SELAMAT HARI KESEHATAN NASIONAL KE 50


Rabu, 21 Desember 2011

LANDASAN TEORI DAN ASKEP DRAWNING

LANDASAN
TEORI DAN ASKEP

1. Landasan Teori
Pengertian drawning (tenggelam) adalah masuknya cairan ke dalam saluran napas yang mengakibatkan gangguan pertukaran udara di alveoli dan dapat terjadi mati lemas (Arif Mansjoer, 2000)
2. Penyebab
1. Terpeleset
2. Terjatuh
3. Penyakit (Epilepsi)
4. Sengaja (bunuh diri)
3. Manifestasi Klinis
1. Edema paru
2. Hemokonsentrasi
3. Hipovolemia
4. Kenaikan kadar magnesium darah
5. Payah jantung
6. Fibrilasi ventrikel
7. Penurunan tekanan darah
8. Anoksia otak
9. Hipotermia
10. Takikardia
11. Lethargi
12. Berkedut
13. Cyanosis
14. Frekuensi nafas berkisar dari pernapasan yang cepat dan dangkal sampai apnea

4. Pathofisiologi
5.
Tenggelam

Menahan nafas dan menelan air

Laringospasme dan relaksasi otot

Aspirasi cairan air tawar

Cairan tertarik keluar alveoli

Masuk intra vaskuler









Hospitalisasi

Pasang Ventilator  Resiko Adera


Endroktrakeal  Renko infeksi saluran nafas

Reflek batuk menurun

Akumulais skret

Bersihan jalan nafas tak efectif






6. Komplikasi
1. Encefalopati hiposik
2. Tenggelam sekunder
3. Pnemonia aspirasi
4. Fibrosis interstisial pulmonal
5. Disritmia ventrikuler
6. Gagal gijal
7. KID (Koagulasi intravaskuler disritmia)
8. Nekroni pancreas
9. Infeksi

7. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan foto thorax : Infiltrasi parenkim paru, edema pulmoner
2. AGD : Untuk menentukan acidosis respiratorik / metabolik
3. Pemantauan TIK : Untuk memantau perfusi serebri
4. EEG : Untuk mengkaji aktifitas kejang, dan adanya kematian otak
5. Osmolaritas serum
6. EKG : Adanya disritmia
7. Darah lengkap : Hematokritj Hb menurun, karena hemodilusi (tenggelam air tawar) dan meningkat karena hemokonsentrasi (tenggelam air asin).
8. Elektrolit serum : Nilai menurun karena hemodilisi (tenggelam air tawar) kecuali jika kalium serum yang naik hal tersebut disebabkan oleh hemolisis. Nilai meningkat pada tenggelam di air asin.
9. BUN : Meningkat pada tenggelam di air tawar dan menurun pada teggelam di air asin.
10. Kreatinin : Meningkat pada tenggelam air tawar dan menurun pada tenggelam di air asin.
11. Kultur dan sensitivitas : Dipakai untuk mendeteksi adanya infeksi pernafasan yang tumpang tindih.

8. Penatalaksanaan
1. Tindakan darurat
Tindakan terpenting dalam setiap peristiwa tenggelam adalah mengembalikan fungsi ventilasi yang efektif dan mempertahankan sirkulasi. Resusitasi harus segera dilakukan sekalipun korban masih dalam air, tak perlu mengeluarkan air dari paru atau lambung.
2. Tindakan definitif
- Jalan napas dibersihkan dari benda asing
- Letakkan kepala lebih rendah dan penderita diletakkan miring.
- Segeralah memasang pipa nasogastric untuk decompresi lambung
- Berikan napas buatan dengan oksigen 100%, sedini mungkin, lanjutkan inkubasi trachea untuk mencegah aspirasi.
- Koreksi keseimbangan asam dan basa, elektrolit dan pemberian obat :
 Na Bikarbonat 1 – 2 meq/kg BB iv
 Antibiotik untuk mencegah radang paru, misal PS 8 : 1 selama 5-7 hari
 Konsikosteroid untuk mencegah edema otak dan memperbaiki sufactan paru, misalkan : kortison 4 x 150 mg/hari IM dan tapering off




2. KONSEP DASAR ASKEP
Pengkajian
1. Anamnesa
- Identitas
Usia dibawah 5 tahun dan remaja antara 15 – 24 tahun memiliki resiko tenggelam yang tinggi. Laki-laki cenderung untuk tenggelam dari pada perempuan.
- Riwayat Keperawatan
Adanya riwayat tenggelam, sesak nafas, kesadaran menurun, lemah, sakit kepala, lamanya tenggelam, jenis air (tawar atau asin), riwayat pertolongan tenggelam.
2. Pemeriksaan
- Pemeriksaan Fisik
Pernafasan : Sesak nafas, ronchi paru, suara nafas menurun, sputum berbusa atau merah muda, edema paru
Kardiovaskuler : Hipotensi atau hipertensi, aritmia, takikardia, cyanosis, asidosis respiratorik atau metabolic
Persyarafan : kesadaran menurun (koma, letargi) sakit kepala, disorientasi, kejang
Pencernaan : perut kembung / membesar, diare
Perkemihan : produksi urine bila terjadi hipovolemi / dehidrasi, warna dan konsentrasi
Muskloskeletal : hipotermi, postur tubu desretrasi atau dekortikasi, lunglai.






3. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Timbul
1. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan atelektasis, edema pulmonal
2. Bersihan jalan nafas tidak efektif sehubungan dengan akumulasi sekret
3. Perubahan perfusi jaringan otak sehubungan dengan hipoksia
4. Pola nafas tidak efektif sehubungan dengan kelelahan
5. Penurunan curah jantung berhubungan dengan hipoksia
6. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan proses infeksi
7. Resiko tinggi cidera berhubungan dengan pemasangan ventilator mekanik
8. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang kurang.

4. Rencana Keperawatan
1. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan atelektasis, edema pulmonal (Dx. 1)
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan pertukaran gas kembali normal
Kriteria Hasil : - Hasil analisa Gas Darah Normal : PH 7,35 – 7,45,
PO2 : 80 – 100 mmHg
PCO2 : 35 – 45 mmHg
BC : -2 - +2
- Tidak cyanosis
Intervensi
1. Cek analisa gas darah tiap 10 – 30 menit setelah peruahan seting ventilator
R/ Evaluasi keefektifan setting ventilator yang diberikan
2. Kaji bunyi nafas tiap 2-4 jam dan setelah intervensi seperti penghisapan
R/ Perubahan bunyi nafas merupakan indikasi adanya cairan / kelainan paru

3. Berikan oksigen sesuai indikasi
R/ Untuk memenuhi kebutuhan O2 dalam tubuh
4. Kaji mental tiap 4 jam atua bila diperlukan
R/ Hipoxia otak yang terlalu lama dapat mengakibatkan iskemia jaringan otak.
5. Evaluasi adanya lethargi / agitasi
R/ Merupakan indikasi adanya gangguan mental
6. Kaji Frekuensi nafas dan kedalaman irama pernafasan
R/ Adanya perubahan kedalaman frekuensi pernafasan dapat sebagai tanda gagal nafas.

2. Diagnosa Keperawatan II
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan jalan nafas menjadi efektif kembali.
Kriteria Hasil : Bunyi nafas terdengar bersih, tidak ada suara tambahan ronchi, tracheal tube bebas dari sumbatan
Intervensi
1. Auskultasi bunyi nafas tiap 2-4 jam dan bila diperlukan
R/ Evaluasi keefektifan nafas
2. Lakukan penghisapan bila terdengar ronchi
R/ Mengurangi sumbatan jalan nafas
3. Pertahankan suhu humidifier tetap hangat (35-378oC)
R/ Membantu mengencerkan sekret
4. Monitor status hidrasi klien
R/ Mencegah sekresi menajdi kental
5. Lakukan fisioterapy nafas / dada sesuai indikas
R/ Memudahkan pelepasan sekret
6. Berikan obat mukolitik sesuai indikasi
R/ Membantu mengencerkan sekret
7. Observasi TTV sebelum dan sesudah melakukan tindakan
R/ Deteksi dini adanya kelainan

DAFTAR PUSTAKA


Lynda Juall Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan, Jakarta ; EGC.

Juriadi, Rita Yuliani (2001), Asuhan Keperawatan Pada Anak, Jakarta ; CV. Sagung Seto.

Aris Mansjoer (2000), Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 2

Dep.Kes. (2000), Resusitasi Jantung, Paru, Otak, Dep.Kes. RI

Tidak ada komentar: