SELAMAT HARI KESEHATAN NASIONAL KE 50


Jumat, 31 Oktober 2014

SENYUM KELUARGA POSYANDU UNTUK SELAMATKAN IBU

Surabaya, 15 Oktober 2014

Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu-Anak (GKIA) Kementerian Kesehatan RI, dr. Anung Sugihantono, M.Kes, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan pemerintah daerah dan jajaran kesehatan untuk menggerakan masyarakat untuk Peduli Kesehatan Ibu. Upaya-upaya yang berhasil dilakukan adalan dengan dibentuknya Forum Penurunan Kematian Ibu dan Bayi (PENAKIB), Gerakan Bersama Amankan Kehamilan (GEBRAK) dan pendampingan ibu hamil risiko tinggi. Melalui upaya tersebut, Angka Kematian Ibu (AKI) provinsi Jawa Timur berhasil diturunkan.

Di hadapan lebih kurang  500 kader PKK yang berasal dari berbagai Kabupaten/Kota di Jawa Timur, dr. Anung menyatakan bahwa kader masyarakat sangat penting dalam upaya menyelamatkan ibu hamil, melalui pendampingan satu kader mendampingi satu ibu hamil risiko tinggi. Pendampingan dilakukan sejak awal kehamilan sampai dengan 40 hari setelah melahirkan. Kegiatan pendampingan juga dintegrasikan dengan kegiatan yang ada di masyarakat seperti Posyandu, Dasawisma, Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), serta pemberian informasi secara aktif terhadap orang tua agar mencegah pernikahan dini di kalangan remaja.

Keberhasilan inilah yang menginspirasi kami untuk melakukan hal yang sama, tentu dengan penyesuaian dan penyempurnaan, agar dapat dicontoh oleh daerah lainnya, ujar dr. Anung saat menghadiri acara dialog Senyum Keluarga Posyandu dalam rangka kampanye penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) yang diselenggarakan di atrium City of Tomorrow, Surabaya (15/10).

Ketua Tim penggerak PKK Provinsi Jawa Timur, Hj. Nina Kirana Soekarwo menyatakan kebanggaannya terhadap para kader yang selalu ikhlas mendampingi ibu hamil berisiko tinggi setiap saat, meskipun tidak digaji.

Jawa Timur menjadi satu-satunya provinsi yang membentuk tim pendamping ibu hamil, kata Nina.

Nina menjelaskan pendampingan bagi ibu hamil resiko tinggi oleh kader yang dilakukan selama 10 bulan mulai dari kehamilan sampai depan masa nifas terbukti mampu mencegah kematian ibu melahirkan. program tersebut dimulai pada tahun 2013 lalu dengan menerjunkan 400 kader PKK untuk mendampingi 400 bumil yang tersebar di delapan kabupaten/kota di Jatim yaitu Sampang, Ngawi, Pamekasan, Trenggalek, Bondowoso, Situbondo, Jember, dan Kediri.

Saat ini, jumlah kader pendamping ibu hamil berisiko tinggi mencapai 740 orang, dengan rincian:  Ngawi sebanyak 102 orang kader, Sampang 101 orang kader, Pamekasan 102 orang kader, Trenggalek 53 orang kader, Bondowoso 88 orang kader, Situbondo 76 orang kader, Jember 115 orang kader, dan di Kabupaten Kediri sebanyak 103 orang kader.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, dr. Harsono, Angka Kematian Ibu (AKI) di provinsi Jawa Timur sudah berada di bawah target Millenium Development Goals (MDGs) 2015, sebesar 102 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. Secara rinci, data laporan kematian ibu Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota melaporkan tahun 2011 sebesar 101,4 per 100.000 kelahiran hidup; tahun 2012 sebesar 97,43 per 100.000 kelahiran hidup; dan tahun 2013 sebesar 97,39 per 100.000 kelahiran hidup.

Mengutip data hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi, yaitu 359 per 100.000 kelahiran hidup. Jika dihitung berdasarkan angka tersebut, maka ada 16.155 orang ibu yang meninggal akibat kehamilan, persalinan dan nifas pada tahun 2012. Jumlah ini setara dengan jumlah korban kecelakaan 40 pesawat Boeing 777 yang jatuh dan seluruh penumpangnya meninggal. Di samping itu, Angka Kematian Bayi (AKB) juga masih tinggi di Indonesia. Pada tahun 2012, angkanya adalah 32 per 1000 kelahiran hidup atau setara dengan 144.000 dan setara dengan penumpang 360 pesawat Boeing 777.

Namun demikian, karena jumlah penduduk Jatim sangat besar yaitu 38 juta jiwa, maka dari nilai absolut jumlah kematian ibu hamil masih tinggi, ujar dr. Harsono.

Jumlah kematian ibu di Provinsi Jawa Timur mengalami penurunan yang cukup bermakna, dari 642 kematian (tahun 2013) menjadi 291 kematian (hingga Agustus 2014). Penyebab terbanyak kematian ibu hamil adalah preeklampsia dan sebagian besar juga diakibatkan keterlambatan pengambilan keputusan keluarga untuk membawa ibu hamil berisiko tinggi ke pusat rujukan.

Ada 3 keterlambatan yang menjadi penyebab ibu hamil berisiko tidak tertolong, yaitu: keluarga terlambat mengambil keputusan, terlambat sampai di tempat rujukan, dan terlambat mendapat penanganan, tandasnya.

5 up date Ebola dari WHO Jenewa

Lima perkembaangan terakhir Ebola dari WHO Jenewa, sbb :
I. kasus terbaru di negara Mali, anak umur 2 tahun, ternyata sudah mimisan dalam bus dari Guinea ke Mali, artinya jumlah yang ditularinya selama perjalanan mungkin lebih banyak dari 43 orang (termasuk 10 petugas kesehatan) yang skrg sdg diawasi ketat. Mimisan adalah salah satu gejala perdarahan‎ akibat Ebola
II.‎ kasus pertama Ebola di New York adalah seorang dokter yang baru pulang dari ikut team pengobatan pasien di Guinea. Dalam perjalanan Guinea ke Belgia dan ke Amerika Serikat dia tidak ada keluhan, keluhannya baru timbul setelah lima hari tiba di New York. Artinya 2 hal :
1) 2 kasus AS tidak sakit selama di pesawat dan ketika mendarat, jadi pemeriksaan thermal scan memang tidak menjamin 100 % pencegahan
2) Pengawasaan ketat (5 kemungkinan, mulai dari minimum temperatur 2 kali sehari‎ sampai maksimum karantina ketat) harus dilakukan pada semua orang yang ada kontak dengan pasien ebola
III. ‎Hasil pertemuan vaksin di kantor WHO hari Kamis 23 Oktober yl menunjukkan 2 kandidat vaksin yang menjanjikan, dan akan mulai uji klinik fase dua.
IV.‎ Pertemuan Emergency Committe tentang Ebola berlangsung Rabu 22 Oktober yl, dengan hasil a.l :
- harus dilakukan exit skrining oleh 3 negara terjangkit
- ebola tetap PHEIC
V. Nina Pham, perawat Amerika Serikat yang tertular Ebola walau pakai alat pelindung diri lengkap, Jumat 24 Oktober kemarin dinyatakan sembuh, dan dibawa ke gedung putih dan dipeluk oleh Presiden Barack Obama. Artinya 2 hal :
1. Ebola jadi perhatian sampai ke tingkat Presiden AS
2. Bila diobati awal dan maksimal maka Ebola dapat sembuh
Salam dari Jenewa
Prof Tjandra Yoga Aditama

PROF. DR. dr. NILA F. MOELOEK, SpM (K)


sumber foto: Bambang P. Cadrana
RIWAYAT SINGKAT
Lahir di Jakarta pada 11 April 1949, Nila F. Moeloek adalah Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk Millenium Development Goals (MDGs), pada periode 2010 – 2014. Di bawah kepemimpinannya, Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs menggagas, membangun dan melaksanakan Pencerah Nusantara, sebuah gerakan inovasi sosial bidang kesehatan khususnya pada layanan primer (Puskesmas); Indonesia MDG Awards pada tahun 2011-2014; dan Peta Kemitraan untuk Pembangunan yang memuat data kemitraan lintas sektor dan multi aktor untuk mencapai tujuan MDGs.
Sebagai seorang Guru Besar pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Nila telah menulis lebih dari 250 karya dalam bentuk tulisan maupun buku. Tidak hanya itu, ia juga aktif memimpin sejumlah organisasi di Indonesia, beberapa diantaranya adalah sebagai Ketua Umum Dharma Wanita Persatuan, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia, dan Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia. Nila F. Moeloek meraih gelar dokter spesialis mata dari Fakultas Kedokteran di Universitas Indonesia. Beliau kemudian meraih gelar S-3 (cum laude) pada tahun 2003. Pada tahun 2007 beliau diangkat sebagai Guru Besar di Fakultas Kedokteran di Universitas Indonesia.
Saat ini beliau juga duduk sebagai board member PMNCH (The Partnership for Maternal Child and Neonatal Health), sebuah lembaga internasional yang melaksanakan insiatif strategis Sekretaris Jenderal PBB untuk Kesehatan Ibu dan Anak, serta advisory board member dari EAT FORUM, sebuah insiatif global berfokus pada isu pangan, kesehatan, dan sustainability.
DATA PRIBADI
Nama    : Prof. Dr. dr NILA DJUWITA MOELOEK, Sp.M (K)
Pangkat/Gol   : Pembina Utama Madya / IVD
Jabatan           : Guru Besar FK Universitas Indonesia
NIP            : 19490411 197603 2 001
Tempat /Tanggal Lahir : Jakarta, 11 April 2014
Agama    : Islam
Nama Suami   : Prof. Dr. dr Faried Anfasa Moeloek, Sp.OG (K)
Nama Anak   : 1. Muhammad Reiza Moeloek, ST, MSc
              2. Puti Alifa Bourdy Moeloek, ST
              3. Puti Annisa Roeslan Moeloek, ST
Menantu   : 1. Elma Fitriani, SE, MBA
      2. Julien Rim Bourdy, MSc
      3. Rollando Roeslan, ST, MBA
Nama Cucu   : 1. Eriq Ihsan Moeloek
                     2. Puti Amira Roeslan
              3. Fahrel Ilham Moeloek
              4. Puti Affaya Roeslan
              5. Anais Leila Puti
Alamat    : Jl Micasa B3 Patra Jasa Kuningan Jakarta Selatan
RIWAYAT PENDIDIKAN

2007 Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI), Indonesia
2003 Doktor, Pasca Sarjana FK-UI, Indonesia
1998 Konsultan Onkologi Mata, Indonesia
1989 Pendidikan tambahan superspesialisasi, Kobe University, Jepang
1980 Pendidikan tambahan superspesialisasi, University of Amsterdam, Belanda
1974 Spesialis Ilmu Penyakit Mata, FK-UI, Indonesia
1968 Sarjana Kedokteran, FK-UI, Indonesia JABATAN STRUKTURAL

1974—sekarang Staf pengajar Departemen Mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
2007 --sekarang Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
2007 – 2011 Ketua Medical Research Unit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
2010—2014 Utusan Khusus Presiden RI untuk Millennium Development Goals
RIWAYAT ORGANISASI

2003—sekarang Anggota Kolegium Oftalmologi Indonesia
1999—2004 Ketua Umum Dharma Wanita Persatuan
2004 – 2009 Ketua Umum Dharma Wanita Persatuan
2009 – sekarang Ketua Umum Dharma Wanita Persatuan
2007—sekarang Ketua Teknis Medis Bank Mata Indonesia
2010 – sekarang Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia
2011 -- sekarang Ketua Yayasan AINI
2011 – sekarang Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia