MOH DWI FAHRUDIN

( MOH DWI FAHRUDIN ) JL. KUSUMA BANGSA 7A LAMONGAN, JAWA TIMUR, HP: 085645040345

Minggu, 29 Juni 2014

Pengaruh pertambahan penduduk terhadap keseimbangan lingkungan dan kelestarian alam

A.     Latar Belakang Masalah 


Peningkatan jumlah penduduk diikuti dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi. Hal itu menyebabkan kebutuhan akan barang,jasa, dan tempat tinggal meningkat tajam dan menuntut tambahan sarana dan prasarana untuk melayani keperluan masyarakat. Akan tetapi, alam memiliki daya dukung lingkungan yang terbatas. Kebutuhan yang terus-menerus meningkat tersebut pada gilirannya akan menyebabkan penggunaan sumber daya alam sulit dikontrol. Pengurasan sumber daya alam yang tidak terkendali tersebut mengakibatkan kerusakan lingkungan.
Aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sering menimbulkan dampak buruk pada lingkungan. Misalnya untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan dan kertas, maka kayu di hutan ditebang. Untuk memenuhi kebutuhan lahan pertanian, maka hutan dibuka dan rawa/lahan gambut dikeringkan. Untuk memenuhi kebutuhan sandang, didirikan pabrik tekstil. Untuk mempercepat transportasi, diciptakan berbagai jenis kendaraan bermotor. Apabila tidak dilakukan dengan benar, aktivitas seperti contoh tersebut lambat laun dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan kerusakan ekosistem. Misalnya penebangan hutan yang tidak terkendali dapat mengakibatkan berbagai bencana seperti banjir dan tanah longsor, serta dapat melenyapkan kekayaan keanekaragaman hayati di hutan tersebut. Apabila daya dukung lingkungan terbatas, maka pemenuhan kebutuhan penduduk selanjutnya menjadi tidak terjamin.
Di daerah yang padat, karena terbatasnya tempat penampungan sampah, seringkali sampah dibuang di tempat yang tidak semestinya, misalnya di sungai. Akibatnya timbul pencemaran air dan tanah. kebutuhan transportasi juga bertambah sehingga jumlah kendaraan bermotor meningkat. Hal ini akan menimbulkan pencemaran udara dan suara. Jadi kepadatan penduduk yang tinggi dapat mengakibatkan timbulnya berbagai pencemaran lingkungan dan kerusakan ekosistem.
Aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sering menimbulkan dampak buruk pada lingkungan. Misalnya untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan dan kertas, maka kayu di hutan ditebang. Untuk memenuhi kebutuhan lahan pertanian, maka hutan dibuka dan rawa/lahan gambut dikeringkan. Untuk memenuhi kebutuhan sandang, didirikan pabrik tekstil. Untuk mempercepat transportasi, diciptakan berbagai jenis kendaraan bermotor. Apabila tidak dilakukan dengan benar, aktivitas seperti contoh tersebut lambat laun dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan kerusakan ekosistem. Misalnya penebangan hutan yang tidak terkendali dapat mengakibatkan berbagai bencana seperti banjir dan tanah longsor, serta dapat melenyapkan kekayaan keanekaragaman hayati di hutan tersebut. Apabila daya dukung lingkungan terbatas, maka pemenuhan kebutuhan penduduk selanjutnya menjadi tidak terjamin. Perlunya kita memperhatikan lingkungan dan menjaga kelestarian tidak hanya terjadi akibat pertumbuhan penduduk yang begitu pesat, adapun faktor-faktor lain yang merusaka lingkungan hidup sebagai berikut.

B.      Bentuk-bentuk Kerusakan Lingkungan Hidup yang Disebabkan oleh Proses Alam dan Kegiatan Manusia
1.      Kerusakan Lingkungan Hidup oleh Faktor Alam
     Kerusakan lingkungan yang disebabkan faktor alam pada umumnya merupakan bencana alam seperti letusan gunung api, banjir, abrasi, angin puting beliung, gempa bumi, tsunami, dan sebagainya.




2.      Kerusakan Lingkungan Hidup yang Disebabkan oleh Kegiatan Manusia
    Kerusakan lingkungan yang disebabkan kegiatan manusia jauh lebih besar dibandingkan dengan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh proses alam. Kerusakan lingkungan yang disebabkan kegiatan manusia terjadi dalam berbagai bentuk seperti pencemaran, pengerukan, penebangan hutan untuk berbagai keperluan, dan sebagainya.



C. Perlunya Keseimbangan Lingkungan Terhadap Jumlah Pertambahan Kependudukan
Meningkatnya kebutuhan hidup manusia karena pertambahan jumlah penduduk dunia serta meningkatnya kesejahteraan hidup yang disertai meningkatnya kebutuhan hidup manusia di satu pihak, dan kemapuan teknologi modern yang mempermudah manusia mengolah sumberdaya alam yang terbatas, seringkali kearifan lingkungan yang mereka kembangkan sebagai kendali terlupakan. Pengolahan sumberdaya alam dan pengelolaan lingkungan yang sehat diabaikan demi terpenuhinya kebutuhan hidup manusia yang cenderung terus meningkat dalam jumlah, ragam dan mutunya. Pesatnya kemajuan teknologi modern tidak secara berimbang diikuti dengan perkembangan pranata sosial sebagai kendali sehingga dapat merusak keseimbangan lingkungan hidup.




D.  Solusi untuk mengatasi akibat dari pertambahan penduduk terhadap keseimbangan lingkungan dan kelestarian alam
Beberapa usaha yang dilakukan untuk pelestarian lingkungan hidup antara lain yaitu sebagai berikut.
1.       Bidang Kehutanan
Kerusakan hutan yang semakin parah dan meluas, perlu diantisipasi dengan berbagai upaya. Beberapa usaha yang perlu dilakukan antara lain :
a.    Penebangan pohon dan penanaman kembali agar dilakukan dengan seimbang sehingga hutan tetap lestari.
b.    Memperketat pengawasan terhadap penebangan-penebangan liar, dan memberikan  hukuman yang berat kepada mereka yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
c.    Penebangan pohon harus dilakukan secara bijaksana. Pohon yang ditebang hendaknya yang besar dan tua agar pohon-pohon yang kecil dapat tumbuh subur kembali.
d.    Melakukan reboisasi (penanaman hutan kembali) pada kawasan-kawasan yang hutannya telah gundul, dan merehabilitasi kembali hutan-hutan yang telah rusak.
e.    Memperluas hutan lindung, taman nasional, dan sejenisnya sehingga fungsi hutan sebagai pengatur air, pencegah erosi, pengawetan tanah, tempat perlindungan flora dan fauna dapat tetap terpelihara dan lestari.






2.  Bidang Pertanian
a.    Mengubah sistem pertanian berladang (berpindah-pindah) menjadi pertanian menetap seperti sawah, perkebunan, tegalan, dan sebagainya.
b.    Pertanian yang dilakukan pada lahan tidak rata (curam), supaya dibuat teras-teras (sengkedan) sehingga bahaya erosi dapat diperkecil.
c.    Mengurangi penggunaan pestisida yang banyak digunakan untuk pemberantasan hama tanaman dengan cara memperbanyak predator (binatang pemakan) hama tanaman karena pemakaian pestisida dapat mencemarkan air dan tanah.
d. Menemukan jenis-jenis tanaman yang tahan hama sehingga dengan demikian penggunaan pestisida dapat dihindarkan.




3.  Bidang Industri
a.    Limbah-limbah industri yang akan dibuang ke dalam tanah maupun perairan harus dinetralkan terlebih dahulu sehingga limbah yang dibuang tersebut telah bebas dari bahan-bahan pencemar. Oleh karena itu, setiap industri diwajibkan membuat pengolahan limbah industri.
b.    Untuk mengurangi pencemaran udara yang disebabkan oleh asap industri yang berasal dari pembakaran yang menghasilkan CO (Karbon monooksida) dan CO2 (karbon dioksida), diwajibkan melakukan penghijauan di lingkungan sekitarnya. Penghijauan yaitu menanami lahan atau halaman-halaman dengan tumbuhan hijau.
c.    Mengurangi pemakaian bahan bakar minyak bumi dengan sumber energi yang lebih ramah lingkungan seperti energi listrik yang dihasilkan PLTA, energi panas bumi, sinar matahari, dan sebagainya.
d.    Melakukan daur ulang (recycling) terhadap barang-barang bekas yang tidak terpakai seperti kertas, plastik, aluminium, best, dan sebagainya. Dengan demikian selain memanfaatkan limbah barang bekas, keperluan bahan baku yang biasanya diambil dari alam dapat dikurangi.
e.    Menciptakan teknologi yang hemat bahan bakar, dan ramah lingkungan.
f.     Menetapkan kawasan-kawasan industri yang jauh dari permukiman penduduk.






4.   Bidang Perairan
a.    Melarang pembuangan limbah rumah tangga, sampah-sampah, dan benda-benda lainnya ke sungai maupun laut karena sungai dan laut bukan tempat pembuangan sampah.
b.    Perlu dibuat aturan-aturan yang ketat untuk penggalian pasir di laut sehingga tidak merusak lingkungan perairan laut sekitarnya.
c.    Pengambilan karang di laut yang menjadi tempat berkembang biak ikan-ikan harus dilarang.
d. Perlu dibuat aturan-aturan penangkapan ikan di sungai/laut seperti larangan penggunaan bom ikan, pemakaian pukat harimau di laut yang dapat menjaring ikan sampai sekecil-kecilnya, dan sebagainya.


5.     Flora dan Fauna
      Untuk menjaga kepunahan flora dan fauna langka, beberapa langkah yang perlu dilakukan antara lain :
a.    Menghukum yang seberat-beratnya sesuai dengan undang-undang bagi mereka yang mengambil flora dan memburu fauna yang dilindungi.
b.    Menetapkan kawasan perlindungan bagi flora dan fauna langka seperti Taman Nasional, Cagar Alam, Suaka Marga Satwa, dan lain-lain.


6.    Perundang-undangan
    Melaksanakan dengan konsekuen UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan memberikan sanksi hukuman yang berat bagi pelanggar-pelanggar lingkungan hidup sesuai dengan tuntutan undang-undang.




Rabu, 30 Oktober 2013

Lansia Meramaikan Hari Kesehatan Nasional di Lamongan

Program Penanggulangan Tuberkulosis (P2TB)


Penyakit Tuberculosis (TBC) merupakan salah satu penyakit
menular yang tersebar di seluruh dunia dan menjadi masalah kesehatan
masyarakat, karena angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi, bahkan
pada tahun 1993 WHO mencanangkan TBC sebagai kedaruratan global
(global emergency). Berdasarkan data Survei Kesehatan Rumah Tangga
(SKRT) tahun 1995, TBC merupakan penyebab kematian ketiga terbesar
setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan, dan
merupakan nomor satu terbesar dalam penyakit kelompok infeksi. Data
WHO (1999) menunjukkan bahwa Indonesia menempati urutan ketiga di
dunia sebagai negara penyumbang kasus TBC tertinggi setelah India dan
China, dan posisi ini belum berubah sampai akhir tahun 2005.
Hasil survei prevalensi (2004), setiap tahun di Indonesia terdapat
245.000 penderita baru dengan jumlah TBC menular dengan Basil Tahan
Asam Positif (BTA +) sejumlah 107.000 kasus, dan kematian yang
disebabkan TBC sekitar 46.000 kasus. TBC menyerang sebagian besar
kelompok usia produktif, ekonomi lemah, dan pendidikan rendah.
Penderita TBC terus meningkat oleh karena setiap satu penderita TBC
BTA positif akan menularkan 10-15 orang lain setiap tahunnya, sehingga
perlu adanya upaya penanggulangan secara optimal, terpadu dan
menyeluruh.

MCK Sehat: Undang Kembali Bidadari ke Bumi


fannyApakah semua tau cerita tentang Jaka Tarub? Jaka Tarub adalah seorang pemuda desa yang menikah dengan Bidadari cantik bernama Nawang Wulan. Meskipun Nawang Wulan seorang bidadari, tetapi mereka tidak bertemu di kahyangan, di rumah makan apalagi di mall. Tetapi mereka bertemu di sungai. Saat itu 7 Bidadari termasuk Nawang Wulan sedang mandi. Bisakah teman-teman membayangkan 7 bidadari cantik mandi di sungai? Namun, kenapa saya tidak bisa membayangkan itu terjadi jaman sekarang ya? Apalagi jika kondisi sungainya seperti Citarum, Cikapundung atau Ciliwung. Mengapa? Karena kondisi sungai-sungai tersebut saat ini sangat memprihatikan.
Padahal, sungai selaku sumber air baku, sangat penting fungsi-nya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan sebagai sarana utama dalam menunjang pembangunan nasional. Fungsi sungai lainnya diantaranya sebagai sarana transportasi yang relatif aman sebagai penghubung antara daerah satu dengan daerah lainnya, irigasi sungai, obyek wisata, tempat hidup berbagai jenis ikan dan masih banyak lagi.
Namun, rendahnya kesadaran masyarakat ditambah padatnya penduduk di bantaran sungai mengakibatkan sungai semakin parah tercemar. Misalnya, di Sungai Cikapundung. Masyarakat di sepanjang sungai tersebut sebagian besar masih menggunakan sungai sebagai tempat pembuangan limbah. Baik secara langsung atau melalui pipa yang menjulur dari dapur atau WC mereka. Belum lagi masalah sampah. Contohnya bungkus produk makanan dari kertas, kaleng, styrofoam dan plastik, bekas produk seperti sepatu, sandal dan pakaian, bahkan sampai kasur bekas! Sampah dari Sungai Cikapundung akan berkumpul di muara sungai. Dan masuk ke aliran Sungai Citarum, bertemu dengan sampah dari sungai-sungai lain. Tidak heran, jika sampah di Sungai Citarum dihitung jumlahnya bisa sama dengan sampah di TPA.
Kesadaran masyarakat untuk menjaga sungai, memang memprihatinkan, termasuk di kota besar yang masyarakatnya sudah banyak yang terpelajar. Berdasarkan data dari BPLHD Jawa Barat, sekitar 85% masyarakat Kota Bandung belum memiliki septic tank. Ditambah berdasarkan data dari Koran Kompas pada Jumat, 22 Maret 2013, 100 juta warga Indonesia ternyata belum memiliki sarana MCK yang memadai. Sehingga, kotoran langsung dibuang ke sungai.
Jika sungai tercemar, kita semua yang akan merasakan dampaknya. Pesatnya perkembangan penduduk tidak hanya meningkatkan kebutuhan terhadap air bersih, tapi juga meningkatnya kerusakan dan pencemaran lingkungan. Daerah bantaran sungai yang seharusnya menjadi daerah resapan air (water catcher) dengan ditanaminya pohon-pohon, telah beralih fungsi menjadi pemukiman warga. Dan ternyata, 49 sungai di kota Bandung telah tergolong krisis. Kenapa? Karena siklus sungai selaku pemasok air dengan volume terbanyak, telah terganggu oleh manusia.
Nah, adakah yang bisa kita lakukan bersama untuk mengatasi persoalan ini? Untuk menunjukkan keprihatinan kita akan masalah krisis sungai,  tidak perlu dengan kemarahan, kekecawaan, atau saling tuding dengan orang lain karena itu semua tidak akan mengubah apapun. Jika kita ingin melakukan perubahan, misalnya untuk mengembalikan fungsi sungai sebagai sumber air baku, diperlukan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat. Salah satu caranya adalah dengan memiliki sarana MCK yang sehat dan memadai dengan sanitasi yang baik.
Ada lagi hal sederhana, yang bisa kita lakukan untuk membuat perubahan bagi lingkungan, yakni dengan perilaku sehat. Siapa yang harus menerapkan perilaku sehat ini? Tidak perlu tengok kiri kanan, tunjuk depan belakang tapi tunjuklah orang yang pertama kali kalian lihat saat bercermin. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menerapkan perilaku sehat, diantaranya :
  1. Mencuci tangan dengan sabun. Mengapa kita harus mencuci tangan pakai sabun? Tangan adalah organ tubuh yang paling sering bersentuhan dengan bakteri. Jika bakteri masuk melalui mulut kita, pasti kita akan mudah terserang penyakit. Oleh karena itu, cuci tangan pakai sabun adalah hal paling effektif untuk menghilangkan bakteri.
  2. Membuang sampah pada tempatnya dan memilah sampah sesuai jenisnya.
  3. Menyiram MCK setelah digunakan  baik lantai maupun klosetnya.
  4. Menghemat penggunaan air dan listrik
  5. Membersihkan WC minimal 3 hari sekali
bidadariDengan perilaku sehat ini, secara tidak langsung kita sudah membantu menyelamatkan sungai sebagai sumber baku air.

Pemilahan Sampah, Kunci Awal Pengelolaan Sampah Berwawasan Lingkungan

Ajak Masyarakat Bangkit dan Peduli Sehat dengan Merayakan HKN ke 49


Dinas Kesehatan Lamongan terus berupaya mengajak warganya untuk mengatur pola hidup sehat. Berbagai program dan sosialisasi terus digalakkan, salah satunya melalui peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 49, dengan menggelar 15 perlombaan yang berhubungan dengan kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Fida Nuraida menyebutkan, kalau peringatan HKN tahun 2013 kali ini dibuat lebih semarak, setidaknya sudah ada 15 kegiatan yang tercantum dalam agenda panitia HKN.
Dari 15 kegiatanpun beragam, mulai dari kegiatan sosial, olahraga, edukasi, sosialiasi, hingga mendorong para pelaku dan kader untuk selalu berinovasi dalam bekerja.
Kegiatan tersebut sudah dijalankan mulai awal Oktober lalu Dinkes sudah membuka perlombaan untuk membuat Blog yang ada hubungannya dengan kesehatan, pesertanya juga selain dari internal dinas kesehatan juga terdapat dari pelaku kesehatan berbagai profesi di Lamongan.
Pada 6-29 dilakukan kegiatan Program Penanggulangan Tuberkulosis (P2TB), disusul dengan kegiatan dan upaya meneguhkan kesadaran warga untuk bebas dari buang air besar sembarangan atau dalam istilah (ODF), kegiatan ini dimulai pada 16-24 Oktober.
Dalam ODF ini lanjut Fida, pihak Dinkes mempuyai target kedepanya dalam jangka pendek untuk membebaskan 60 dari 472 desa/kelurahan bebas dari buang air besar sembarangan (BAP).
Untuk khusus 2013 ini, Dinkes menargetkan 15 desa ata keluarahan, dan hingga bulan Oktober ini setidaknya sudah ada 18 desa/kelurahan yang sudah bersertifikat dan bebas dari ODF.”Yang sudah bersertifikat sudah ada 18 desa/kelurahan dan sisanya akan terus diupayakan pada tahun ini,”katanya.
Kegiatan ini terus digalakkan, karena sebagian besar warga di Lamongan kesadaran untuk mempunyai jamban sendiri masih rendah. Untuk itu mementuk HKN ini Dinkes mencoba untuk melakukan sosialisasi kepada warga akan pentingnya jambanisasi.
Untuk mewujudkan jambanisasi dan bebas dari buang air besar sembarangan, Dinkes juga menggandeng dengan HIPPAM. “Untuk mewujudkan desa bebas dari buang air besar sembarangan, kami menggandeng pihak ketiga untuk pendanaan,” ujarnya.
Selanjutnya kegiatan lainya masih dalam rangka semarak HKN adalah, lomba cipta menu PMT yang diikuti oleh 62 kader dari 31 puskesmas di Lamongan, disusul dengan lomba ibu hamil cerdas pada 23 Oktober,pemilihan tenaga kesehatan akan dihelat pada 28-31 Oktober, dan disusul Tenis Meja (21-22), Catur (28-29), peduli lansia (29/10), Futsal (9/11), jalan sehat (3/11) UKS dan UKGS sikat gigi massal akan dihelat pada (7/11), pada (14/11) akan diadakan bahkti sosial ke panti asuhan dan dilanjutkan pada 12 Nov upacara HKN, selengkapnya baca grafis.
Semua kegiatan tersebut, pihak Dinkes berharap keikusertaan keluarga besar Dinas Kesehatan dari berbagai profesi, serta masyarakat umum. “Kalau ada masyarakat umum yang belum mengetahui informasi ini untuk segera berhubungan dengan dinas kesehatan,”imbuh wanita yang juga pernah menjabat sebagai Direktur Utama RSUD Dr Soegiri ini. jr
- See more at: http://suaralamongan.blogspot.com/2013/10/ajak-masyarakat-bangkit-dan-peduli.html#.UnBi4lLZS8A

Selasa, 22 Oktober 2013

Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-49 Tahun 2013 Kabupaten Lamongan

                   

spanduk HKN_49_500x100cm_7
Sebagai rakyat Indonesia setiap tenggal 12 Nopember, kita memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) dari tingkat pusat (Nasional) sampai tingkat Kabupaten/Kota. Untuk tahun 2013 ini kita memperingati HKN yang ke 49. Untuk melaksanakan peringatan tersebut, panitia HKN ke 49 Tahun 2013 Kabupaten Lamongan, merencanakan berbagai kegiatan di bidang kesehatan guna mengingatkan kepada semua elemen masyarakat akan pentingnya hidup sehat. Untuk itu panitia HKN Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan akan mengadakan kegiatan:

  1. Kegiatan sebelum Puncak Acara:
    1. Lomba Cipta Menu Makanan Tambahan (PMT).
    2. Lomba Ibu Hamil Cerdas
    3. Tenaga Kesehatan Teladan (Medis, Keperawatan, Kesehatan Masyarakat, Nutrisionis).
    4. Lomba Kader Kesehatan Teladan (ranking I)
    5. Lomba ODF (open defication free)
    6. Lomba P2TB
    7. Lomba Blog Spot Kesehatan
    8. Bakti Sosial:
      • Peduli Lansia: Senam lansia/Pemeriksaan kesehatan.
      •  UKGS: Sikat Gigi Massal / Pemeriksaan / Dokter Kecil
      •  Kunjungan ke Panti Asuhan.
  2. Olah Raga:
    • Tenis Meja
    • Catur
    • Futsal
    • Jalan Sehat
  3. Puncak acara kegiatan Peringatan :
    1. Upacara Peringatan HKN ke 49 tahun 2013, dilaksanakan pada: hari Selasa, Tgl. 12 November 2013 di Halaman Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan, dengan INSPEKTUR UPACARA Bapak BUPATI LAMONGAN.
    2. Launching Ambulance Gadar (gawat darurat).
    3. Pemberian tali asih kepada purna tugas pegawai jajaran kesehatan Kab. Lamongan.
    4. Resepsi.
Waktu Pelaksanaan
Peringatan HKN ke 49 Tahun 2013 dilaksanakan pada tanggal 12 Nopember 2013 , namun untuk kegiatan penunjang meliputi lomba dilaksanakan mulai : Oktober sampai dengan Nopember 2013.

Jumat, 06 September 2013

LOSS AND GRIEVING


1.1 Berduka
1.1.1  Definisi berduka
Berduka adalah respon emosi yang diekspresikan terhadap kehilangan yang dimanifestasikan adanya perasaan sedih, gelisah, cemas, sesak nafas, susah tidur, dan lain-lain.
Berduka merupakan respon normal pada semua kejadian kehilangan. NANDA merumuskan ada dua tipe dari berduka yaitu berduka diantisipasi dan berduka disfungsional.
Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang, hubungan/kedekatan, objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya kehilangan. Tipe ini masih dalam batas normal.
Berduka disfungsional adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu yang responnya dibesar-besarkan saat individu kehilangan secara aktual maupun potensial, hubungan, objek dan ketidakmampuan fungsional. Tipe ini kadang-kadang menjurus ke tipikal, abnormal, atau kesalahan/kekacauan.
1.1.2 Jenis Berduka
1.         Berduka normal, terdiri atas perasaan, perilaku, dan reaksi yang normal terhadap kehilangan.Misalnya, kesedihan, kemarahan, menangis, kesepian, dan menari diri dari aktivitas untuk sementara.
2.         Berduka antisipatif, yaitu proses’melepaskan diri’ yng muncul sebelum kehilangan atau kematian yang sesungguhnya terjadi.Misalnya, ketika menerima diagnosis terminal, seseorang akan memulai proses perpisahan dan menyesuaikan beragai urusan didunia sebelum ajalnya tiba
3.         Berduka yang rumit, dialami oleh seseorang yang sulit untuk maju ke tahap berikutnya,yaitu tahap kedukaan normal.Masa berkabung seolah-olah tidak kunjung berakhir dan dapat mengancam hubungan orang yang bersangkutan dengan orang lain.
4.         Berduka tertutup, yaitu kedudukan akibat kehilangan yang tidak dapat diakui secara terbuka.Contohnya:Kehilangan pasangan karena AIDS, anak mengalami kematian orang tua tiri, atau ibu yang kehilangan anaknya di kandungan atau ketika bersalin.
1.1.3 Teori dari Proses Berduka
Tidak ada cara yang paling tepat dan cepat untuk menjalani proses berduka. Konsep dan teori berduka hanyalah alat yang hanya dapat digunakan untuk mengantisipasi kebutuhan emosional klien dan keluarganya dan juga rencana intervensi untuk membantu mereka memahami kesedihan mereka dan mengatasinya. Peran perawat adalah untuk mendapatkan gambaran tentang perilaku berduka, mengenali pengaruh berduka terhadap perilaku dan memberikan dukungan dalam bentuk empati.
1. Teori Engels
Menurut Engel (1964) proses berduka mempunyai beberapa fase yang dapat diaplokasikan pada seseorang yang sedang berduka maupun menjelang ajal.
1.      Fase I (shock dan tidak percaya)
Seseorang menolak kenyataan atau kehilangan dan mungkin menarik diri, duduk malas, atau pergi tanpa tujuan. Reaksi secara fisik termasuk pingsan, diaporesis, mual, diare, detak jantung cepat, tidak bisa istirahat, insomnia dan kelelahan.
2.      Fase II (berkembangnya kesadaran)
Seseoarang mulai merasakan kehilangan secara nyata/akut dan mungkin mengalami putus asa. Kemarahan, perasaan bersalah, frustasi, depresi, dan kekosongan jiwa tiba-tiba terjadi.
3.      Fase III (restitusi)
Berusaha mencoba untuk sepakat/damai dengan perasaan yang hampa/kosong, karena kehilangan masih tetap tidak dapat menerima perhatian yang baru dari seseorang yang bertujuan untuk mengalihkan kehilangan seseorang.
4.      Fase IV
Menekan seluruh perasaan yang negatif dan bermusuhan terhadap almarhum. Bisa merasa bersalah dan sangat menyesal tentang kurang perhatiannya di masa lalu terhadap almarhum.
5.      Fase V
Kehilangan yang tak dapat dihindari harus mulai diketahui/disadari. Sehingga pada fase ini diharapkan seseorang sudah dapat menerima kondisinya. Kesadaran baru telah berkembang.
2. Teori Kubler-Ross
Kerangka kerja yang ditawarkan oleh Kubler-Ross (1969) adalah berorientasi pada perilaku dan menyangkut 5 tahap, yaitu sebagai berikut:
a)  Penyangkalan (Denial)
Individu bertindak seperti seolah tidak terjadi apa-apa dan dapat menolak untuk mempercayai bahwa telah terjadi kehilangan. Pernyataan seperti “Tidak, tidak mungkin seperti itu,” atau “Tidak akan terjadi pada saya!” umum dilontarkan klien.
b)  Kemarahan (Anger)
Individu mempertahankan kehilangan dan mungkin “bertindak lebih” pada setiap orang dan segala sesuatu yang berhubungan dengan lingkungan. Pada fase ini orang akan lebih sensitif sehingga mudah sekali tersinggung dan marah. Hal ini merupakan koping individu untuk menutupi rasa kecewa dan merupakan menifestasi dari kecemasannya menghadapi kehilangan.
c)  Penawaran (Bargaining)
Individu berupaya untuk membuat perjanjian dengan cara yang halus atau jelas untuk mencegah kehilangan. Pada tahap ini, klien sering kali mencari pendapat orang lain.
d) Depresi (Depression)
Terjadi ketika kehilangan disadari dan timbul dampak nyata dari makna kehilangan tersebut. Tahap depresi ini memberi kesempatan untuk berupaya melewati kehilangan dan mulai memecahkan masalah.
e)  Penerimaan (Acceptance)
Reaksi fisiologi menurun dan interaksi sosial berlanjut. Kubler-Ross mendefinisikan sikap penerimaan ada bila seseorang mampu menghadapi kenyataan dari pada hanya menyerah pada pengunduran diri atau berputus asa.
8. Teori Martocchio
Martocchio (1985) menggambarkan 5 fase kesedihan yang mempunyai lingkup yang tumpang tindih dan tidak dapat diharapkan. Durasi kesedihan bervariasi dan bergantung pada faktor yang mempengaruhi respon kesedihan itu sendiri. Reaksi yang terus menerus dari kesedihan biasanya reda dalam 6-12 bulan dan berduka yang mendalam mungkin berlanjut sampai 3-5 tahun.
9. Teori Rando
Rando (1993) mendefinisikan respon berduka menjadi 3 katagori:
a. Penghindaran
Pada tahap ini terjadi shock, menyangkal dan tidak percaya.
b. Konfrontasi
Pada tahap ini terjadi luapan emosi yang sangat tinggi ketika klien secara berulang-ulang melawan kehilangan mereka dan kedukaan mereka paling dalam dan dirasakan paling akut.
c. Akomodasi
Pada tahap ini terjadi secara bertahap penurunan kedukaan akut dan mulai memasuki kembali secara emosional dan sosial dunia sehari-hari dimana klien belajar untuk menjalani hidup dengan kehidupan mereka.
1.1.4  Respons Berduka
Respons berduka seseorang terhadap kehilangan dapat melalui tahap-tahap berikut(Kubler-Ross, dalam Potter dan Perry,1997)
PengingkaranàMarahàTawar-MenawaràDepresiàPenerimaan
1. Tahap Pengingkaran. Reaksi pertama individu yang mengalami kehilangan adalah syok, tidak percaya, atau mengingkarikenyataan bahwa kehilangan benar-benar terjadi.Reaksi fisik yang terjadi pada tahap ini adalah letih,lemah,pucat,mual,diare,gangguan pernafasan,detak jantung cepat,menangis,gelisah,dan sering kali individu tidak tahu harus berbuat apa.Reaksi ini dapat berlangsung selama beberapa menit hingga beberapa tahun.
2.Tahap Marah. Pada tahap ini individu menolak kehilangan. Kemarahan yang timbul sering diproyeksikan kepada orang lain atau dirinya sendiri.Orang yang mengalami kehilangan juga tidak jarang menunjukkan perilaku agresif, berbicara kasar, menyerang orang lain, menolak pengobatan, bahkan menuduh dokter atau perawat tidak berkompeten. Respon fisik yang sering terjadi antara lain muka merah, denyut nadi cepat, gelisah, susah tidur, tangan mengepal, dan seterusnya.
3.Tahap Tawar-menawar. Pada tahap ini terjadi penundaan kesadaran atas kenyataan terjadinya kehilangan dan dapat mencoba untuk membuat kesepakatan secara halus atau terang-terangan seolah kehilangan tersebut dapat dicegah.Individu mungkin berupaya untuk melakukan tawar-menawar dengan memohon kemurahan Tuhan.
4.Tahap depresi. Pada tahap ini pasien sering menunjukkan sikap menarik diri, kadang-kadang bersikap sangat menurut, tidak mau bicara, menyatakan keputusan, rasa tidak berharga, bahkan bisa muncul keinginan bunuh diri. Gejala fisik ditunjukkan antara lain menolak makan, susah tidur, letih, dan lain-lain.
5.Tahap Penerimaan. Tahap ini berkaitan dengan reorganisasi perasaan kehilangan. Pikiran yang selalu berpusat pada objek yg hilang akan mulai berkurang atau bahkan hilang. Perhatiannya akan beralih pada objek yg baru.Apabila individu dapat memulai tahap tersebut dan menerima dengan perasaan damai, maka dia dapat mengakhiri proses kehilangan secara tuntas.Kegagalan untuk masuk ke proses ini akan mempengaruhi kemampuannya dalam mengatasi perasaan kehilangan selanjutnya.


1.2 Kehilangan
1.2.1 Definisi kehilangan
Kehilangan dan berduka merupakan bagian integral dari kehidupan. Kehilangan adalah suatu kondisi yang terputus atau terpisah atau memulai sesuatu tanpa hal yang berarti sejak kejadian tersebut. Kehilangan mungkin terjadi secara bertahap atau mendadak, bisa tanpa kekerasan atau traumatik, diantisispasi atau tidak diharapkan/diduga, sebagian atau total dan bisa kembali atau tidak dapat kembali.
Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan (Lambert dan Lambert,1985,h.35). Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh setiap individu dalam rentang kehidupannya. Sejak lahir individu sudah mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda.
Kehilangan merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu kekurangan atau tidak ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada atau pernah dimiliki. Kehilangan merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada menjadi tidak ada, baik sebagian atau seluruhnya.
Faktor – Faktor yang mempengaruhi kehilangan Antara lain :
a. Perkembangan 
- Anak- anak.
1. Belum mengerti seperti orang dewasa, belum bisa merasakan.
2.Belum menghambat perkembangan.
3.Bisa mengalami regresi
- Orang Dewasa
Kehilangan membuat orang menjadi mengenang tentang hidup,tujuan hidup,
Menyiapkan diri bahwa kematian adalah hal yang tidak bisa dihindari.
b. Keluarga.
            Keluarga mempengaruhi respon dan ekspresi kesedihan. Anak terbesar biasanya menunjukan sikap kuat, tidak menunjukan sikap sedih secara terbuka.
c. Faktor Sosial Ekonomi.
            Apabila yang meninggal merupakan penanggung jawab ekonomi keluarga, beraati kehilangan orang yang dicintai sekaligus kehilangan secara ekonomi.
Dan hal ini bisa mengganggu kelangsungan hidup.
d. Pengaruh Kultural.
            Kultur mempengaruhi manifestasi fisik dan emosi. Kultur ‘barat’ menganggap kesedihan adalah sesuatu yang sifatnya pribadi sehingga hanya diutarakan pada keluarga, kesedihan tidak ditunjukan pada orang lain. Kultur lain menggagap bahwa mengekspresikan kesedihan harus dengan berteriak dan menangis keras-keras.
e. Agama.
            Dengan agama bisa menghibur dan menimbulkan rasa aman. Menyadarkan bahwa kematian sudah ada dikonsep dasar agama. Tetapi ada juga yang menyalahkan Tuhan akan kematian.
f. Penyebab Kematian.
            Seseorang yang ditinggal anggota keluarga dengan tiba-tiba akan menyebabkan shock dan tahapan kehilangan yang lebih lama. Ada yang menganggap bahwa kematian akibat kecelakaan diasosiasikan dengan kesialan.
Kebutuhan Keluarga yang Berduka membutuhkan :
1. Harapan
a. Perawatan yang terbaik sudah diberikan.
b. Keyakinan bahwa mati adalah akhir penderitaan dan kesakitan.
2. Berpartisipasi.
a. Memberi perawatan
b. Sharing dengan staf perawatan.
3. Support
a.  Dengan support klien bisa melewati kemarahan, kesedihan, denial.
b. Support bisa digunakan sebagai koping dengan perubahan yang terjadi.
4. Kebutuhan spiritual.
a.  Berdoa sesuai kepercayaan.
b. Mendapatkan kekuatan dari Tuhan
1.2.2 Tipe Kehilangan
Kehilangan dibagi dalam 2 tipe yaitu:
1. Aktual atau nyata
Mudah dikenal atau diidentifikasi oleh orang lain, misalnya amputasi, kematian orang yang sangat berarti / di cintai.
2. Persepsi
Hanya dialami oleh seseorang dan sulit untuk dapat dibuktikan, misalnya; seseorang yang berhenti bekerja / PHK, menyebabkan perasaan kemandirian dan kebebasannya menjadi menurun.
1.2.3 Jenis-jenis Kehilangan
Terdapat 5 katagori kehilangan, yaitu:
1. Kehilangan seseorang  seseorang yang dicintai ( ACTUAL LOSS )
Kehilangan seseorang yang dicintai dan sangat bermakna atau orang yang berarti adalah salah satu yang paling membuat stress dan mengganggu dari tipe-tioe kehilangan, yang mana harus ditanggung oleh seseorang.
Kematian juga membawa dampak kehilangan bagi orang yang dicintai. Karena keintiman, intensitas dan ketergantungan dari ikatan atau jalinan yang ada, kematian pasangan suami/istri atau anak biasanya membawa dampak emosional yang luar biasa dan tidak dapat ditutupi.
Contoh : kehilangan anggota badan , kehilngan suami/ istri , kehilangan pekerjaan.
2. Kehilangan yang ada pada diri sendiri ( LOSS OF SELF )
Bentuk lain dari kehilangan adalah kehilangan diri atau anggapan tentang mental seseorang. Anggapan ini meliputi perasaan terhadap keatraktifan, diri sendiri, kemampuan fisik dan mental, peran dalam kehidupan, dan dampaknya. Kehilangan dari aspek diri mungkin sementara atau menetap, sebagian atau komplit. Beberapa aspek lain yang dapat hilang dari seseorang.
Contoh : misalnya kehilangan pendengaran, ingatan, usia muda, fungsi tubuh.
3. Kehilangan objek eksternal
Kehilangan objek eksternal misalnya kehilangan milik sendiri atau bersama-sama, perhiasan, uang atau pekerjaan. Kedalaman berduka yang dirasakan seseorang terhadap benda yang hilang tergantung pada arti dan kegunaan benda tersebut.
4. Kehilangan lingkungan yang dikenal
Kehilangan diartikan dengan terpisahnya dari lingkungan yang sangat dikenal termasuk dari kehidupan latar belakang keluarga dalam waktu satu periode atau bergantian secara permanen.
Contoh : pindah kekota lain, maka akan memiliki tetangga yang baru dan proses penyesuaian baru.
5. Kehilangan kehidupan/ meninggal
Seseorang dapat mengalami mati baik secara perasaan, pikiran dan respon pada kegiatan dan orang disekitarnya, sampai pada kematian yang sesungguhnya. Sebagian orang berespon berbeda tentang kematian
2.2.4 Rentang Respon Kehilangan
Denial—–> Anger—–> Bergaining——> Depresi——> Acceptance
1. Fase denial
a. Reaksi pertama adalah syok, tidak mempercayai kenyataan
b. Verbalisasi;” itu tidak mungkin”, “ saya tidak percaya itu terjadi ”.
c. Perubahan fisik; letih, lemah, pucat, mual, diare, gangguan pernafasan, detak jantung cepat, menangis, gelisah.
2. Fase anger / marah
a. Mulai sadar akan kenyataan
b. Marah diproyeksikan pada orang lain
c. Reaksi fisik; muka merah, nadi cepat, gelisah, susah tidur, tangan mengepal.
d. Perilaku agresif.
3. Fase bergaining / tawar- menawar.
a. Verbalisasi; “ kenapa harus terjadi pada saya ? “ kalau saja yang sakit bukan saya “ seandainya saya hati-hati “.
4.  Fase depresi
a. Menunjukan sikap menarik diri, tidak mau bicara atau putus asa.
b. Gejala ; menolak makan, susah tidur, letih, dorongan libido menurun.
5. Fase acceptance
a. Pikiran pada objek yang hilang berkurang.
b. Verbalisasi ;” apa yang dapat saya lakukan agar saya cepat sembuh”, “ yah, akhirnya saya harus operasi.
2.2.5  Dampak Kehilangan
1. Pada masa anak-anak, kehilangan dapat mengancam kemampuan untuk berkembang, kadang akan timbul regresi serta rasa takut untuk ditinggalkan atau dibiarkan kesepian.
2. Pada masa remaja atau dewas muda, kehilangan dapat menyebabkan disintegrasi dalam keluarga
3. Pada masa dewasa tua, kehilangan khususnya kematian pasangan hidup dapat menjadi pukulan yang sangat berat dan menghilangkan semangat hidup orang yang ditinggalkan.
























Daftar pustaka