Namun, rendahnya kesadaran masyarakat ditambah padatnya penduduk di bantaran sungai mengakibatkan sungai semakin parah tercemar. Misalnya, di Sungai Cikapundung. Masyarakat di sepanjang sungai tersebut sebagian besar masih menggunakan sungai sebagai tempat pembuangan limbah. Baik secara langsung atau melalui pipa yang menjulur dari dapur atau WC mereka. Belum lagi masalah sampah. Contohnya bungkus produk makanan dari kertas, kaleng, styrofoam dan plastik, bekas produk seperti sepatu, sandal dan pakaian, bahkan sampai kasur bekas! Sampah dari Sungai Cikapundung akan berkumpul di muara sungai. Dan masuk ke aliran Sungai Citarum, bertemu dengan sampah dari sungai-sungai lain. Tidak heran, jika sampah di Sungai Citarum dihitung jumlahnya bisa sama dengan sampah di TPA.
Kesadaran masyarakat untuk menjaga sungai, memang memprihatinkan, termasuk di kota besar yang masyarakatnya sudah banyak yang terpelajar. Berdasarkan data dari BPLHD Jawa Barat, sekitar 85% masyarakat Kota Bandung belum memiliki septic tank. Ditambah berdasarkan data dari Koran Kompas pada Jumat, 22 Maret 2013, 100 juta warga Indonesia ternyata belum memiliki sarana MCK yang memadai. Sehingga, kotoran langsung dibuang ke sungai.
Jika sungai tercemar, kita semua yang akan merasakan dampaknya. Pesatnya perkembangan penduduk tidak hanya meningkatkan kebutuhan terhadap air bersih, tapi juga meningkatnya kerusakan dan pencemaran lingkungan. Daerah bantaran sungai yang seharusnya menjadi daerah resapan air (water catcher) dengan ditanaminya pohon-pohon, telah beralih fungsi menjadi pemukiman warga. Dan ternyata, 49 sungai di kota Bandung telah tergolong krisis. Kenapa? Karena siklus sungai selaku pemasok air dengan volume terbanyak, telah terganggu oleh manusia.
Nah, adakah yang bisa kita lakukan bersama untuk mengatasi persoalan ini? Untuk menunjukkan keprihatinan kita akan masalah krisis sungai, tidak perlu dengan kemarahan, kekecawaan, atau saling tuding dengan orang lain karena itu semua tidak akan mengubah apapun. Jika kita ingin melakukan perubahan, misalnya untuk mengembalikan fungsi sungai sebagai sumber air baku, diperlukan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat. Salah satu caranya adalah dengan memiliki sarana MCK yang sehat dan memadai dengan sanitasi yang baik.
Ada lagi hal sederhana, yang bisa kita lakukan untuk membuat perubahan bagi lingkungan, yakni dengan perilaku sehat. Siapa yang harus menerapkan perilaku sehat ini? Tidak perlu tengok kiri kanan, tunjuk depan belakang tapi tunjuklah orang yang pertama kali kalian lihat saat bercermin. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menerapkan perilaku sehat, diantaranya :
- Mencuci tangan dengan sabun. Mengapa kita harus mencuci tangan pakai sabun? Tangan adalah organ tubuh yang paling sering bersentuhan dengan bakteri. Jika bakteri masuk melalui mulut kita, pasti kita akan mudah terserang penyakit. Oleh karena itu, cuci tangan pakai sabun adalah hal paling effektif untuk menghilangkan bakteri.
- Membuang sampah pada tempatnya dan memilah sampah sesuai jenisnya.
- Menyiram MCK setelah digunakan baik lantai maupun klosetnya.
- Menghemat penggunaan air dan listrik
- Membersihkan WC minimal 3 hari sekali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar