapersalinan, diantaranya: Memberi ASI eksklusif atau hanya memberi ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai berusia 6 bulan. Sesudah bayi berusia 6 bulan diberi makanan pendamping ASI dengan pemberian ASI diteruskan sampai anak berusia 2 tahun. Tidak menghentikan ASI untuk mulai suatu metode kontrasepsi. Metode kontrasepsi pada klien menyusui dipilih agar tidak mempengaruhi ASI atau kesehatan bayi
3) Saat mulai menggunakan kontrasepsi
Menurut Saifuddin A.B (2002) waktu mulai kontrasepsi pascapersalinan tergantung dari status menyusui, yakni: Klien menyusui: Klien menyusui tidak memerlukan kontrasepsi pada 6 minggu pascapersalinan. Pada klien pascapersalinan menyusui, masa infertilitas lebih lama, namun kembalinya kesuburan tidak dapat diperkirakan. Klien tidak menyusui: Klien tidak menyusui umumnya akan mendapat kembali haid dalam 4-6 minggu pascapersalinan, kurang lebih1/3 berupa siklus ovulatori, oleh karena itu kontrasepsi harus dimulai pada waktu atau sebelum hubungan seksual pertama pascapersalinan. Karena masalah pembekuan darah masih terdapat pada 2-3 minggu pascapersalinan, kontrasepsi kombinasi jangan dimulai sebelum 1 minggu pascapersalinan. Sebaliknya kontrasepsi progestin dapat segera dimulai pascapersalinan karena metode tersebut tidakmeningkatkan resiko masalah pembekuan darah.

2.2.5.9 Hubungan Suami Istri
Secara fisik aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri begitu darah merah berhenti. Tetapi budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri masa waktu tertentu 40 hari atau 6 minggu setelah melahirkan (Saifuddin AB., 2002).

2.2.6 Perawatan Masa Nifas
2.3.6.1 Tujuan Perawatan Nifas
Menurut Hidayat Aziz Alimul , (2006) tujuan perawatan pada masa nifas adalah
1) Mencegah infeksi, meningkatkan penyembuhan jaringan, involusi uterus dan meningkatkan kenyamanan.
2) Meningkatkan istirahat, aktivitas dan keamanan, serta mencegah komplikasi dan imobilisasi.
3) Meningkatkan asupan makanan dan cairan yang adekuat
4) Meningkatkan pembentukan laktasi atau supresinya.
5) Memenuhi kebutuhan belajar ibu, kebersihan diri, perawatan perineal, perawatan payudara, latihan peregangan otot, hubungan seksual dan kontrasepsi.
6) Meningkatkan rasa percaya diri serta penurunan stress.
7) Mendorong untuk mempertahankan kesehatan melalui penggunaan sumber-sumber kesehatan yang ada di masyarakat.
Menurut Hidayat Alimul Azis, (2006) hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
1) Keadaan umum ibu : suhu, nadi, tensi.
2) Albumin dan oedema.
3) Involusi uterus.
4) Perawatan luka perineum.
5) Perawatan payudara.
6) Penyuluhan gizi ibu nifas, imunisasi, senam nifas dan kebersihan diri
2.3.6.2 Asuhan Nifas 6 Hari Setelah Persalinan
Menurut Saifuddin AB (2002) asuhan nifas 6 hari setelah persalinan yang dilakukan adalah :
1) Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal dan tidak ada bau.
2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal.
3) Memastikan ibu mendapatkan cukup makan cairan dan istirahat.
4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak memperlihatkan tanda-tanda penyulit.
5) Memberi konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat dan menjaga bayi tetap hangat, dan merawat bayi sehari-hari.

Konsep Personal Hygiene

2.5 Konsep Personal Hygiene
2.5.1 Pengertian
Personal hygiene berasal dari bahasa Yunani yaitu personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat. Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis (Tarwoto Wartonah, 2006:78)
2.5.2 Tujuan personal hygiene
1) Meningkatkan derajat kesehatan seseorang
2) Memelihara kebersihan diri seseorang
3) Memperbaiki personal hygiene yang kurang
4) Pencegahan penyakit
5) Meningkatkan percaya diri seseorang
6) Menciptakan keindahan
2.5.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi personal hygiene
1) Body Image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya karena adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli terhadap kebersihannya.
3) Status sosioekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, sampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya.
7) Kondisi fisik
Pada keadaan sakit tentu kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.
2.5.4 Dampak pada personal hygiene
1) Dampak Fisik
Gangguan fisik yang sering terjadi adalah gangguan kebersihan diri pada anak.
2) Dampak psikologi
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan mencintai dan dicintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri, dan gangguan interaksi sosial.
2.4.5 Prinsip-prinsip kebersihan
Kebersihan adalah persoalan yang sangat penting dan mengikuti nilai dan kenyataan seseorang. Kebersihan dipengaruhi oleh kultural, sosial dan faktor individu itu sendiri sama pentingnya dengan pengetahuan tentang kesehatan dan kebersihan dan persepsi dari kesehatan dan individu (Kozier Barbara, 2000).
Dalam penelitian ini prinsip kebersihan dapat meliputi perawatan terhadap kulit, rambut, kuku, kerapian pakaian dan sarana yang dipakai personal hygiene. Prinsip kebersihannya adalah:
1) Kulit
Membersihkan kulit pada umumnya dengan cara mandi. Pada saat mandi dipergunakan sabun mandi yang mengandung banyak lemak nabati. Sabun detergen jarang digunakan untuk mandi karena sifatnya iritan. Dalam memilih dan memakai sabun, make up, deodorant dan shampoo hendaknya tidak menimbulkan rasa perih. Kulit bayi mudah terluka dan terkena infeksi, maka harus dibersihkan dan dimandikan dengan hati-hati. Kulit anak lebih tahan terhadap trauma dan infeksi, walaupun demikian harus sering dibersihkan karena kebiasaan anak dalam bermain kurang bersih.
Biasanya ada dua macam kategori mandi yang dilakukan pada pasien yaitu: mandi membersihkan diri dan mandi therapeutic. Mandi membersihkan diri digunakan untuk menjaga kebersihan diri dan mandi therapeutic digunakan untuk terapi pengobatan seperti untuk meringankan iritasi kulit atau pengobatan beberapa area tubuh (Kozier Barbara, 2000).

2) Kuku
Kuku kaki hendaknya dipotong rapi dan jangan sampai melukai daging tempat tumbuh kuku. Merawat kuku kaki yang tumbuh ke dalam terutama pada orang lanjut usia dan pasien yang peredaran darahnya terganggu atau diabetes mellitus mungkin memerlukan bantuan dokter atau perawat. Pada manusia yang biasanya kukunya mungkin rapuh dan bertekuk-tekuk, sebaiknya direndam dahulu sebelum dipotong. Prinsip kebersihan menurut Kozier Barbara (2000) adalah:
(1) Gunakanlah sepatu yang cocok atau sesuai dengan ukuran kaki, sehingga tidak menimbulkan gesekan. Gesekan dapat mengiritasi dan melukai kaki, untuk menulis ukuran yang dipakai disarankan dilebihkan 2,5-5 cm.
(2) Bersihkan kuku kaki setiap hari dan keringkan dengan baik.
(3) Untuk mencegah infeksi bakteri, cuci kaki secara teratur dan ganti kaos kaki dan sepatu secara rutin. Deodoran khusus kaki juga sangat membantu.
(4) Gunakan kaos kaki kering setiap hari dan hindari memakai kaos kaki basah.
3) Rambut
Rambut tumbuh pada seluruh permukaan tubuh kecuali pada telapak tangan, telapak kaki dan beberapa bagian dai genital (Kozier Barbara, 2000). Rambut yang sehat mengkilap tapi tidak berminyak berlebihan, tidak kering atau mudah rontok.
Pertumbuhan rambut tergantung dari keadaan umum tubuh. Banyak penyakit yang dapat membuat pertumbuhan rambut kurang baik seperti panas dan malnutrisi. Pertumbuhan ini terjadi karena rambut memperoleh makanan dari pembuluh darah di sekitar rambut.
Bila rambut tidak dibersihkan, rambut menjadi kotor dan debu melekat pada rambut. Orang yang banyak bekerja di tempat yang berdebu, membutuhkan pembersihan rambut yang sering. Pada rambut yang tidak bersih akan menjadi sarang kutu kepala.
Cara perawatan rambut menurut (Kozier Barbara, 2000) antara lain:
(1) Mencuci rambut harus memilih shampoo yang cocok, mencuci rambut dilakukan 1-2 kali seminggu atau menurut kebutuhan.
(2) Untuk kerapian, rambut dipangkas dan disisir.
(3) Untuk merangsang pertumbuhan rambut dapat dilakukan dengan memijat pada waktu membersihkan rambut.
4) Kebersihan dan kerapian pakaian
Pakaian adalah kebutuhan pokok manusia selain makan dan tempat berteduh atau tepat tinggal (rumah) (www.cni.co.id). Manusia membutuhkan pakaian untuk melindungi dan menutup dirinya. Namun seiring dengan perkembangan kehidupan manusia, pakaian juga digunakan sebagai simbol status, jabatan, ataupun kedudukan seseorang yang memakainya. Berbagai jenis pakaian tergantung pada adat-istiadat, kebiasaan, dan budaya dimana masing-masing bangsa memiliki ciri khas tersendiri.
Agar pakaian tetap nyaman dipakai, kita harus merawat pakaian tersebut dengan baik karena pakaian yang kita kenakan renta sekali terkena bakteri atau kuman seiring aktivitas kita di luar. Ajarkan anak untuk berganti pakaian dengan teratur, biasakan mengganti pakaian sesampainya dirumah setelah pulang sekolah atau berpergian karena keringat akan menempel pada pakaian setelah dipakai aktivitas.
Pakaian yang sebaiknya digunakan terbuat dari katun sehingga mudah menyerap keringat sebaiknya hanya dipakai satu kali saja. Jika diperlukan daerah lipatan badan dapat diberi bedak hal ini mencegah keringat dan mengurangi kemungkinan dermatitis kontak atau alergi. (Manuaba IBG, 2002:189). Ganti pakaian tiap 2 kali sehari atau sesuai kebutuhan, pakaian jangan terlalu ketat dan bahan pakaian dipilih kain yang menyerap keringat, warna dan mode bentuk disesuaikan kesopanan dan estetika.
Pencetusan kuman antara lain:
1) Keringat
Kelenjar keringat aprokin menghasilkan keringat yang mengandung lemak. Kelenjar ini terutama terdapat pada ketiak dan sekitar alat kelamin, aktivitas kelenjar dapat menghasilkan bau karena aktivitas bakteri yang memecah komponen organik dari keringat yang dihasilkan.
2) Debu
Terdiri dari partikel-partikel kecil yang membentuk debu. Diantaranya serat tekstil, jamur, sisa makanan, kapuk, kecoak, dan tungau. Tungau adalah sumber utama debu yang menyebabkan alergi, debu akan menempel pada pakaian sepanjang hari dan menyebabkan iritasi pada kulit.
3) Memegang hewan pemeliharaan
Bulu hewan pemeliharaan penuh dengan kuman penyakit yang cepat menempel pada pakaian dan dengan cepat menyebar keseluruhan tubuh.

4) Bermain
Sudah menjadi kebiasaan anak-anak untuk menebarkan cairan tubuh dari keringat , liur, ingus, buang air, bahkan tetesan darah. Namun itu bukan alasan melarang mereka bermain di luar ruangan, anti pakaian anak setelah bermain.
Agar keluarga kita tetap sehat dan jauh dari kuman atau bakteri hal yang harus kita perhatikan sebelum kebersihan seluruh bagian di sekitar kita adalah kebersihan pakaian yang menempel dibadan kita. Kita harus menjamin pakaian yang kita kenakan bersih dan bebas kuman dan untuk mendapatkan pakaian bersih dan bebas kuman kita harus mencuci pakaian kita dengan menggunakan detergent yang mengandung anti bakteri.
Tunjukkan kepada anak akan arti “kebersihan” dengan membiasakan anak gar meletakkan pakaian kotornya yang ketempat pakaian kotor. Jika anak hipersensitif pilihlah pakaian dengan berbahan yang dapat menyerap keringat dan tidak membuat gatal. Hindari penggunaan pakaian yang berbahan wol.
5) Sarana yang dipakai dalam personal hygiene
Air atau hidrosfer menutupi sekitar 71 % dari permukaan bumi (Slamet Juli Soemirat, 2004) lingkungan air bersih luasnya sehingga sangat berpengaruh terhadap iklim. Sumber air tawar dapat diperkirakan kualitas dan kuantitasnya secara sepintas. Sumber itu antara lain: permukaan yang merupakan air sungai dan danau, air tanah yang tergantung kedalamannya bisa disebut air tanah dangkal atau air tanah dalam, air angkasa yaitu air yang berasal dari atmosfer seperti hujan dan salju (Slamet Juli Soemirat, 2004).

Konsep Anak Sekolah

2.3 Konsep Anak Sekolah
2.3.1 Pengertian anak
Menurut UU No. 4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan anak dikutip dari Suprajitno (2004). Anak sekolah adalah seseorang yang mencapai umur 6 sampai 12 tahun.
2.3.2 Ciri-ciri anak usia sekolah dasar
Menurut Suprajitno (2004:60) akhir masa kanak-kanak memiliki beberapa ciri antara lain:
1) Label yang di gunakan oleh orang tua
(1) Usia yang menyulitkan dimana suatu masa ketika anak tidak mau lagi menuruti perintah dan ketika anak lebih dipengaruhi oleh teman sebaya dari pada oleh orang tua dan anggota keluarga lain.
(2) Usia tidak rapi, suatu masa ketika anak cenderung tidak memperdulikan dan ceroboh dalam penampilan
(3) Usia bertengkar, suatu masa ketika banyak terjadi pertengkaran antara keluarga dan suasana rumah yang tidak menyenangkan bagi semua anggota keluarga.
2) Label yang digunakan pendidik/guru
(1) Usia sekolah dasar adalah suatu masa ketika anak diharapkan memperoleh dasar pengetahuan yang dianggap penting untuk keberhasilan penyesuaian diri.
(2) Periode kritis dalam berprestasi merupakan suatu masa ketika anak mencapai sukses, tidak sukses atau sangat sukses.
3) Label yang digunakan oleh ahli psikologi
(1) Usia berkelompok merupakan suatu masa ketika perhatian utama tertuju pada keinginan diterima oleh teman sebaya sebagai anggota kelompok.
(2) Usia penyesuaian diri adalah suatu masa ketika anak ingin menyesuaikan dengan standar yang disetujui oleh kelompok dalam penampilan, berbicara dan perilaku.
(3) Usia kreatif merupakan suatu masa ketika akan ditentukan apakah anak akan menjadi konfimis.
(4) Usia bermain merupakan suatu masa ketika besarnya keinginan bermain karena luasnya minat dan kegiatan untuk bermain.
2.3.3 Perkembangan usia sekolah, menurut Suprajitno (2004:62)
1) Perkembangan biologis
Saat usia dasar pertumbuhan rerata 5 cm per tahun untuk tinggi badan dan meningkat 2 sampai 3 kg per tahun untuk berat badan. Pada usia ini pembentukan jaringan lemak lebih cepat perkembangannya dari pada otot.
2) Perkembangan psikososial
Menurut Ericson perkembangan psikososialnya berada dalam tahap industri inferior. Dalam tahap ini anak mampu melakukan dam menguasai ketrampilan yang bersifat teknologi dan sosial. Tahap ini sangat dipegang faktor instrinsik (motivasi, kemampuan, tanggung jawab untuk memiliki, interaksi dengan lingkungan dan teman sebaya) dan faktor ekstrinsik (penghargaan yang didapat, stimulus dan keterlibatan orang lain).
3) Temperamen
Sifat temperamen yang dialami sebelumnya merupakan faktor terpenting dalam perilaku pada masa ini. Pada usia ini temperamen sering muncul sehingga peran orang tua dan guru sangat besar untuk mengendalikannya, yang perlu diperhatikan orang tua adalah menjadi figur dalam sehari.
4) Perkembangan kognitif
Menurut Peaget usia ini berada dalam tahap operasional konkret yaitu anak mengekspresikan apa yang dilakukan dengan verbal dan simbol. Selama periode ini kemampuan anak belajar konseptual mulai meningkat dengan pesat dan memiliki kemampuan belajar dari benda, situasi dan pengalaman yang dijumpai.
5) Perkembangan moral
Pada masa akhir kanak-kanak perkembangan moralnya dikategorikan oleh Kohlberg berada dalam tahap konvensional. Pada tahap ini anak mulai belajar tentang peraturan-peraturan yang berlaku, menerima peraturan.
6) Perkembangan spiritual
Anak usia sekolah menginginkan segala sesuatu adalah konkret atau nyata dari pada belajar tentang agama. Mereka lebih tertarik terhadap surga dan mereka sehingga cenderung akan melakukan atau mematuhi peraturan, karena takut bila masuk neraka.
7) Perkembangan bahasa
Pembicaraan yang dilakukan dalam hidup ini lebih terkendali dan terseleksi karena anak menggunakan pembicaraan sebagai komunikasi.
8) Perkembangan sosial
Akhir masa kanak-kanak sering disebut usia berkelompok yang ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota kelompok.
9) Perkembangan seksual
Masa ini anak mulai belajar tentang seksualnya dan teman-temannya, mengembangkan minat-minat sesuai dengan dirinya.
10) Perkembangan konsep diri
Perkembangan konsep diri sangat dipengaruhi oleh mutu hubungan dengan orang tua, saudara dan sanak keluarga lainnya. Saat ini anak-anak membentuk konsep diri yang ideal.
2.3.4 Masalah anak usia sekolah dasar
Menurut Suprajitno (2004:66) masalah –masalah yang sering terjadi pada anak usia ini meliputi bahaya fisik dan psikologi antara lain:
1) Bahaya fisik
(1) Penyakit
Penyakit infeksi pada usia ini jarang sekali terjadi, penyakit yang sering ditemui adalah penyakit yang berhubungan dengan kebersihan diri anak.
(2) Kegemukan
Kegemukan terjadi bukan karena adanya perubahan pada kelenjar tapi akibat banyaknya karbohidrat yang dikonsumsi sehingga anak kesulitan mengikuti kegiatan bermain, sehingga kehilangan kesempatan untuk mencapai ketrampilan yang penting untuk keberhasilan sosial .
(3) Kecelakaan
Kecelakaan terjadi akibat keinginan anak untuk bermain yang menghasilkan ketrampilan tertentu.
(4) Kecanggungan
Pada masa ini anak mulai membandingkan kemampuannya dengan teman sebaya bila muncul perasaan tidak mampu dapat menjadi dasar untuk rendah diri.
(5) Kesederhanaan
Kesederhanaan sering dilakukan oleh anak-anak pada masa apapun. Orang yang lebih dewasa memandangnya sebagai perilaku yang kurang menarik, sehingga anak menafsirkan sebagai penolakan yang dapat mempengaruhi perkembangan konsep diri pada anak.
2) Bahaya Psikologi
(1) Bahaya dalam berbicara
Kesalahan dalam berbicara seperti salah ucap dan kesalahan bahasa, cacat dalam bicara seperti gagap atau pelat, akan membuat anak menjadi sadar diri sehingga anak hanya berbicara bila perlu saja.
(2) Bahaya emosi
Anak masih menunjukkan pola-pola ekspresi emosi yang kurang menyenangkan seperti marah yang meledak-ledak, cemburu sehingga kurang disenangi orang lain.

(3) Bahaya konsep diri
Anak mempunyai konsep diri yang ideal, biasanya merasa tidak puas pada diri sendiri dan pada perlakuan orang lain. Anak cenderung berprasangka dan bersikap diskriminatif dalam memperlakukan orang lain.
(4) Bahaya yang menyangkut minat
Tidak minat pada hal-hal yang dianggap penting oleh teman sebaya dan mengembangkan
2.3.5 Kebutuhan anak usia dasar
1) Menurut Soetjiningsih (1998), anak tidak bisa memperjuangkan nasibnya sendiri, mereka sangat lemah, mereka menderita akibat distribusi sumber daya yang tidak merata sehingga mereka sangat tergantung bagaimana kita memberikan perhatian khusus terhadap kebutuhan mereka, kebutuhan dasar anak antara lain:
(1) Pendidikan dasar
Meningkatkan kesempatan belajar untuk anak, pendidikan dimulai sejak dini dilanjutkan dengan pendidikan dasar untuk meningkatkan kecerdasan bangsa.

2) Menurut Nelson (1999), kebutuhan anak antara lain:
(1) Keberhasilan atau hygiene dan sanitasi lingkungan
Hygiene merupakan kebutuhan anak karena bila kebersihan anak kurang maka akan mempengaruhi tumbuh kembangnya dan rentan terhadap penyakit.

2.4 Konsep Perilaku Anak Usia Sekolah
Menurut Soekidjo Notoatmojo (2003), Usia 6-12 tahun anak sudah memiliki dunia sekolah yang lebih serius walaupun ia tetap seorang anak dengan dunia yang khas, masa ini ditandai dengan perubahan dalam kemampuan dan perilaku. Pertumbuhan dan perkembangan anak membuatnya lebih siap untuk belajar dibanding sebelumnya, anak jiga mengembangkan keinginan untuk melakukan berbagai hal dengan baik bahkan bila mungkin enggan sempurna. Karakteristik anak usia sekolah jelas berbeda dengan anak prasekolah sehingga orang tua perlu melakukan pendekatan yang berbeda disbanding sebelumnya ketika anak masih duduk di Taman Kanak-Kanak. Karena waktu anak sekarang lebih banyak dilewatkan diluar rumah sehingga orang tua khwatir anak tercemar pengaruh yang tidak diinginkan dan perkembangan anak sekolah meliputi perkembangan kognitif dan sosial emosi.
1). Perkembangan Kognitif
Anak usia 10-12 tahun atau praremaja sudah mulai menggunakan logikanya Karen amereka sudah mahir berhitung dan kemampuan ini dapat diterapkan dalam kehidupan setiap hari. Mereka juga mulai bisa diberi pengertian untuk menghemat dengan memberitahukan secara garis besar pemasukan dan pengeluaran keluarga setiap bulan anak juga semakin mamapu merencanakan perilaku yang terorganisir, temasuk menerima rencana atau tujuan beraktivitas dan menghubungkan pengetahuan serta tindakan dalam rencana tesebut. Perkembangan kognitif pada akhir usia sekolah adalah pencapaian prestasi dan sebagian anak juga memiliki motivasi yang amat tinggi untuk mencapai sukses dan berusaha keras untuk mencapainya.
2). Perkembangan Sosial Emosi
Akhir usia sekolah anak sudah memiliki kemampuan untuk mengontrol dirinya dalam berempati dan merefleksi dirinya terhadap perilaku dan interaksinya. Menurut piaget anak usia praremaja mulai belajar melihat dunia luar dari kacamata mereka sendiri karena masalah yang dihadapi saat anak duduk dikelas 4, 5, dan 6 Sekolah Dasar pada umumnya adalah kesulitan berhubungan dengan orang dewasa selain anggota keluarganya. Persaingan dapat memberi pengaruh positif bagi perkembangan sosial ekonomi anak karena saat anak duduk dikelas 4-6 SD anak telah memandang kegagalan atau keberhasilannya dengan penuh percaya diri.

Konsep orang tua

2.1.1 Pengertian
Orang tua bisa di sebut sebagai orang tua karena ia memainkan dua peran sekaligus dalam kehidupan di dunia ini yaitu peran sebagai orang tua dan peran sebagai anak (Muhydin Muhammad, 2003:93).
2.1.2 Peran orang tua
2.1.2.1 Menurut Muhydin Muhammad (2003:40):
Adalah peran yang harus di mainkan oleh orang tua dalam konteksnya sebagai ayah dan ibu bagi anaknya. Peran itu adalah:
1) Pengasuh
Mengasuh anak lebih diorientasikan sebagai pengawal dalam memantau perkembangan anak.
2) Pendidik
Mendidik anak berkaitan dengan sosialisasi nilai-nilai kepada anak
3) Pembelajaran
Pembelajaran terhadap anak erat kaitannya dengan tubuh kembang pembebasan dan pendewasaan anak.
2.1.2.2 Menurut Nasrul Effendi (1998:34) peran orang tua adalah:
1) Peran Ayah
Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung, dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
2) Peran Ibu
Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
2.1.2.3 Macam-macam peran keluarga
Menurut Friedman (1998:290) peran keluarga adalah sebagai berikut
1) Peran Formal
Peran ini berkaitan dengan setiap posisi formal keluarga, antara lain sejumlah perilaku yang kurang lebih bersifat homogen. Keluarga mempunyai peran secara merata kepada para anggota keluarga seperti cara masyarakat membagi perannya.
2) Peran Informal
Peran informal bersifat ancaman yang tidak tampak dan memainkan hanya untuk memenuhi kebutuhan emosional individu dan untuk menjaga keseimbangan dalam keluarga.
Macam peran informal antara lain:
(1) Pendorong/ motivator
Dalam anggota keluarga ada yang dapat merangkul orang lain dan membuat mereka merasa bahwa pemikiran mereka penting dan bernilai untuk didengar.
(2) Inisiator
Dalam anggota keluarga ada salah satu individu yang dapat mengemukakan dan mengajukan ide baru.
(3) Dominator
Dimana dalam keluarga da salah satu individu yang memegang peran sebagai pemegang kekuasaan dan superioritas mengambil suatu keputusan.
(4) Sahabat
Dalam keluarga salah satu individu yang berperan sebagai tempat mengadu dan tempat bermain keluarga.
(5) Koordinator
Dalam keluarga ada yang berperan mengorganisasikan kegiatan keluarga.
2.1.3 Kewajiban Orang Tua Kepada anak
Menurut Burhanuddin Salam (2000:198), Kewajiban orang tua kepada anak adalah:

1) Menjaga keselamatan anak
Dimulai sejak dalam kandungan rahim ibunya, anak memerlukan perhatian sehingga anak dapat tubuh dan berkembang dengan optimal.
2) Mendoakan keselamatan anak
Orang tua berkewajiban untuk mendoakan keselamatan anak agar menjadi anak yang shaleh dan terhindar dari kecelakaan.
3) Mengakikahkan anak
Pada hari ketujuh dari bulan kelahiran bayi, di sembelih kambing sebagai akikah, dicukur rambut bayi dan diberi nama yang baik.
4) Menyusui dan memberi makan
Selama lebih 2 tahun anak disusukan oleh ibunya dan seterusnya. Orang tua berkewajiban memberi makan secara wajar menjelang dimana masanya sudah dapat dilepas oleh pihak orang tua untuk berdiri sendiri.
5) Memberi kiswah atau pakaian dan tempat tidur yang layak.
6) Mengkhitankan
7) Memberikan ilmu
Memberikan ilmu berarti mengajar sendiri secara langsung maupun memasukkan anak ke dalam salah satu lembaga pendidikan.
8) Menikahkan anak
Orang tua mempunyai kewajiban untuk menikahkan anaknya apabila sudah mencapai baligh atau dewasa.

Konsep BAB di Sembarang Tempat

2.2.1 Pengertian
Buang Air Besar atau berak sembarang tempat merupakan membuang kotoran di bawah pohon, di semak-semak, atau di sungai. (Dinkes, 2001:1). Yang akan dapat menimbulkan dampak buang air besar di sembarang tempat:
1) Menjadi transmisi atau media penyebaran berbagai penyakit terutama typus, disentri, kolera. 2) Menjadi perkmbangbiaknya mikroorganisme patogen.
3) Menjadi tempat perkembangbiakannya lalat, kecoa, dan sebagainya
4) Menimbulkan bau yang tidak enak serta pandangan yang tidak sedap.
5) Mengotori permukaan air tanah.
2.2.2 Syarat Pembuangan Kotoran .(Entjang Indan, 2002:58)
1) Tidak boleh mengotori tanah permukaan, 2). Tidak boleh mengotori air permukaan. 3). Tidak boleh mengotori air dalam tanah. 4).Kotoran tidak boleh terbuka sehingga dapat dipakai tempat lalat bertelur atau perkembangbiakan vektor penyakit lainnya. 5). Kakus harus terlindung dari penglihatan orang lain. 6). Pembuatannya mudah dan murah
2.2.3 Bangunan Kakus
1) Rumah Kakus: agar pemakai terlindung 2). Lantai Kakus: sebaiknya ditembok agar mudah di bersihkan, 3) Slab (tempat kaki memijak waktu si pemakai jongkok), 4) Closet (lubang tempat faeces masuk). 5) Pit (sumur penampungan faeces = cubluk, 6) Bidang resapan.
2.2.4 Cara Pembuangan Kotoran
Menurut aturan kesehatan, perlu pula diketahui tentang perombakan excreta itu di alam. Excreta yang jatuh di tanah akan mengalami perombakan oleh bakteri-bakteri saprophyt. Hasil perombakannya sebagian berbentuk gas seperti: CO2, NH3, H2S, CH4 dan sebagiannya yang akan menguap ke udara. Sisanya berbentuk zat-zat organik sederhana dan air yang akan meresap ke dalam tanah. Karena proses perombakan ini, volume sisa excreta yang tertinggal menjadi sangat susut, sehingga pit tempat penampungannya tidak cepat penuh.
Pada proses perombakan ini dihasilkan pula asam, alkohol dan panas. Panas, asam-asam dan zat-zat organik lainnya akan menghambat pertumbuhan dan membunuh bakteri-bakteri pathogen. Karena itu bakteri-bakteri pathogen tak akan tahan hidup lebih lama dari dua bulan cubluk.
Telur cacing Ascaris tahan sampai tiga bulan, telur cacing tambang (Ankylostoma) tahan sampai lima bulan. Zat organik dan mineral yang terjadi sebagai hasil akhir dari perombakan ini merupakan yang baik sekali untuk tumbuh-tumbuhan.
2.2.5 Macam-Macam Kakus
1) Pit-privy (Cubluk)
Kakus ini dibuat dengan jalan membuat lubang ke dalam tanah dengan diameter 80-120 cm sedalam 2,5 sampai 8 meter. Dindingnya diperkuat dengan batu/bata, dapat ditembok ataupun tidak, agar tidak mudah ambruk.
Lama pemakaiannya antara 5-15 tahun. Bila permukaan excreta sudah mencapai + 50 cm dari permukaan tanah, dianggap cubluk sudah penuh. Cubluk yang penuh ini ditimbun dengan tanah. Tunggu 9-12 bulan. Isinya digali kembali untuk pupuk, sedangkan lubangnya dapat dipergunakan kembali. Sementara yang penuh ditimbun, untuk defaecatie dibuat cubluk yang baru.
Macam kakus ini harus diperhatikan:
(1) Jangan diberi desinfektans karena mengganggu proses pembusukan sehingga cubluk cepat penuh.
(2) Untuk mencegah bertelurnya nyamuk tiap minggu diberi minyak tanah.
(3) Agar tak terlalu bau diberi kapur barus.
2) Aqua-privy (Cubluk Berair)
Terdiri dari bak yang kedap air, diisi air di dalam tanah sebagai tempat pembuangan excreta. Proses pembusukannya sama seperti halnya pembusukan faeces dalam air kali. Untuk kakus ini agar berfungsi dengan baik, perlu pemasukan air setiap hari, baik sedang dipergunakan atau tidak. Macam kakus ini hanya baik dibuat di tempat yang banyak air. Bila airnya penuh, kelebihannya dapat dialirkan ke sistim lain misalnya sistim, seepage pit (sumur resapan) ataupun cesspool.
3) Wassailed latrine (Angsa-trine)
Kakus ini bukanlah merupakan type kakus tersendiri tapi hanya modifikasi closetnya saja. Pada kakus ini closetnya berbentuk leher angsa sehingga akan selalu terisi air. Fungsi air ini gunanya sebagai sumbat sehingga bau busuk dari cubluk tidak tercium di ruangan rumah kakus.
Bila dipakai, faces-nya tertampung sebentar dan bila disiram air, baru masuk ke bagian yang menurun untuk masuk ke tempat penampungannya (pit). Keuntungan kakus macam ini:1) Baik untuk masyarakat kota karena memenuhi syarat aesthetis (keindahan). 2) Dapat ditempatkan di dalam rumah karena tidak bau sehingga pemakaiannya lebih praktis. 3) Aman untuk anak-anak.
4) Bored hole latrime
Sama dengan cubluk hanya ukurannya lebih kecil karena untuk pemakaian yang tidak lama, misalnya untuk perkampungan sementara. Kerugiannya: Bila air permukaan banyak mudah terjadi pengotoran tanah permukaan (meluap).
5) Bucket latrine (Pail Closet)
Faces ditampung dalam ember atau bejana lain dan kemudian dibuang ditempat lain, misalnya untuk penderita yang tak dapat meninggalkan tempat tidur.
6) Trench Latrine
Dibuang lubang dalam tanah sedalam 30-40 cm untuk tempat daefacatie. Tanah galiannya dipakai untuk menimbuninya.
7) Chemical Toilet (Chemical Closet)
Kakus ini semacam rumah-rumahan dibuat di atas kolam, selokan, kali, rawa dan sebagainya.
Kerugiannya: Faeces mengotori air permukaan sehingga bibit penyakit yang terdapat di dalamnya dapat tersebar kemana-mana dengan air, yang dapat menimbulkan wabah.
8) Chemical Toilet (Chemical Closet)
Faeces ditampung dalam suatu bejana yang berisi caustic soda sehingga dihancurkan sekalian didesinfeksi. Bisanya dipergunakan dalam kendaraan umum, misalnya: pesawat udara atau dalam kereta api. Dapat pula digunakan dalam rumah. Sebagai pembersih tidak dipergunakan air, tetapi dengan kertas (toilet paper).

Konsep Pengetahuan

2.1 Konsep Pengetahuan
2.1.1 Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap obyek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). (Notoatmodjo S, 2005:50)
Pengetahuan merupakan hasil penginderaan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga), dan indera penglihatan (mata), pengetahuan seseorang terhadap obyek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda (Notoatmodjo S, 2005:50)
2.1.2 Tingkat Pengetahuan di Domain Kognitif
Secara garis besarnya ada 6 tingkat pengetahuan seseorang yaitu :
1) Tahu atau Know
Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Misalnya, penyakit demam berdarah ditularkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypty. Untuk mengukur bahwa orang tahu sesuatu dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan. Misalnya, Bagaimana cara melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN-DBD) dan sebagainya.
2) Memahami atau Comprehension
Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut. Misalnya, orang yang memahami cara pemberantasan penyakit demam berdarah, bukan hanya sekedar menyebutkan 3 M (mengubur, menutup, dan menguras), tetapi harus dapat menjelaskan mengapa harus mengubur, menutup, dan menguras tempat penampungan air tersebut.
3) Aplikasi atau Application
Aplikasi diartikan sebagai orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain. Misalnya, seseorang yang paham tentang pencegahan demam berdarah, ia akan senantiasa dengan pola hidup bersih dan seterusnya.
4) Analisis atau Analysis
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut telah dapat membedakan, atau memisahkan, mengelompokkan, membuat diagram terhadap pengetahuan atas objek tersebut. Misalnya, dapat membedakan antara nyamuk Aedes Aegypty dengan nyamuk biasa dan sebagainya.

5) Sintesis atau Synthesis
Menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada. Misalnya, dapat membuat atau meringkas dengan kata-kata atau kalimat sendiri tentang hal-hal yang telah dibaca atau didengar, dapat membuat kesimpulan tentang artikel yang telah dibaca.
6) Evaluasi atau Evaluation
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. Misalnya, seseorang dapat menilai manfaat dari 3M (mengubur, menutup dan menguras) dan sebagainya. (Notoatmodjo S, 2005:52)

Konsep Dasar Keluarga

Konsep Dasar Keluarga
2.1.1 Pengertian keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Dep Kes RI, 1988) yang dikutip dalam buku karangan (Nasrul Effendy, 2002)
2.1.2 Keluarga single parent
Keluarga single parent adalah satu orang tua yang mengasuh anak yang memiliki peran ganda karena suami dan istri tidak tinggal serumah disebabkan oleh kematian pasangan atau perceraian (Elizabeth, 1995)
Pada awal masa hidup anak kehilangan ibu jauh lebih merusak dari pada kehilangan ayah karena pengasuhan anak dialihkan ke sanak saudara yang menggunakan cara mendidik anak yang berbeda dengan ibunya dan mereka jarang memberi perhatian dan kasih sayang yang sebelumnya mereka peroleh dari ibunya, semakin bertambahnya usia, kehilangan ayah sering lebih serius dari pada kehilangan ibu terutama bagi anak laki-laki. Ibu memiliki peran ganda di rumah tangga dan bekerja di luar sehingga ibu kekurangan waktu untuk mengasuh anak akibatnya mereka merasa di abaikan dan merasa benci. Kehilangan ayah berarti merka tidak mempunyai sumber identifikasi sebagaimana teman mereka dan mereka tidak senang tunduk pada wanita di rumah sebagaimana halnya di sekolah (Elizabeth, 1995).
2.1.3 Peran keluarga single parent
Setiap kelompok keluarga di hubungkan dengan peran-peran terkait. Suami-ayah di harapkan menjadi pencari uang, salah satu peran yang mungkin dimilikinya. Istri-ibu dipandang sebagai pengurus rumah tangga. Dalam keluarga dengan orang tua tunggal, ibu biasanya memainkan peran sebagai ibu-ayah tanpa peran dari suami. Alam keluarga dengan orang tua tiri suami biasanya memainkan peran suami-ayah, tapi karena anak-anak secara biologis bukan anaknya maka peran ayah merupakan peran pura-pura (peran tersebut kurang kristalisasi) (Marylin, M. Friedman, 1998)
Peran keluarga dibagi menjadi 2 yaitu :
1) Peran formal
Keluarga membagi peran secara merata kepada para anggota keluarga menurut bagaimana pentingnya pelaksanaan peran bagi fungsinya. Ada peran yang membutuhkan keteranpilan dan kemampuan tertentu, ada peran lain yang tidak terlalu kompleks dapat di delegasikan kapada orang yang kurang terampil atau kurang mampu. Peran formal yang standar terdapat dalam keluarga seperti pencari nafkah, model peran seks, pendidik, pelindung, ibu rumah tangga, tukang perbaiki rumah, sopir, pengasuh anak, manager keuangan dan tukang masak. Jika dalam keluarga hanya terdapat sedikit orang yang memenuhi peran ini maka lebih banyak tuntutan dan kesempatan bagi anggota keluarga untuk memeran beberapa peran dalam waktu yang berbeda (Murray dan Zentner, 1975, 1985 dikutip oleh Marilyn M. Friedman, 1998)
2) Peran informal keluarga
Peran informal keluarga bersifat implisit biasanya tidak tampak ke permukaan dan dimainkan hanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan emosional individual (Satir, 1967). dan/atau untuk menjaga keseimbangan dalam keluarga.
Peran-peran informal mempunyai tuntutan yang berbeda tidak terlalu di dasarkan pada usia, jenis kelamin, dan lebih didasarkan pada atribut-atribut personalitas/kepribadian anggota individual. Dengan demikian seorang, anggota keluarga mungkin menjadi penegah berupa mencari penyelesaian apabila ada anggota keluarga yang konflik. Yang lain mungkin tampil sebagai pelipur yang memberikan hiburan dan keceriaanpada kesempatan-kesempatan yang bahagia, perasaan humor sangat di perlukan pada saat krisis dan distress. Peran-peran lain ada dan muncul ketika kebutuhan-kebutukan keluarga berubah atau bertukar. Dalam bekerja dengan keluarga, sadar akan peran-peran informal dapat mempermudah pandangan tehadap sifat masalah yang dihadapi dan solusi yang tapat. Pelaksanaan peran-peran informal yang efektif dapat mempermudah pelaksanaan peran-peran formal. (Marilyn M. Friedman, 1998)
2.1.4 Peran-peran keluarga dengan orang tua tunggal
Dua ciri peran yang menonjol dari keluarga ini adalah 1) Peran yang berlebihan dan konflik-konflik peran, 2) Perubahan-perubahan peran dalam keluarga dengan. Orang tua tunggal harus menjalankan peran sebagai ibu maupun ayah, disamping itu kurang dapat dukungan dari suatu hubungan perkawinan. Orang tua tunggal cenderung di bebani dengan konflik-konflik dengan berbagai komitmen peran karena mereka memiliki tugas ganda yang harus di terima.
Kebanyakan orang tua tunggal yang juga bekerja maka di temukan adanya tekanan menyangkut pekerjaan maupun peran dan menurunnya tingkat keadaan sehat (Barden, 1986). Keluarga dengan orang tua tunggal bersifat merusak karena begitu banyak bukti bahwa tidak adanya seorang ayah dalam sebuah keluarga mempunyai efek buruk terhadap pendidikan anak dan prestasi dalam pekerjaan (Mouer dkk, 1988 dikutip oleh Marilyn M. Friedman, 1998). Pengaruh guru terhadap kepribadian anak nomor dua setelah orang tua, seperti pengasuh ruang kelas nomor dua setelah rumah tangga karena kepribadian guru lebih penting dari pengatahuan atau kecakapan mengajarnya (Elizabeth, 1995)
2.1.5 Variabel-variabel yang mempengaruhi struktur peran
2.1.5.1 Perbedaan-perbedaan kelas sosial yaitu : 1) Keluarga-keluarga kelas bawah, peran-peran keluarga sudah tentu di pengaruhi oleh tuntutan-tuntutan dan kepentingan yang ada pada keluarga. Dengan demikian, dengan demikian, dalam berespon terhadap “Pengabaian halus” keluarga-keluarga miskin, keluarga-keluarga kelas bawah dari kelompok etnis beraneka macam adaptasi peran keluarga telah berkembang menjadi alat untuk memecahkan masalah-masalah kambuhan dan isu-isu yang muncul dari posisi kelas mereka yang tidak menguntungkan. 2) Peran-peran perkawinan, beberapa studi telah menemukan bahwa perkawinan di kalangan kaum kelas bawah cenderung kurang memberikan perasaan bersahabat di bandingkan dengan perkawinan di kalangan kelas menengah. Selanjutnya peran terapeutik keluarga cendrung menipis atau bahkan tidak ada. 3) Peran-peran parental, fokus dari parenting dalam keluarga miskin adalah terletak pada pencapaian pemeliharaan fungsi menyediakan nafkah bagi anak, menjamin mereka agar mereka makan, istirahat yang cukup, mandi dan pergi ke sekolah pada waktunya dan terletak pada penegakan aturan dan disiplin di rumah (Besmer, 1967). 4) Peran Kakak/Adik, mendapat arti yang penting sebagai suatu socializing agent (pelaku yang bersosialisasi) jauh di bawah yang kelihatan dalam kelas menengah. Jika terjadi kegagalan berkomunikasi diantara orang tua dan anak-anak, sub sistem kakak/adik cenderung adanya ekspresi posisi terhadap kontrol parental (Basmer, 1967). 5) Keluarga pekerja dan keluarga kelas menengah, Keluarga-keluarga pekerja cenderung memiliki peran-peran keluarga yang lebih didasarkan pada tradisi dari peran-peran dari keluarga kelas menengah dan keluarga kelas menengah suami lebih berkuasa dalam peransebagai kepala keluarga. Dalam keluarga kelas ini kurang sekali adanya perencanaan secara bersama-sama dan hubangan perencanaan yang merata.
2.1.5.2 Bentuk-bentuk keluarga
1) Peran-peran dalam keluarga dengan orang tua tunggal
Dua ciri yang menonjol dalam keluarga ini adalah : 1) Peran yang berlebihan dan konflik-konflik peran. 2) Perubahan-perubahan peran dalam keluarga orang tua tunggal
2) Peran-peran dalam keluarga dengan orang tua tiri
Dalam sebuah studi mendasar Fast dan Cain (1966) mengidentifikasi tumpang tindih peran sebagai masalah keluarga yang utama. Ayah dan ibu tiri sama bingung apakah ayah tiri harus menerima peran orang tua atau bukan orang tua.
2.1.5.3 Variasi kultur
Norma-norma dan nilai-nilai sangat mempengaruhi bagaimana peran-peran dilaksanakan dalam suatu keluarga tertentu. Pengetahuan tentang inti dari nilai-nilai, kebiasan-kebiasaan. dan tradisi-tradisi sangat penting untuk menginterprestasi apakah peran-peran keluarga dalam sebuah keluarga cocok atau tidak.
2.1.5.4 Tahap perkembangan keluarga
Agaknya jelas bahwa secara substansial, cara yang digunakan oleh keluarga untuk melaksanakan peran-peran berbeda-beda dari satu tahap siklus kehidupan keluarga ke tahap lain. Peran-peran parental merupakan sebuah contoh yang sangat jelas. Menjadi orang tua dari seorang bayi harus mampu memberikan perawatan 24 jam sementara menjadi orang tua bagi remaja, orang tau tidak boleh mengekang, sementara itu harus memberikan bimbingan dan dukungan (support), karena remaja berbeda dari keluarga.
2.1.5.5 Model-model peran
Katika seorang anggota keluarga menunjukan dan mengalami masalah-masalah peran (transisi peran dan konflik-konflik peran), maka hal yang memberikan manfaat adalah mengkaji model-model peran dari anggota keluarga.
2.1.5.6 Kejadian-kejadian situasional
Kejadian kehidupan yang berhadapan dengan keluarga, tidak bisa tidak pasti mempengaruhi berfungsinya peran mereka.Situasi ini sebenarnya merupakan kejadian yang penuh dengan stres, seperti bencana alam, pengangguran, istri-ibu yang kembali bekerja.

KONSEP REMAJA

2.3 KONSEP REMAJA
2.3.1 Pengertian remaja
Masa remaja adalah suatu tahap antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa (Anonimous, 2009). Masa remaja adalah masa yang ditandai dengan adanya berbagai perubahan, baik secara fisik maupun psikis, yang mungkin saja dapat menimbulkan problem tertentu bagi remaja. Masa remaja adalah masa transisi atau peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa (Abdul Rozak, 2006).
2.3.2 Tahap perkembangan remaja
Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan, menurut Sarlito Wirawan S (2007) ada tiga tahap perkembangan remaja:
1) Remaja awal (Early Adolescence)
Seorang remaja pada tahap ini masih terheran akan perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan yang menyertai perubahan itu. Mereka mengembangkan pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis, dia sudah berfantasi erotik. Kepekaan yang berlebihan ini ditambah dengan berkurangnya kendali “ego”. Hal ini menyebabkan para remaja awal sulit mengerti dan dimengerti orang dewasa.
2) Remaja madya (Middle adolescence)
Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan kawan. Ia senang kalau banyak teman yang menyukai. Ada kencenderungan “narcistic”, yaitu mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman yang mempunyai sifat yang sama dengan dirinya.
3) Remaja akhir (Late Adolescence)
Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal dibawah ini.
(1) Minat yang makin mantap terhadap fungsi intelek.
(2) Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang lain dan dalam pengalaman baru.
(3) Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.
(4) Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain.
(5) Tubuh “dinding” yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan masyarakat umumnya (the public).
2.3.3 Ciri masa remaja
Menurut Abdul Rozak (2006:3) mengemukakan ciri masa remaja yaitu;
1) Pertumbuhan fisik
Perubahan fisik yang terjadi pada remaja berkaitan dengan pertumbuhan dan kematangan seksual. Pertumbuhan fisik seperti menghasilkan panjang lengan dan tungkai maupun tinggi badan yang tidak selalu sesuai dengan harapan remaja dan lingkungan. Perbedaan antara harapan remaja dan lingkungan dengan keadaan fisik remaja dapat menimbulkan masalah bagi remaja sehingga sulit baginya untuk menerima keadaan fisiknya. Karena itu tugas yang harus dilakukan oleh remaja terkait dengan pertumbuhan fisik adalah bagaimana menerima keadaan fisik sebagai hasil dari pertumbuhan alami secara arif dan bijaksana dan tidak berbuat kearah yang destruktif (tindakan buruk) dari keadaan fisik tersebut.
2) Perkembangan seksual
Seksual mengalami perkembangan yang kadang menimbulkan masalah dan menjadi penyebab timbulnya pacaran, perkelahian, tindakan seks bebas, dan sebagainya. Tanda perkembangan seksual pada laki-laki diantaranya adalah perkembangan kelenjar keringat, pertumbuhan penis dan buah zakar, alat produksi spermanya mulai berproduksi, ia mengalami masa mimpi yang pertama yang tanpa sadar mengeluarkan sperma, pada lehernya mengeluarkan buah jakun yang membuat suara menjadi terpecah. Sedangkan tanda seksual pada perempuan ditandai dengan datangnya menstruasi, penimbunan lemak yang membuat buah dadanya membesar dan sebagainya. Kondisi remaja akibat perkembangan seksual tersebut telah mendorong remaja untuk saling suka dan cinta dengan lawan jenisnya.
3) Cara berpikir kausalitas
Remaja juga sudah mulai menunjukkan cara berpikir kausalitas, yaitu menyangkut hubungan sebab-akibat dan berpikir kritis. Orang tua, guru, dan masyarakat harus memperlakukan remaja sebagai individu yang mempunyai potensi berpikir. Karena itu tidak boleh orang tua, guru, dan masyarakat melakukan tindakan pemaksaan kehendak terhadap remaja, melainkan harus menerapkan cara berpikir dialogis, sehingga remaja akan merasakan keberadaan dirinya dan mendorongnya untuk melakukan aktualisasi diri secara positif.

4) Emosi yang meluap-luap
Keadaan emosi remaja masih labil karena erat hubunganya degan keadaan hormon. Suatu saat ia bisa sedih sekali, dilain waktu ia bisa marah sekali dan juga bisa gembira sekali. Emosi yang meluap-luap itu dapat mendorong remaja melakukan tindakan yang melampaui batas kepatutan dan kewajaran. Emosi remaja lebih kuat dan lebih menguasai diri mereka daripada pikiran yang realistis. Untuk itu remaja dituntut untuk dapat mengendalikan dan mengontrol emosi.
5) Bertindak menarik perhatian lingkungan
Manusia pada masa remaja mulai mencari perhatian dari lingkungan sosialnya baik orang tua, sekolah, dan masyarakat. Karena itu, remaja berusaha mendapatkan status dan peran sosial. Tindakan remaja dalam menarik perhatian lingkungan ada yang diwujudkan dalam bentuk tindakan positif seperti belajar dan berlatih denag rajin dan sungguh-sungguh untuk menjadi remaja berprestasi dalam berbagai bidang seperti menjadi siswa yang berprestasi dalam bidang akademik, juara lomba sains (fisika, kimia, dan matematika) dan sebagainya. Namun, ada pula remaja yang melakukan tindakan negatif dalam rangka menarik perhatian lingkungan, seperti melakukan tindakan perkelahian, menyalah gunakan narkoba, tindakan seks bebas, dan sebagainya. Terkait dengan itu orang tua, guru, dan masyarakat harus dapat menciptakan kondisi yang kondusif agar remaja dapat mengaktualisasikan dirinya dalam rangka menarik perhatian lingkungan sosial secara benar dan tidak melanggar norma agama, sosial, dan pemerintah. Selain orang tua, diri remaja menjadi hal yang utama dalam rangka mengendalikan dan mengontrol dirinya dalam bertindak.
6) Terkait dengan kelompok
Masa remaja dalam kehidupan sosialnya lebih tertarik dengan kelompok manusia yang sebaya dengannya. Karena itu tidak heran bila orang tua dan guru sering kali dinomorduakan oleh remaja, sedangkan teman sebayanya dinomorsatukan. Apa yang dilakukan kelompok sebaya, kemungkinan akan ditiru oleh remaja. Bila tidak mengikutinya, remaja merasa diasingkan dari kelompoknya.
2.3.4 Tugas perkembangan remaja
Menurut William Kay mengemukakan tugas-tugas perkembangan remaja itu sebagai berikut:
1) Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya
2) Mencapai kemandirian emosional dari orang tua atau figur yang mencapai otoritas
3) Mengembangkan ketrampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individu maupun kelompok
4) Menemukan manusia model yang dijadikan identitasnya
5) Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri
6) Merperkuat self-control (kemampuan mengendalikan diri) atas dasar skala nilai. Pinsip-prinsip atau falsafah hidup (weltanschauung)
7) Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri (sikap/perilaku) kekak-kanakan`

2.3.5 Masa-masa Remaja
Masa-masa remaja merupakan masa yang banyak menarik perhatian karena sifat-sifat khasnya dan perananya yang menentukan dalam kehidupan individu dalam masyarakat orang dewasa. Masa ini dapat diperinci lagi menjadi beberapa masa (Anonimous, 2009), yaitu sebagai berikut:
1) Masa remaja sebagai periode peralihan, yaitu peralihan dari masa kanak-kanak keperalihan masa dewasa.
2) Masa remaja sebagai periode perubahan.
3) Masa remaja sebagai usia bermasalah.
4) Masa remaja sebagai masa mencari identitas.
5) Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan, karena masalah penyesuaian diri dengan situasi dirinya yang baru, karena stiap perubahan membutuhkan penyesuaian diri.
6) Masa remaja sebagai ambang masa dewasa.
7) Ciri-ciri kejiwaan remaja, tidak stabil, keadaan emosinya goncang, mudah condong kepada ekstrim, sering terdorong, bersemangat, peka, mudah tersinggung, dan perhatianya terpusat pada dirinya.
2.3.6 Kebutuhan remaja
Ada beberapa kebutuhan remaja (Anonimous, 2009), yaitu:
1) Kebutuhan akan pengendalian diri
2) Kebutuhan akan kebebasan
3) Kebutuhan akan rasa kekeluargaan
4) Kebutuhan akan penerimaan sosial
5) Kebutuhan akan penyesuaian diri
6) Kebutuhan akan agama dan nilai-nilai social
2.3.7 Problem masa remaja
Problem yang mungkin timbul pada masa remaja (Anonimous, 2008) diantaranya:
1) problem berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik.
Pada masa remaja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. Keadaan fisik pada masa remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting, namun ketika keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self picture) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. Begitu juga, perkembangan fisik yang tidak proporsional. Kematangan organ reproduksi pada masa remaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapat menjurus pada penyimpangan perilaku seksual.
2) Problema berkaitan dengan perkembangan kognitif dan bahasa.
Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. Namun ketika, remaja tidak mendapatkan kesempatan pengembangan kemampuan intelektual, terutama melalui pendidikan di sekolah, maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. Begitu juga masa remaja, terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal dan mendalami bahasa asing. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana dan pra sarana, menyebabkan remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. Tidak bisa dipungkiri, dalam era globalisasi sekarang ini, penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan kariernya. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional, sosial, dan aspek perilaku dan kepribadian lainnya.
3) Problema berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial, moralitas dan keagamaan.
Masa remaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial), yang ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayanya (peer group). Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menjadikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. Namun sebaliknya apabila remaja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan dalam dirinya. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelompok sebayanya, namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya, termasuk dengan guru di sekolah. Hal ini disebabkan pada masa remaja, khususnya remaja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen, di satu sisi adanya keinginan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri, namun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua, terutama secara ekonomis. Sejalan dengan pertumbuhan organ reproduksi, hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpangan perilaku sosial dan perilaku seksual. Pada masa remaja juga ditandai dengan adanya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada, jika tidak terbimbing, mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya.
4) Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadian, dan emosional.
Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Usaha pencarian identitas pun, banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba, perilaku imitasi atau identifikasi. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya, dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion, sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. Reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya.

KONSEP DASAR BELAJAR

KONSEP DASAR BELAJAR
2.2.1 Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu usaha untuk menguasai segala sesuatu yang berguna untuk hidup (Soekidjo Notoatmodjo, 2007). Belajar merupakan proses suatu aktivitas yang menghasilkan perubahan tingkah laku baik berupa pengetahuan, keterampilan maupun sikap pada diri siswa akibat dari latihan, penyesuaian maupun pengalaman (Dadang R, 2009).
2.2.2 Tujuan Belajar
Tujuan dari belajar adalah agar manusia melakukan perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang (Abu Ahmadi, 2004).
2.2.3 Aktivitas Dalam Belajar
Menurut Abu Ahmadi (2004) ada beberapa aktivitas dalam belajar yaitu:
1) Mendengar
Mendengar adalah suatu bentuk verbal. Dalam proses belajar mengajar di sekolah sering ada ceramah/kuliah dari guru. Tugas pelajar adalah mendengarkan. Melalui pendengarannya siswa berinteraksi dengan lingkungan sehingga dirinya berkembang.
2) Memandang
Memandang merupakan stimulasi visual yang memberi kesempatan bagi seseorang untuk belajar. Tidak semua pandangan/penglihatan kita adalah belajar, karena apabila dalam diri kita tidak terdapat kebutuhan, motivasi, serta set tertentu untuk mencapai suatu tujuan, maka pandangan yang demikian tidak termasuk belajar. Apabila kita memandang segala sesuatu dengan set tertentu untuk mencapai tujuan yang mengakibatkan perkembangan diri kita, maka dalam hal demikian kita sudah belajar.
3) Meraba, Membau, dan Mencicipi/ Mengecap
Meraba, membau, mengecap adalah aktivitas sensori seperti halnya pada mendengar dan memandang. Segenap stimulasi yang dapat diraba, dicium, dan dicecap merupakan situasi yang memberi kesempatan bagi seseorang untuk belajar. Hal aktivitas meraba, membau, ataupun aktivitas mengecap dapat dikatan belajar, apabila aktivitas itu didorong oleh kebutuhan, motivasi untuk mencapai tujuan dengan menggunakan set tertentu untuk memperoleh perubahan tingkah laku.
4) Menulis/ Mencatat
Menulis/mencatat merupakan suatu aktivitas pengindraan kita yang bertujuan, akan memberikan kesan yang berguna bagi belajar kita selanjutnya. Beberapa material diantaranya terdapat didalam buku dikelas, ataupun dibuat catatan kita sendiri. Mencatat termasuk sebagian dari belajar yaitu apabila dalam mencatat itu orang menyadari kebutuhan dan tujuannya, serta menggunakan set tertentu agar catatan itu nantinya berguna bagi pencapaian tujuan belajar.
5) Membaca
Membaca adalah suatu aktivitas belajar. Membaca untuk keperluan belajar harus pula menunjukkan set. memerlukan set. Membaca dengan set misalnya dengan memulai memperhatikan judul bab, topik utama dengan berorientasi kepada kebutuhan dan tujuan. Kemudian memilih topik yang relevan dengan kebutuhan atau tujuan itu. Sementara membaca catatlah setiap pertanyaan yang muncul dalam benak kita, kalau perlu dengan alternatif jawabannya.
6) Membuat Ikhtisar atau Ringkasan dan Menggaris bawahi
Ikhtisar atau ringkasan ini memang dapat membantu kita dalam hal mengingat atau mencari kembali materi dalam buku untuk masa yang akan datang. Untuk keperluan belajar yang intensif, bagaimanapun juga hanya membuat ikhtisar adalah belum cukup. Sementara membaca, pada hal yang penting kita garis bawah (underlining). Hal ini sangat membantu kita dalam usaha menemukan kembali materi itu di kemudian hari.
7) Mengamati Tabel, Diagram, dan Bagan
Dalam buku ataupun di lingkungan lain sering kita jumpai tabel, diagram ataupun bagan-bagan. Materi non-verbal semacam ini sangat berguna bagi kita dalam mempelajari materi yang relevan itu. Demikian pula gambar, peta, dan lain-lain dapat menjadi bahan ilustratif yang membentu pemahaman kita tentang sesuatu hak.
8) Menyusun Paper atau Kertas Kerja
Dalam membuat paper, pertama yng perlu mendapat perhatian ialah rumusan topik paper itu. Dari rumusan topik itu kita akan dapat menentukan materi yang relevan. Paper yang baik memerlukan perencana yang masak dengan terlebih dulu mengumpulkan ide yang menunjang serta penyediaan sumber yang relevan.
9) Mengingat
Mengingat dengan maksud agar ingat tentang sesuatu belum termasuk sebagai aktivitas belajar. Mengingat yang didasari atas kebutuhan serta kesadaran untuk mencapai tujuan belajar lebih lanjut adalah termasuk aktivitas belajar, apalagi jika menginngat itu berhubungan dengan aktivitas belajar lainnya.
10) Berpikir
Berpikir adalah termasuk aktivitas belajar. Dengan berpikir, orang memperoleh penemuan baru, setidak-setidaknya orang menjadi tahu tentang hubungan antar-sesuatu.
11) Latihan atau Praktek
Latihan atau praktek adalah termasuk aktivitas belajar. Orang yang melaksanakan kegiatan berlatih tentunya yang dapat mengembangkan sesuatu aspek pada dirinya. Dalam berlatih atau berpraktek terjadi interaksi yang interaksi antara subjek dengan lingkungan. Hasil latihan atau praktek itu sendiri akan berupa pengalaman yang dapat mengubah diri subjek serta mengubah lingkungannya. Lingkungan berubah dalam diri anak.
2.2.4 Ciri-ciri belajar
Belajar menunjukkan perubahan dalam tingkah laku di obyek dalam situasi tertentu, sehingga menurut (Wahid iqbal Mubarok, 2007)
1) Belajar berbeda dengan kematangan, pertumbuhan adalah saingan utama sebagai pengubah tingkah laku. Bila serangkaian tingkah laku matang melalui secara wajar tanpa adanya pengaru dalam latihan, maka dapat diartikan bahwa perkembangan itu adalah berkat kematangan (maturation) dan bukan karena belajar.
2) Belajar dibedakan dari perubahan fisik dan mental, perubahan tingkah laku juga dapat terjadi yang disebabkan oleh terjadinya peubahan pada fisik dan mental dan karena melakukan sesuatu perbuatan berulang kali yang mengakibatkan badan menjadi leleh atau letih. Akan tetapi perubahan tingkah laku tersebut tidak dapat di golongkan sebagai belajar. Jadi, perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh perubahan fisik dan mental bukan atau berbeda dengan belajar dalam arti sebenarnya.
3) Ciri belajar yang hasilnya reltif menetap, hasil belajar dalam bentuk perubahan tingkah laku, tingkah laku berupa perilaku (performance) yang nyata dapat diamati (observation)
2.2.5 Jenis belajar
Menurut Wahid Iqbal Mubarok (2007) bahwa menurut A.Be Block, berpendapat bahwa sebagian berpengaruh pada pembagian aspek kepribadian yaitu:
1) Bentuk belajar menurut psikis
(1) Belajar dinamika/konatif, ciri pembelajaran ini adalah belajar berkehendak sesuatu secara wajar. Berkehendak merupakan sesuatu yang psikis, yang terarah pada pemenuhan suatu kebutuhan yang disadari dan dihayati dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
(2) Belajar afektif, cirri pembelajaran ini adalah belajar menghayati nilai dari suatu obyek yang dihadapi melalui alam perasaan yang yang diwujdkan dalam kehidupan.
(3) Belajar kognitf, yaitu belajar memperoleh dan menggunakan suatu bentuk representasi yang mewakili semua obyek yang dihadapi.
(4) Belajar senso-motorik, yaitu belajar dengan melalui: mengamati, bergerak, dan berketerampilan.
2) Bentuk belajar menurut materi yang dipelajari
(1) Belajar teoritis, bertujuan untuk menempatkan semua data dan fakta (pengetahua) dalam suatu kerangka organisasi mental, sehingga dapat digunakan untuk mencegah masalah.
(2) Belajar bermasyarakat, bertujuan mengekang dorongan dan kecenderungan spontan, demi kehidupan bersama dan memberikan kelonggaran kepada orang lain demi kehidupan bersama.
(3) Belajar estetis, bertujuan untuk membentuk kemampuan menciptakan dan menghayati keindahan diberbagai bidang kesenian.
3) Bentuk belajar yang tidak begitu disadari
(1) Belajar insedental, belajar sesuatu tanpa mempunyai intensi atau maksud untuk mempelajari hal itu, khususnya yang bersifat pengetahuan mengenai fakta dan data.
(2) Belajar dengan mencoba-coba, menanamkan suatu materi verbal didalam ingatan, sehingga nantinya dapat diproduksikan kembali secara harfiah sesuai dengan materi aslinya.
(3) Belajar tersembunyi
2.2.6 Prinsip belajar
Menurut Wahid Iqbal Mubarok (2007) prinsip belajar terbagi menjadi delapan, yakni:
1) Belajar adalah suatu pengalaman yang terjadi didalam diri pelajar yang diaktifkan oleh pelajar sendiri, yang berarti proses belajer dikontrol oleh pelajar sendiri dan bukan oleh pengajar (guru/dosen)
2) Belajar adalah penemuan diri sendiri, berarti proses pengalihan ide-ide yang behubungan dengan diri sendiri dan masyarakat sebagai pelajar dapat menetukan kebutuhan dan tujuan yang akan dicapai.
3) Belajar adalah suatu konsekuensi dari pengalaman, dimana seseorang menjadi bertanggung jawab ketika dia diserahi tanggungjawab.
4) Belajar adalah proses kerja sama dan kolaboratif, kerja sama akan memperkuat proses belajar.
5) Belajar adalah proses evolusi, bukan proses revolusi karena perubahan perilaku memerlukan waktu dan kesabaran.
6) Belajar kadang-kadang merupakan proses yang menyakitkan, karena menghedaki perubahan kebiasaan yang sangat menyenangkan dan berharga bagi dirinya yang mungkin menjadi jalan hidup/pegangan hidupnya.
7) Belajar adalah proses emosional dan intelektual, belajar dipengaruhi oleh keadaan individu pengajar secara keseluruhan.
8) Belajar bersift individual dan unik, setiap orang punya gaya belajar dan keunikan sendiri
2.2.7 Tipe belajar
Menurut wahid Iqbal Mubarok (2007) ada delapan tipe belajar yaitu:
1) Belajar isyarat (signal learning),mirip dengan “condioned respon” atau respon bersyarat, seperti menutup mulut dengan telunjuk, isarat mengambil sikap tak bicara, lambaian tangan, isyarat untuk datang mendekat. Tipe belajar seperti ini dilakukan dengan merespon/isyarat. Jadi respon dilakukan itu bersifat umum, kabur dan emosional. Biasanya belajar seperti ini tidak disadari dalam arti respon diberikan secara tidak sadar.
2) Belajar stimulus respon( stimulus responding learning), respon bersifat spesifik, tipe belajar S-R (memberikan reaksi terhadap perangsang). Jadi belajar stimulus respon sama dengan teori asosiasi (S-R bond) setiap respon diperkut dengan reinforcemen.
3) Belajar rangkaian (chaining), yaitu semacam rangkaian antara berbagai S-R yang bersifat segera. Terjadi karena rangkaian motorik, seperti gerakan dalam mengikat sepatu, makan/minum, atau gerakan verbal. Hasil belajar biasanya memberikan reaksi verbal dan stimulus/perangsang.
4) Asosiasi verbal (verbal asosiation), suatu kalimat “piramida itu berbangun limas “ adalah contoh asosiasi verbal. Hubungan/asosiasi verbal terbentuk bila unsur-unsurnya terdapat dalam urutan tertentu dan yang satu mengikuti yang lain.
5) Belajar diskriminasi (discrimination learning), konsep merupakan simbol berpikir. Hal ini diperoleh dari hasil tafsiran terhadap fakta atau realita dan hubungan antara berbagai fakta, kemampuan membentuk konsep ini terjadi bila orang dapat melakukan diskriminasi. Hasi belajar yang memberikan reaksi yang berbeda pada stimulus yang mempunyai kesamaan/kemiripan.
6) Belajar konsep (consept learning), konsep merupakan simbol berpikir. Hal ini diperoleh dari hasil tafsiran terhadap fakta atau realita dan hubungan antara berbagai fakta. Kemampuan membentuk konsep ini terjadi bila orang dapat melakukan diskriminasi hasil belajar menempatkan obyek dalam kelompok tertentu.
7) Belajar aturan (rule learning), hukum, dalil, atau rumus adalah rule (aturan). Tipe belajar ini banyak terdapat dalam semua pelajaran di sekolah, seperti benda memuai bila dipanaskan. Belajar aturan ternyata mirip dengan “verbal clining” rangkaian verbal) terutama bila aturan itu tidak diketahui artinya. Hasil belajar yaitu menghubungkan beberapa konsep.
8) Belajar pemecahan masalah (problem solving), upaya pemecahan masalah dilakukan dengan menghubungkan berbagai aturan yang relevan dengan masalah ini, pemecahan masalah adalah biasa dalam kehidupan yang memerlukan pemikiran. Kesanggupan memecahkan masalah memperbesar kemampuan untuk memecahkan masalah lain. Hasil belajarnya yaitu menggabungkan beberapa kaidah menjadi prinsip pemecahan.
2.2.8 Faktor Yang Mempengaruhi Belajar
1) Motivasi untuk belajar
2) Jumlah saudara
3) Ekonomi
4) Budaya
5) Peran orang tua
6) Lingkungan (teman sebaya)

MOTIVASI

Konsep Motivasi
2.1.1 Pengertian Motivasi
Motivasi adalah kekuatan, baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditentukan sebelumnya. Atau dengan kata lain, motivasi dapat diartikan sebagai dorongan mental terhadap perorangan atau orang-orang sebagai anggota masyarakat. Motivasi dapat juga diartikan sebagai proses untuk mencoba mempengaruhi orang atau orang-orang yang dipimpinnya agar melakukan pekerjaan yang diinginkan, sesuai dengan tujuan tertentu yang ditetapkan lebih dahulu (Hamzah, 2007). Motivasi itu mempunyai arti dorongan berasal dari bahasa latin Movere yang berarti mendorong/menggerakkan. Motivasi inilah yang mendorong seseorang unuk berperilaku beraktifitas dalam pencapaian tujuan (Tri rusmi w, 1999). Motivasi adalah suatu proses yang menghasilkan suayu intensitas, arah, dan ketekunan individual dalam usaha untuk mencapai tujuan (Anonimous, 2008)

2.1.2 Teori Motivasi
Menurut Tri Rusmi W (1999) mengemukakan teori motivasi yaitu;
1) Teori Hedonisme yaitu motivasi yang berhubungan dengan senang atau gembira
2) Teori Naluri yaitu motivasi atau didalam diri manusia
3) Teori kebudayaan yaitu motivasi yang akan menimbulkan prilaku berbudaya
4) Teori motivasi berdasarkan kebutuhan (Abraham Maslow)
5) Motivasi itu merupakan motor perilaku seseorang/individu
6) Semakin kuat motivasi seseorang, maka semakin cepat dalam memperoleh tujuan dan kepuasan
2.1.3 Bentuk Motivasi
Menurut Tri Rusmi W (1999) mengemukakan Bentuk motivasi yaitu;
1) Motivasi instrinsik atau motivasi yang datangnya dari dalam diri individu itu sendiri.
2) Motivasi ekstrinsik yaitu motivasi yang datangnya dari luar individu
3) Motivasi terdesak yaitu motivasi yang muncul dalam kondisi terjepit dan munculnya serentak serta menghentak dan cepat sekali munculnya pada prilaku aktivitas seseorang
4) Motivasi yang berhubungan dengan idiologi politik, ekonomi, sosial dan budaya (ipoleksosbud) dan Hankam yang sering menonjol adalah motivasi sosial karena individu itu memang mahluk social

2.1.4 Proses terjadinya motivasi
Menurut Tri Rusmi W (1999) mengemukakan motivasi itu ada atau terjadi karena adanya kebutuhan seseorang yang harus segera dipenuhi untuk segera beraktivitas segera mencapai tujuan. Motivasi sebagai motor penggerak maka bahan bakarnya adalah kebutuhan.
2.1.5 Faktor yang mempengaruhi terhadap motivasi
Menurut Tri Rusmi (1999) mengemukakan faktor yang mempengaruhi terhadap motivasi diantaranya sebagai berikut;
1) Faktor phisik dan proses mental
2) Faktor hereditas, lingkungan dan kematangan atau usia
3) Faktor instrinsik seseorang
4) Fasilitas (sarana dan prasarana)
5) Situasi dan kondisi
6) Program dan aktivitas
2.1.6 Cara menigkatkan motivasi
1) Dengan teknik verbal
(1) Berbicara untuk membangkitkan semangat
(2) Pendekatan pribadi
(3) Diskusi dan sebagainya
2)Teknik tingkah laku (meniru, mencoba, menerapkan)
3) Teknik intensif dengan cara mengambil kaidah yang ada
4) Supertisi (kepercayaan akan sesuatu secara logis, namun membawa keberuntungan)
5) Citra/image yaitu dengan immagenasi yang tinggi maka individu termotivasi
2.1.7 Jenis motivator
Manusia sifatnya unik sehingga untuk memotivasi satu dengan yang lain tidak harus sama. Melalui pemahaman tentang hierarki kebutuhan maslow, kita dapat mengetahui jenis-jenis motivator. Individu memiliki hierarki kebutuhan yang menentukan tindakanya. Sekali kebutuhan paling dasar dipuaskan, individu akan termotivasi untuk mecapai kebutuhan berikutnya. Menurut Abraham C. dan shanley F.(1997), jenis motivator secara umum adalah uang, penghormatan, tantangan, pujian, kepercayaan atasan, lingkungan kerja yang menarik, jam kerja yang fleksibel, promosi, persahabatan, pengakuan, penghargaan, kemandirian, lingkungan yang kreatif, bonus/hadia, ucapan terimakasih, dan keyakinan dalam bekerja (Sunaryo, 2004)
2.1.8 Cara memotivasi
Menurut Sunaryo (2004) ada beberapa cara yang dapat diterapkan untuk memotivasi seseorang, yaitu:
1) Memotivasi dengan kekerasan (motivating by force), yaitu cara memotivasi dengan menggunakan ancaman hukuman atau kekerasan agar yang dimotivasi dapat melakukan apa yang harus dilakukan.
2) Memotivasi dengan bujukan (motivating by enticement), yaitu cara memotivasi dengan bujukan atau memberi hadiah agar melakukan sesuatu sesuai harapan yang memberikan motivasi.
3) Memotivasi dengan indentifikasi (motivating by indentivication or ego-involvement), yaitu cara memotivasi dengan menanamkan kesadaran sehingga individu berbuat sesuatu karena adanya keinginan yang timbul dari dalam dirinya sendiri dalam mencapai sesuatu.
2.1.9 Peran Motivasi Dalam Belajar Dan Pembelajaran
Menurut Hamzah B (2007) ada beberapa peranan motivasi dalam belajar dan pembelajaran, antara lain:
1) Peran motivasi dalam menentukan penguatan belajar
Motivasi dapat berperan dalam penguatan belajar apabila seorang anak yang belajar dihdapkan pada suatu masalah yang memerlukan pemecahan, dan hanya dapat dipecahkan berkat bantuan hal-hal yang pernah dilaluinya.
2) Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar
Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar erat kaitannya dengan kemaknaan belajar. Anak akan tertarik untuk belajar sesuatu, jika yang dipelajari itu sedikitnya sudah dapat diketahui atau dinikmati manfaatnya bagi anak.
3) Motivasi menentukan ketekunan belajar
Seorang anak yang telah termotivasi untuk belajar sesuatu, akan berusahan mempelajarinya dengan baik dan tekun, dengan harapan memperoleh hasil yang lebih baik. Dalam hal itu, tampak bahwa motivasi untuk belajar menyebabkan seseorang tekun belajar. Sebaliknya, apabila seseorang kurang atau tidak memiliki motivasi untuk belajar, maka dia tidak tahan lama belajar. Dia mudah tergoda untuk mengerjakan hal yang lain dan bukan belajar. Itu berarti motivasi sangat berpengaruh terhadap ketahanan dan ketekunan belajar.