SELAMAT HARI KESEHATAN NASIONAL KE 50


Rabu, 21 Desember 2011

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN MITRAL STENOSIS

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN MITRAL STENOSIS

LANDASAN MEDIS
1. PENGERTIAN
Mitral stenosis adalah blok aliran darah pada tngkat kantup mitral, akibat adanya perubahan struktur mitral leaflets yang menyebabkan tidak membukanya kantup mitral secara sempurna paa saat drastolik.
( Suparman ; 2000:1035 )
Mitral stenosis adalah perubahan progresif dan pengerutan bilah-bilah kanttup mitral yang menyebabkan penyimpatan lumen dan sumbatan progresif aliran darah ( Huddak dan Gallow ; 1998: 825 ).

2. ETIOLOGI
Mitral stenosis terjadi paling sering sebagai akibat dari penyakit jantung rematik, endokardritis, bakterial atau kalsifikasi.

3. PATOFISIOLOGI
R H D

Mitral Stenosis


Atrium kiri meningkat Darah diventrikel kiri berkurang

Vena pulmanal meningkat Curah jantung menurun

Peningkatan tekanan sierkulasi Penurunan perfusi sistemik

Peningkatan tekanan ventrikel kanan Darah menggenang di belakang
Karup yang stenosis

Peningkatan tekanan atrrom kanan Aatrium kiri dilatasi

Kongesti pulmoral sistemik Hipoksia

Odom periter Metab- an aerob

Peningkatan volume cairan Kelelahan

Intoleran aktifitas

Efek fosiologis dan hemodinamik pada stenosis mitral
Peningkatan tekanan dilatasi atrium kiri fibrilasi atrium
Arteri pulmonal

Edema alveolar dan Hipertrofi atrium kiri
Interstitral
- Dispnea Tekanan dan volume
- Artopnea atrium kiri
- Edema pulmonal


Penurunan darah keventrikel kiri

Hipertensi pulmonal Penurunan curah jantung sistemik


- Hemoptisis
- Hipoksemia Penurunan perfusi otot rangka
Penurunan tekanan dan - Kelelahan
Volume ventrikel kanan

Gagal jantung sisi kanan
- Edema perifer
- Distensi vena jugularis
- Pembesaran hepar

4. GAMBARAN KLINIS
Sesak napas 4.7 Kelelahan, kelemahan
Hemoptisis 4.8 Distensi vena jugularis
Hipoksemia 4.9 Polprtasi
Ortopnea 4.10 Nyeri dada
Edema 4.11 Suara parau (hoarsenesis)
Edema perifer 4.12 Fibrilasi atrium

5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
PEMERIKSAAN FISIS
a. Inspeksi dan Palpasi.
Apeks biasanya normal tetapi kadang-kadang sulit ditemukan vibrasi saat palpasi dirasakan akibat bunyi jantung pertama yang mengeras dan dapat diraba adanya diastolic thriil.
b. Auskultasi.
1. Bunyi jantung pertama yang mengeras
Dapat terjadi apabila mitral masih dapat bergerak (mobil) belum terlalu kaku dan belum mengalami kalsifikasi.
2. Openting snap.
Terdengar di apeks atau parasternal kiri, terjadi sebagai akibat katup terdorong secara cepat ke arah ventrikel kiri, karena perubahan tekanan yang besar antara atrium kiri dan ventrikel kiri pada awal diastolik.
3. Bising diastolik/rumbling
Timbul sebagai akibat turbulensi aliran darah yang melewati atrium mitrale yang sempit.
4. Bunyi jantung P2 yang mengeras
5. Bising graham steel.

ELEKTROKAR DIAGRAM
P mitral yaitu gelombang P yang lebar dengan notch dilead II dan prominen gelombang P negatif pada lead IV, hepetrofi ventrikel kanan apabila tekanan sistolik pada arteri pulmonal lebih dari 70 mmhg.

PEMERIKSAAN RADIOLOGIS
a. Left atrial appendage dan atrium kiri membesar.
b. Vena pulmonal menonjol terutama terlihat pada basis jantung.
c. Lapangan baru memperlihatkan tanda-tanda bendungan, kadang-kadang terlihat garis pada septrum intrestisial pada daerah sinus kostotrenskus.

EKOKARDIGRAFI M MODE
a. E – F slope mengecil dari anterior leaflets kantup mitral dengan menghilangnya gelombang a.
b. Berkurangnya permukaan kantup mitral.
c. Berubahnya pegerakan katup posterior.
d. Penebalan katup akibat fibrosis dan multiple mitral valve echo akibat kalsifikasi.
KATETERISASI
Terlihat pressure gradient atrium kiri dan ventrikel lerri pada saat distolik.
Mdikasi pemeriksaan kateterisasi pada mitral stenosis :
5.6.1. Keluhan pasien tidak sesuai dengan kelainan obyektif yang ditemukan.
5.6.2 Milhat adanya bentuk lain penyakit-penyakt yang mungkn menyertainya.
5.6.3 Adanya persangkaan regurgitasi mitral.
5.6.4 Adanya persangkaan muksoma atrium kiri pada pemeriksaan ekokardiograsi.
5.6.5 Dugaan adanya silent stenosis mitral dengan hasil pada pemeriksaan ekokardiograsi kurang memuaskan.

6. KOMPLIKASI.
Fibrilasi Atrium.
Emboli sistemik
Hpertensi pulmonal dan dekopensasi jantung

7. DIAGNOSA BANDING.
Regurgitasi mitral
Emfisema paru
Defek septum atrium
Hipertensi pulmonal primer
Miksoma atrium kiri

8. PENATALAKSANAAN.
Obat-obtan selesitasl dan kortikosteroid keduanya mempunyai efek dramatik pada demam dan poli antirstis pada pengobatan demam rematik, obat ini tidak bisa diberikan pada klien atralgia.
Obat stread diberikan pasien Karaditis dan kardiomegoli
Istirahat sempurna  2 minggu bila tidak ada karditis,ambulasi 2 minggu disertai pengobatan salisilat.
Terapi diit dengan tinggi protein, calsium.
OPERASI
Pertimbangan untuk dilakukan operasi adalah sebaga berikut :
1. Seberapa jauh disability yang ditimbulkannya.
2. Keadaan obyektif abstruksinya.
3. bagaimana, mobilitas katup.
4. Ada atau tidaknya regurgitasi.
5. Adanya kelainan vavular lain atau adanya penyakit jantung
6. koroner.
Indikasi Untuk Oprasi :
1. Stenosis sedang sampai berat, dilihat dari beratnya stenosis (<1,7 cm2) dan keluhan.
2. Stenosis mitral dengan hipertensi pulmonal.
3. Stenosis mitral dengan resiko tngg bagi timbulnya emboli misal :
a. Usia tua dengan fibritasi atrial.
b. Pernah mengalami emboli sistemik.
c. Pembesaran yang nyata dari appandage atrium kiri.
Jenis Operasi Yang Dapat Dilakukan :
1. Closed mitral commissurotomy.
Dilakukan pada pasien tanpa komlikasi, caranya yaitu :
Dengan sebuah alat dilator dimasukan sampai diapeks, kemudian dengan dikontrol oleh jari lewat atrium kiri, lalu dilakukan pelebaran katup mitral.
2. Open mitral valvotomy.
Teknik ini dipilih apabila inorn dilihat dengan jelas keadaan katup mitral, lebih akurat dari pada closed mitral commissurotomy dan dipilih apabila ada dugaan ada trombosi didalam atrium, operasi ini akan memperbaiki kelainan hemodinamika dan akan mengurangi timbulnya keluhan.
3. Mitral valve replacement.
Biasa dilakukan apabila disertai regurgitasi dan kalsifikasi katup mitral yang jelas.

LANDASAN ASKEP


1. PENGKAJIAN.
1.1 Biodata.
Menyerang wanita lebih banyak dari pada pria dengan perbandingan kira-kira 4 : 1.
1.2 Keluhan utama.
Sesak nafas.
1.3 Riwayat penyakit sekarang.
Sesak nafas.
1.4 Riwayat penyakit dahulu.
Terdapat riwayat penyakit jantung rematik.
1.5 Riwayat penyakt keluarga.
Terdapat
1.6 ADL.
1.6.1 Aktifitas = Kelelahan
1.6.2 Nutrisi = Penurunan BB
1.6.3 Elminasi = Kelebihan cairan
1.6.4 Personal hygiene = Ketergantungan terhadap keluarga
1.6.5 Istirahat = Sedikit terganggu

1.7 Pemeriksaan
1.7.1 Pemeriksaan fisik.
Pada wajah terdapat bercak-bercak keunguan di pipi pasien.
Inpeksi : Apeks biasanya normal tetapi kadang-kadang sulit ditentukan.
Palpalis : Vibrasi pada saat palpasi dapat dirasakan akibat bunyi jantung pertama yang mengeras dan dapat diraba adanya diastolic thrill.
Auskultasi :
1. Bunyi jantung pertama yang mengeras.
2. Opening snap.
3. Bising diastolik/rumbling
4. Bunyi jantung P2 yang mengeras
5. Bising graham steel.
1.7.2 Pemeriksaan diagnostik.
LED meningkat 80-100 mm/hari
Protein = C reaktif masa eksaserbasi
SPD meningkat pada waktu timbul proses inflamasi.
JDL menunjukan anemia sedang
Sinar X menunjukan pembengkakan pada jaringan lunak, erosi sendi.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN.
2.1 Penurunan cairan jantung berhubungan dengan preload yang menurun sekunder terhadap penurunan pengisian ventrikel.
2.2 Intolesan aktifitas berhubungan dengan ketidak keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen sekunder terhadap penurunan pengisian ventrikel kiri.
2.3 Kurang pengetahuan berhubungan dengan mis inter prestasi informasi.
2.4 Resiko terhadap infleksi berhubungan dengan destruksi jaringan dari peningkatan pemajanan sekunder terhadap bersarangnya bakteri dalam kantup yang malfungsi.
2.5 Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme pengaturan sekunder terhadap gagal jantung sisi kanan.
3. RENCANA KEPERAWATAN.
3.1 DX I
Tujuan : meningkatkan fungsi kardio vaskuler
Kerteria hasil : klien mempunyai curah jantung yang adekuat ditandai dengan :
 Haluaran urine > 30 ml/jam
 TD sistolik 20 mmhg dari TD sistolik dasar.
 FJ 60-100 dpm dengan irama teratur.
 Amplitudo nadi pedalis > 2 + pada skala 0-4 +.
 Ekstermitas hangat dan warna normal.
 Beroreantasi terhadap waktu, tempat dan orang
Rencana Tindakan :
1. Pantau TD, nadi, opikal, nadi perifer
R/indikator klinis dan keadekuatan curah jantung.
2. Pantau irama jantung sesuai indkasi.
R/disitma umum pada pasien dengan penyakit katup
3. Tingkatan/dorong tirah baring dengan kepala tempat tidur ditinggihkan.
R/menurunkan volume darah yang kembali ke jantung, menurunkan sesak dan rejatan jantung.
4. Bantu aktifitas sesuai indikasi.
R/melakukan kembali aktifitas secara bertahap mencegah pemaksaan terhadap cadangan jantung.
3.2 DX. II
Tujuan : Klien dapat beraktifitas tanpa ada hambatan
Kreteria hasil : klein dapat menggerakkan tenaga yang dirasakan pada < 3 pda skala 0-10 dan menunjukan toleransi jantung terhadap aktifitas ditandai dengan :
 FJ < 20 dpm diatas FJ istirahat
 TD sistolik dalam 20 mmhg tidak lebih dari TD sistolik istirahat.
 FP < 20 X/menit dengan pola normal (aupnea).
Rencana Tindakan :
1. Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas
R/parameter menunjukan respon fisiologis pasien terhadap stres dan indikator derajat pengaruh aktivitas.
2. Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas.
R/stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk memajukan tingkat induvidual.
3. Dorong memajukan aktivitas/toleransi peawatan diri.
R/konsumsi O2 miokoardia selama berbagai aktivitas dapat meningkatkan jumlah O2

DAFTAR PUSTAKA


Dengoes Marlyn (2000), Rencana Asuhan keperawatan, Edisi 3, Jakarta, EGC
Engram Barbara (1998), Rencana Askep Medikal Bedah, Vol : 2, Jakarta, EGC
Huddak dan Gallow (1998), Keperawatan kritis Vol 2, Jakarta , EGC
Suparman (2000), Ilmu Penyakit Dalam Julid I Jakarta : FKUI.

PJK (Penyakit Jantung Koroner)

KONSEP DASAR MEDIS

1.1 Pengertian
PJK (Penyakit Jantung Koroner) adalah ketidakseimbangan antara kebutuhan O2 miokardium dengan suplai) 2 yang disebabkan oleh proses arterosklerosis yang merupakan kelainan digeneratif (Sarwono Waspadji; 1996 ; 1991).
1.2 Etiologi
1.2.1 Dikenal 2 keadaan ketidakseimbangan masukan terhadap kebutuhan O2 yaitu :
1) Hipoksemia (iscemia)
Ditimbulkan oleh kelainan vaskuler (arteri coronaria), meliputi : arterio sklerosis, penurunan aliran darah pada artericoronaria, spasme arteri coronaria, kelainan corgenital.
2) Hipoksia (anoksia)
Yang disebabkan kekurangan O2 dalam darah.
1.2.2 Faktor Resiko
1) Unmodifiable
- Age (usia
- Gender (jenis kelamin)
- Ras
- Genetic
- Familial history
2) Modifiable
1) Mayor
- Hiperlipidemia
- Hypertension
- Cigarret smoking
- Diet tinggi lemak jenuh
- Obesity
- In activity physic
- Gangguan toleransi glukosa
- Kolesterol dan kalori
2) Contribution
- DM
- Stressfull/lifesyle
- Tipe kepribadian
1.3 Patofisiologi
Areriosklerosis

Spasme Arteri Coronaria

Penurunan suplai O2

Iscemia Miokrad

Perubahan reversibel sel dan jaringan

Peningkatan produksi asam laktat  nyeri dada

Hipoksia  PH sel menurun  Asidosis

Penurunan kontraktilitas

Kardiac output menurun

Penurunan perfusi jaringan

Hipoksia


Ekstermitas Muskulus Cerebral Sistem urinarius
   
Akral dingin/diaforesis Weeknest/kelemahan anoksia Oliguria
   
Gangguan keseimbangan cairan Intoleransi aktivitas Gangguan eliminasi urine
1.4 Penatalaksanaan
1.4.1 Medis
Tindakan yang dilakukan :
1) Mengatasi iscemia, yang terdiri dari :
(1) Medikamentosa
Obat-obat yang dipakai adalah :
a. Nitrat (N)
• Diberikan secara parenteral, sublingual, buccat, oral, transdermal dan ada yang dibuat lepas lambat.
• Efek samping
- Flusing
- Hipotensi postural
- Tolerasi
b. Berbagai jenis penyehat geta (BB) mengurangi kebutuhan O2
• Ada yang bekerja cepat seperti pindolol dan proprandol dan bekerja lambat seperti sotalol dan nadolol.
• Yang perlu diingat pada pemakiannya adalah :
- Dapat mengurangi kontraktilitas (awas pada disfungsi LV)
- Menimbulkan spasme bronkus (asma / PPOK)
- Menurunkan HR
- Waspada terhadap bradikardia dan blokade jantung.
• Efek samping
- Mimpi-mimpi
- Rasa dingin pada kaki
- Rasa lelah
- Efek metabolik (gula darah dan lipid)
- Withdrawal effect yang bisa menimbulkan AP lebih berat pada waktu menghentikan obat.
c. Antagonis calcium (Ca A)
• Diberikan secara oral dan parenteral
• Yang perlu diingat pada pemakaiannya adalah :
- Dapat mengurangi kebutuhan O2 dan menambah masukannya (dilatasi koroner)
- Menurunkan HR seperti verapamil dan diltiazem
- Menimbulkan takikardia seperti nifedipin
• Efek samping
- Sakit kepala
- Edema kaki
- Bradikardia sampel blokade jantung
- Konstipulasi, dan lain-lain.
(2) Revaskularisasi
Hal ini dilaksanakan dengan cara :
a. Pemakaian trombolitik, biasanya pada PJK akut seperti IJA
b. Prosedur invasif (PI) non operatif
c. Operasi (coronary artery surgeny CAS)
Beberapa macam operasinya adalah sebagai berikut :
(1) Operasi pintas koroner (CABG)
- Vena saphena (saphenous vein)
- Arteria mammaria interna
- A. Radialis
- A. gastroepiploika
(2) Transmyocardial (laser) recanalization (TMR)
(3) Transplantasi jantung untuk kardiomiopati iskemik
2) Melakukan pencegahan secara sekunder
• Obat-obat pencegahan yang sering dipakai adalah aspirin (A) dengan dosis 375 mg, 160 mg sampai 80 mg. Dosis lebih rendah juga bisa efektif.
• Dahulu dipakai antikoagulan oral (OAK) tapi sekarang sudah ditinggalkan karena terbukti tak bermanfaat.
3) Memberikan penunjang
• Penunjang yang dimaksud adalah untuk mengatasi iscemia akut agar tak terjadi iscemia yang lebih berat sampai IJA (Infark Jantung Akut).
• Anti koaguln parenteral diberikan untuk mencegah stenosis total karena timbulnya bekuan sebagai akibat pecahnya plak aterosklerosis obat yang dipakai adalah heparin (H) gila akan dipakai lebih lama dapat diteruskan dengan OAK.
1.4.2 Keperawatan
1) Memberikan penjelasan kepada penderita / keluarga mengenai penyakitnya.
2) Mengenal dan menghindari faktor-faktor yang dapat menentukan sergangan PJK.
- Rokok harus dihentikan dan berat badan dikurangi sampai tak ada kelebihan darah.
- Makan harus diatur rendah lemak jenuh dan jumlah kalory yang sesuai.
3) Pengaturan keseimbangan O2 miokardium
Hal-hal yang meningkatkan kebutuhan O2 sampai menimbulkan iskemia harus dicegah atau disesuaikan, misalnya aktivitas, terburu-buru, emosi, kelainan-kelainan ekstrakardial. Klien harus menyesuaikan aktivitas fisik dan psikis dengan kehidupannya serta harus mengubah cara hidupnya.



BAB 2
LANDASAN ASKEP

2.1 PENGKAJIAN
Anamnesa
1) Biodata
Menyerang usia produktif dan usia tua.
2) Keluhan utama
Sesak nafas, nyeri dada.
3) RPS
Klien mengatakan nyeri dada seperti tertekan benda berat hilang timbul pada daerah sternum / substernal yang menjalar ke lengan kiri, serangan bertambah bila melakukan aktivitas, sesak nafas dan nyeri berkurang bila istirahat.
4) RPD
Hipertensi, DM, hiperlipidemia.
5) RPK
Hipertensi, DM.
6) Psikososial
Stress psikologi, tipe kepribadian (tipe A  prefeksionis), emosi labil, terburu-buru, dan kelainan-kelainan ekstakardial.
7) ADL
• Nutrisi
Diet tinggi lemak jenuh kolesterol dan kalori
• Aktivitas
Merokok, gaya hidup kurang gerak
• Eliminasi
Olygoria.
• Personal Hygiene
Kurangnya perawatan diri mandi, berpakaian / berhias, toileting.
2.2 PEMERIKSAAN FISIK
1) Keadaan Umum : sesak nafas, kelemahan, berkeringat.
2) Inspeksi : pusing
3) Leher : distensi vena jugularis
4) Dada : I : Retraksi otot intercostae, palpitasi, dispnea
P : Takikardi, kardomegali
P : Suara paru pekak
A : Bunyi nafas krekels, wheezing, gallop rytme
5) Abdomen : I : Distensi abdomen, bentuk bulat datar
A : Bising usus 37 x/menit
P : nyeri tekan, turgor kulit dalam detik ke-2
P : Suara Hypertympani

6) Ekstermitas
Akral dingin, berkeringat.
2.3 PEMERIKSAAN PENUNJANG
1) EKG : Gelombang T terbalik, depresi segmen ST.
2) Pemeriksaan radiologi : pembesaran ventrikel ST
3) Ekocardiografi
4) Pemeriksaan laboratorium : kolesterol, trigliserida meningkat.
2.4 Diagnosa Keperawatan (Doengoes, Marilyn E, Many Frances Moorhouse, Alice C, Gisser. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi III. EGC:Jakarta)
2.4.1 Kemungkina Diagnosa yang timbul
1) Nyeri dada berhubungan dengan iscemiocard
2) Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan inotropik akibat iscemia miokard atau efek obat / konduksi elektrikal.
3) Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidakadekuatan ventilasi (nyeri/kelemahan otot).
4) Kurang pengetahuan berhubungan dengan informasi kesalahan interpretasi.
2.4.2 Diagnosa I
1) Tujuan
Nyeri dada berkurang wajah rileks respirasi 12-24x/menit, nadi 80-100 x/menit.
2) Kriteria hasil
Hasil yang diharapkan atau kriteria evaluasi pasien akan :
1) Menyatakan nyeri hilang atau tak ada.
2) Menunjukkan postur tubuh rileks, kemampuan istirahat / tidur dengan cukup.
3) Intervensi
1) Anjurkan klien untuk memberi tahu perawat jika terjadi nyeri dada.
R/ Nyeri dan penurunan curah jantung dapat merangsang saraf simpati untuk mengeluarkan norep rinoprin yang meningkatkan kemajuan penyakit.
2) Kaji dan catat respon pasien
R/ Menurunkan kebutuhan oksigen miokard untuk meminimalkan resiko nekrosis
3) Anjurkan pasien untuk bedrest total selama periode nyeri
R/ Memberikan informasi tentang kemajuan penyakit.
4) Tinggikan kepala tempat tidur bila klien sesak
R/ Memudahkan pertukaran gas untuk menurunkan hipoksia.
5) Pantau irama jantung
R/ Pasien mengalami peningkatan diatrimia yang mengancam hidup secara akut yang terjadi terhadap respon ischemia
6) Pantau tanda vital tiap lima menit
R/ Tekanan darah dapat meningkatkan secara dini sehubungan dengan rangsangan simpatis
7) Pertahankan lingkungan nyaman dan tenang
R/ Stress mental / emosi meningkatkan kerja miokard

8) Berikan O2 sesuai indikasi
R/ Meningkatkan sediaan O2 untuk kebutuhan miokard
9) Berikan obat golongan nitrat dan beta boker.
R/ Obat golongan nitrat mempunyai efek cepat vasodilatasi beta bloken menurunkan kerja miokard.

2.4.3 Diagnosa II
1) Tujuan
- Klien menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas
- TD (80-120) mmHg
- RR (12-24) x/menit
2) Kriteria hasil
Hasil yang diharapkan atau kriteria evaluasi klien akan :
1) Melaporkan / menunjukkan toleransi aktivitas
2) Menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas
3) Berpartisipasi dalam aktivitas yang memaksimalkan atau meningkatkan fungsi jantung.
3) Intervensi
1) Pantau / catat kecenderungan frekuensi jantung dan TD khususnya mencatat hipotensi.
R/ Hipotensi dapat terjadi akibat kekurangan cairan, distritmia, gagal jantung / syok
2) Pantau / catat disritmia jantung observasi respon pasien terhadap distritmia, contoh penurunan TD.
R/ Distritmia yang mengancam hidup dapat terjadi sehubungan dengan ketidakseimbangan elektrolit, iskemia miokardia, atau gangguan pada konduksi elektrikal jantung
3) Observasi perubahan status mental / orientasi / gerakan atau refleks tubuh.
R/ Dapat mengindikasikan penurunan aliran darah atau oksigenasi serebral sebagai akibat penurunan curah jantung
4) Catat suhu kulit / warna, dan kualitas / kesamaan nadi perifer.
R/ Kulit hangat, merah muda dan nadi kuat adalah indikator umum curah jantung adekuat
5) Ukur / catat pemasukan, pengeluaran dan keseimbangan cairan.
R/ Berguna dalam menentukan kebutuhan cairan atau mengidentifikasi kelebihan cairan yang dapat mempengaruhi curah jantung / konsumsi
6) Jadwal istirahat / periode tidur tanpa gangguan. Bantu aktivitas perawatan diri.
R/ Mencegah kelemahan / terlalu lelah dan stress kardiovaskuler berlebihan
7) Pantau program aktivitas, catat respons pasien, tanda vital sebelum / selama / setelah aktivitas, terjadinya disritmia.
R/ Latihan teratur merangsang sirkulasi / tonus kardiovaskuler berlebihan
8) Evaluasi adanya / derajat cemas / emosi
R/ Reaksi emosi berlebihan dapat mempengaruhi tanda vital dan tahanan vaskuler sistemik serta mempengaruhi fungsi jantung
9) Dorong penggunaan tehnik relaksasi contoh napas dalam, aktivitas senggang.
R/ Tehnik relaksasi bertujuan untuk mempengaruhi fungsi jantung
10) Berikan O2 tambahan sesuai indikasi.
R/ Meningkatkan oksigenasi maksimal, yang menurunkan kerja jantung, alat dalam memperbaiki iskemia jantung dan disritmia
2.4.4 Diagnosa III
1) Tujuan
- Respirasi 12-24x/menit
- TD (80-120) mmHg
- Tidak ada sianosis dan pernafasan cuping hidung.
2) Kriteria hasil
Hasil yang diharapkan atau kriteria evaluasi pasien akan :
1) Mempertahankan pola napas normal / efektif bebas sianosis dan tanda / gejala lain dari hipoksia dengan bunyi nafas sama secara bilateral, area baru bersih.
2) Menunjukkan reekspansi lengkap dengan tak ada pneumotorak / hemotorak.
3) Intervensi
1) Evaluasi frekuensi pernapasan dan kedalaman.
R/ Pengenalan dini dan pengobatan ventilasi abnormal dapat mencegah komplikasi
2) Auskultasi bunyi nafas, catat area yang menurun/tak ada bunyi napas dan adanya bunyi tambahan contoh krekels atau ronki.
R/ Krekels atau ronki dapat menunjukkan kaumulasi cairan atau obstruksi jalan napas parsial
3) Observasi karakter batuk dan produksi sputum.
R/ Udara atau cairan pada area pleural mencegah ekspansi lengkap
4) Lihat kulit dan membran mukosa untuk adanya sianosis.
R/ Sianosis menunjukkan kondisi hipoksia sehubungan dengan gagak jantung komplikasi paru
5) Tinggikan kepala tempat tidur, letakkan pada posisi duduk tinggi atau semi fowler.
R/ Merangsang fungsi pernapasan / ekspansi paru
6) Dorong pasien berpartipasi / bertanggung jawab selama latihan napas dalam, gunakan alat bantu (meniup botol) dan batuk sesuai indikasi.
R/ Membantu reekspasi / mempertahankan potensi jalan napas kecil khususnya setelah melepaskan selang dada
7) Dorong pemasukan cairan maksimal dalam perbaikan jantung.
R/ Hidrasi adekuat membantu pengenceran sekret, memudahkan ekspektoran
8) Beri obat analgesik sebelum pengobatan pernapasan sesuai indikasi.
R/ Memudahkan gerakan dada dan menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan nyeri insisi
9) Catat respons terhadap (latihan napas dalam atau pengobatan pernapasan, catat bunyi napas, batuk / produksi sputum.
R/ Catat keefektifan terapi atau kebutuhan untuk intervensi lebih agresif
10) Berikan tambahan O2 dengan kanula atau masker sesuai indikasi.
R/ Meningkatkan pengiriman O2 ke paru untuk kebutuhan sirkusi khususnya pada gangguan ventilasi
2.4.5 Diagnosa IV
1) Tujuan
Klien dapat memahami tentang kondisi penyakitnya serta kebutuhan terapeutiknya.
2) Kriteria Hasil
Hasil yang diharapkan / kriteria evaluasi pasiean. Pasien akan :
1) Berpartisipasi dalam proses belajar.
2) Melakukan tanggung jawab untuk pembelajaran sendiri.
3) Mulai mencari informasi / mengajukan pertanyaan.
4) Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi / pronosis, dan kebutuhan terapeutik.
3) Intervensi
1) Tinjau program latihan yang ditentukan dan tingkatkan bertahap. Bantu pasien / orang terdekat untuk menyusun tujuan realistis.
R/ Kemampuan individu dan harapannya tergantung pada fungsi jantung dasar, dan kondisi fisik
2) Dorong periode istirahat bergantian dengan aktivitas dan tugas-tugas rngan dengan tugas serta.
R/ Mencegah kelelahan / keletihan berlebihan


3) Observasi TTV tiap 6 jam.
R/ Mendeteksi perkembangan klien
4) Beri penjelasan kepada klien dan keluarga mengenai kondisi penyakit, dan kebutuhan terapeutik klien
R/ Klien lebih kooperatif dengan perawat
5) Lakukan pendekatan kepada klien dan keluarga.
R/ Menimbulkan keakraban dan rasa saling percaya antara perawat, klien dan keluarga
6) Melakukan advice dokter.
R/ Melakukan fungsi interdependence










DAFTAR PUSTAKA



Sjaifoellah Noer. 1996. Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1, Edisi Ketiga. Balai Penerbit. FKUI : Jakarta

Mardiono Masetio. 2001. Buku Ajar Kardiologi. Gaya baru : Jakarta.

Doengoes, Marilyn E, Many Frances Moorhouse, Alice C, gisser. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi III. EGC : JAKarta.

Lynda Juall, Carpenito. 2001. Diagnosa Keperawatan. EGC : Jakarta

C. Long, Barbara. 1996. Perawatan Medikal Bedah II. Ikatan Almuni Pendidikan Keperawatan Pajajaran : Bandung.

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN KASUS REUMATOPID HEART DESEASE ( RHD )

LANDASAN TEORI
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN
DENGAN KASUS REUMATOPID HEART DESEASE
( RHD )

1. KONSEP MEDIS
1.1 PENGERTIAN
1.1.1 Penyakit Jantung Reumatik adalah penyakit yang ditandai dengan kerusakan pada katup jantung akibat serangan karditis rematik akut yang berkali-kali. (IDD Jilid 1 : 1996 :; 1026).
1.1.2 Demam Reumatik adalah suatu penyakit sistemik akut atau kronik, dapat sembuh sendiri oleh sebab yang belum jelas atau menimbulkan cacat pada kantung jantung secara lambat. (IDD : Jilid 1 : 1996 ; 1026)

1.2 ETIOLOGI
Demam Reumatik dapat disebabkan oleh :
Infeksi seperti streptococcus  hemolitycus group A, tonsilitis, Nasofaringitis atau otilis media dapat menyebabkan Demam Reumatik. Disamping infeksi, ada kemungkinan predisposisi genetik bersama lingkungan sosisal juga ikut berpengaruh.

1.3 PATOFISISOLOGI
Ada beberapa streptococcus group A yang Nefritogenik dan ini dihubungkan dengan glumerulonefritis walaupun diakui umumnya genetik streptococcus adalah neumatogenik.
Beberapa tipe streptococcus group A ( termasuk tipe M 1,3,5,6,14,18,19,24,27 dan 29 ) ternyata lebih sering didapatkan pada kasus demam reumatik. Sifat spesifik biologik streptococcus group A yang menyebabkna faringitis menjadikan organisme mudah menempel pada mukosa pernapasan atas dan mengakibatkan infeksi. Hal yang paling penting adalah M protein pada permukaan streptococus golongan A merupakan salah satu komponen yang esensial untuk melawan fagositosis.

1.4 PATOLOGI
Penyakit Jantung Rematik disebabkan oleh karditis reumatik akut dan fibrosis yang terjadi pada saat penyembuhan lesi, yang berlangsung bertahun-tahun kemudian.
1.4.1 Gambaran Klinis
Gambaran klinis umumnya dimulai dengan demam atau artritis yang timbul setelah 2-3 minggu terserang infeksi streptococus  hemolitycus.
1). Demam
Demam tidak khas, bisa berlangsung sampai berkali-kali dengan tanda-tanda umum berupa malaise, astesia, penurunan berat badan. Tipe demam adalah remittent, tetapi tidak sering melampaui 39 0 C dan akan kembali normal atau hampir normal dalam 2-3 minggu, juga jika tak diobati.
2) Sakit Persendian
Bisa berupa antralgia yaitu nyaeri persendian dengan tanda-tanda obyektif radang. Atritis ialah radang persendian dengan tanda-tanda panas, merah, bengkak, atau nyeri tekan dan keterbatasan gerak persendian. Atritis sering dimulai pada kaki dan menjalar ke lengan. Lutut paling sering kena ( 75 % ), kemudian pergelangan kaki ( 50 % ), siku, pergelangan tangan, pingguk dan persendian kecil kaki (+12-15 % ) bahu dan persendian kecil tangan ( 7-8 % ).
3) Pankarditis
Pankarditis berupa endokardiits , miokarditisdan perikarditis. Karditis terjadi 50% demam rematik pertama miokarditis harus ditangani hati-hati dan merupakan gejala demam reumatik akut yang biasanya ditemukan tetapi sukar didiagnosis dengan jelas jika klinis terdapat perikarditis maka dianggap berat dan melipuit pula miokarditis dan endokarditis.tanda-tand kardial secara auskultasi yang abnormal tak dapat dianggap sebagai bukti tetap adanya karditios aktif diantaranya:
(1) silent carditis
kira-kira 50% penderita dengan kelainna jantung reumatik tidak mempunyai riwayat serangan pentakit reumatik . dalam keadaan ini kemungkinan berlamhgsunag suatu periode yang disebut silent carditis.
(2) stenosis mitral juvenil
sutikno ( 1980) durumah sakit DR. Karyadoi Semarang melaporkan stenosus mitrall juvenil; merupakan 14,6 % dari seluruh penyakit jantung reumatik.
4). Nodul sub kutan
nodul ini merupakan jaringan padat , tidak nyeri berhubungan dengan tendon, capsul persendian dan fasia. Nodul sub kutan jarang mmberiakan keluhan akan tetapi penting untuk diagnostuk. Biasanya timbul dalam minggu pertana dan hanya pada pasien karditis.
5) eritama marginatum
eritema marginatum biasanya timbul pada awal penyakit dapat hilang tinbul tak menentu seperti halnya nodul subkutan. Eritema ini biasanya terjadi pada penderita dengan karditis.
6) chorea ( St. vitus dance )
juga disebut sydenham’s chorea, chorea minor atau St. minor dance dan dapat dianggap sebagai bentuk neurologi. Demam reumatik. Gerakan yang timbul atau sekonyong0konyong dan tak dapat diulangi lagi , tonus otot menghilang.



1.5 MANIFESTASI LAIN
1.1. Nyeri abdomen
Nyeri abdomen dapat terjadi pada dmam reumatik dengan kelemahan jantung karena p[embengkakan hati mungki juga terdapat pada kasus tanpa kelemahan jantung dan terjadi sebelun ada tanda lain demam reumatik. Dalm keadaan demikian lokasi umbilikus nyerio pada periumbi9likus.
Anoreksia, mual muntah sering terjadi akibat dari dekompensasi jantung atau keracunan salisilat.
1.5.2. eritema nodosum.
1.5.3. effusi pleura atau bendungan paru karena kelemahan jantung.
1.5.4. Gangren
1.5.5. Mitral stenosis
1.5.6. Stenisis aorta
1.5.7. Iskemi perifer, nekrosis

1.6 MANIFESTASI LABORATORIK
Ada 2 macam pendekatan laboratorik yaitu pertama membuktiksan adnya infeksi Streptococcus yang baru kedua untuk membuktikan adanya inflamasi.
1.6.1. Pasien dengan DR 80% mempunyai ASTO (+) walupuin asto yang meninggi dapat mendukung keungknan demam reumatik .
1.6.2. ukuran proses inflamsi dapat dilakukan dengan pengukuran LED dan C-reactive proteon (+) LED mempunyai variasi lebar natara normal dan abnoormal dan meninggi sampai jauh diatas 100 mm.
1.6.3. SDP meningkat pada waktu timbul proses inflamasi.
1.6.4. Sedangkan JDL menunjukkan anemia sedang.
1.6.5. Ig ( Ig M dan Ig G ) sebagai proses autoimun penyebab AR.
1.6.6. Sinar X menunjukkan pembengkakan pada jaringan lunak, erosi sendi dan osteoporosis.

1.7 PENATALAKSANAAN
1.7.1. Obat-obatan
1.7.1.1. Obat-obat salisilat dan kortiko steroid keduanya mempunyai efek dramatik pada demam dan poliartritis pada pengobatan demam reumatik. Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien dengan atralgia.
1.7.1.2. Pasien dengan karditis dan kardiomegali sebaiknya diberikan steroid.
1.7.1.3. Pridnison merupakan pilihan utama dimulai dengan dosis 2 mg/Kg. BB/hari sdampai denagn tidak lebih 80 mg/hari.
1.7.2. Program istirahat dana latihan
Pada waktu fase akut paien membutuhkan istirahat sempurna dirumah atau dirumah sakit. Tiap hari ditliti kemungkinan ada tidaknya karditis dan kelmahan jantung. Bila tidak ada karditis, istirajat 2 minggu lalu ambulasi 2 minggu disertai pengobatan salisilat.
1.7.3. Terapi diet
Diet pada kasus RHD ditujukan pada pengurangan makanan yang banyak mengandung NH3 seperti jeroan, melinjo soto babat dan diberikan makanan yang tinggi protein dan calsium.
1.7.4. Foto rontgen
1.7.5. EKG










LANDASAN TEORI
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN
DENGAN KASUS REUMATOID HEART DESEASE
( R H D )

2.1. PENGKAJIAN
2.1.1. observasi / temuan
2.1.1.1 Nyeri
1) kaki, betis, paha, atau bokong
2) Tajam dan seperti terjepit
3) Kram
4) Perasaan lelah pada kaki
5) Biasanya terjadi pada saat latiohan; menurun bila latihan dihentikan ( klaudikasi intermitten )
6) Dapat terjadi pada saat istirahat, khususnya poada malam hari
7) Meningkat pada peninggian tungkai.
2.1.1.2 Menurun sampai tidak adanya nadi pedal

2.1.1.3 Ekstermitas

1) Penebalan kuku, akumulasi zat tanduk
2) Pucat
3) Rubor
4) Edema
5) Pengisian vena terlambat padaposisi tergantung
6) Kulit mengkilat, tipis, halus, dingin, atropi.
2.1.2. ADL ( aktivity Daily Life )
2.1.2,1 Aktifitas
Keletihan, malaise, keterbatasan rentang gerak atropi otot, kontraktur/ kelainan pada sendi otot.
2.1.2.2 Cardio vaskuler
Fenomena reynoud jari tangan/ kaki misalnya pusat intermitten sianosis, kemerahan pada jari
2.1.2.3 Integritas ego
Faktor stres akut/ kronis seperti finansial,pekerjaan, ketidakmampuan, ancaman pada konsep diri.
2.1.2.4 Nutrisi
Penurunan berat badan kekeringan pada membran mukosa, dehidrasi, kesulitan mengunyah, mual, anoreksia.
2.1.2.5 Higiene
Ketergantungan pada orang lain, berbagai kesulitn untuk melaksanakan aktifitas perawatan pribadi.
2.1.2.6 Interaksi sosial
Perubahan peran, isolasi.
2.1.3. Pemeriksaan diagnostik
2.1.3.1. LED meningkat 80-100 mm/h
2.1.3.2. Protein C-reactif (+) selama masa eksaserbasi.
2.1.3.3. SDP meningkat pada waktu timbul proses inflamasi.
2.1.3.4. JDL menunjukkan anemia sedang.
2.1.3.5. Ig Iig M dan Ig G ) sebagai proses autoimun penyebab AR.
2.1.3.6. Sinar-X menunjukkan pembengkakan pada jaringan lunak, erosi sendi, osteoporosis.
2.2. PRIORITAS KEPERAWATAN
2.2.1. Menghilangkan nyeri
2.2.2. Meningkatkan mobilitas
2.2.3. Meningkatkan konsep diri yang positif
2.2.4. Mendukung kemandirian
2.2.5. Memberikan informasi mengenai proses penyakit/prognosis dan keperluan pengobatan.
2.3. TUJUAN KEPERAWATAN
2.3.1. Nyeri hilang/terkontrol
2.3.2. Pasien menghadapi situasi saat ini secara realistis
2.3.3. Pasien dapat menangani AKS sendiri/dengan bantuan.
2.3.4. Proses/prognosis penyakit dan aturan terapeutik di pahami
2.4. DIAGNOSA KEPERAWATAN
2.4.1. Nyeri akut/kronis berhubungan dengan distensi jaringan oleh akumulasi cairan/proses inflamasi, destruksi sendi.
2.4.2. Mobilitas fisik, kerusakan berhubungan dengan deformitas skeletal, nyeri, ketidak nyamanan, intoleran aktifitas penurunan kekuatan otot.
2.4.3. Cemas berhubungan dengan ancaman atau perubahan kesehatan dan status sosioekonomi, ancaman kehilangan/kematian, tidak sadar konflik tentang esensi nilai, keyakinan dan tujuan hidup.
2.4.4. Penatalaksanaan pemeliharaan rumah, kerusakan, resiko tinggi, terhadap proses peyaj\kit degeneratif jangka panjang, sistem pendukung tidak adekuat.
2.4.5. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan frekwensi, irama, konduksi elektrikal, penurunan pre load/peningkatan tahanan vaskuler sistemik (TUS ), otot infark/diskinetik, keruasakan struktural.
2.5. INTERVENSI
2.5.1. Diagnosa I
2.5.1.1. Tujuan : nyeri dapat berkurang/hilang
2.5.1.2. Kriteria hasil meliputi :
1) Menunjukkan nyeroi berkurang/hilang
2) Terlihat rileks, dapat tidur/istirahat
3) Berpartisipasi dalam aktifitas sesuai kemampuan.
2.5.1.3. Intervensi
1) Kaji keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas ( skala 0-10 ). Catat faktor yang memcepat dan tanda sakit non verbal.
R/ membantu dalam memetukan kebutuhan dan manajemen nyeri dan keefektifan program.
2) Biarkan pasien mengambil posisi yang nyaman.
R/ pada penyakit yang berat torah baring sangat diperlukan untuk membatasi nyeri/cidera berlanjut.
3) Berio obat sebelum aktifitas/latihan yang direncanakan.
R/ menigkatkan relaksasi, mengurangi ketegangan otot/spasme.
4) Observasi gejala kardinal.
R/ gejala kardinal menunjukkan keadaan fisik dari organ-organ vital tubuh, juga dapat memberikan gambaran kondisi pasien.
2.5.2. Diagnosa II
2.5.2.1. Tujuan : klien mampu melakukan mobilitas fisik tanpa keluhan
2.5.2.2. Kriteria hasil meliputi :
1) Tingkat aktifitas meningkat
2) FJ,TD, P dalam batas yang dapat ditolerir.
2.5.2.3. Intervensi
1) Kaji dan pantau adanya tanda –tanda aktifitas yang tidak toleran
2) Periksa TD,FJ dan pernapasan sebelum dan sesudah aktifitas
3) Pwertahanklan istirahat ditempat tidur atau dikursi
4) Identifikasi faktor penyebab kelelahan.
5) Beri jarak waktu pengobatan dan prosedur tindakan.
6) Tingkatkan latihan aktifitas sesuai indikasi oleh kondisi.
2.5.3. Diagnosa III
2.5.3.1. Tujuan : cemas berkurang atau terkontrol
2.5.3.2. Kriteria hasil meliputi :
1) Klien dapat mengenal dan mengidentifikasi perasaannya.
2) Klien mampu menyatakan penurunsn ansietas/cemas.
3) Mengidentifikasi sumber secara tepat.
2.5.3.3. Intervensi
1) Identidfikasi dan ketahui persepsi pasien terhadap ancaman /situasi.
R/ koping terhadap trauma dan takut mati dapat mnempengaruhi dampak serangan jantung secara berkelnjutan.
2) Catat adanya kegelisahan, menolak dan/atau menyangkal tentang ancaman kehilangan/kamatian.
R/ mengidentifikasi perasaan klien sehingga dapat ditentukan tindakan yang akan dilakukan.
3) Berikan waktu luang pada klien untuk mengungkapakan kecemasan
R/ mengurangi beban perasaan klien dengan memberikan perhatian dan solusi terbaik buat klien.
4) Berikan informasi terhadap kondisi, prosedur dan tindakan diagnostik.
R/ mengurangi kecemasan klien terhadap kekurang tahuan terhadap tindakan/prosedur asing.

2.5.4. Diagnosa IV
2.5.4.1. Tujuan :
1) Klien mampu melakukan penatalaksanaan di rumah secra benar dan mandiri
2) Tidak terjadi kerusakan berlanjut.
3) Klien mamapu secaramandiri melaksanakan kegiatan sehari-hari.
2.5.4.2. Kriteria hasil meliputi :
Klien mampu mengungkapkan pemahaman proses penyakit dan pengetahuan mengenai perawatan diri sehingga kekambuyhan enyakit yang diderita dapat diminimalkan.

2.5.4.3. Intervensi
1) Kaji tingkat pemahaman klien terhadap cara pemberian obat, dosis, jadwal pemberian
2) Diskusikan kemungkinan kekambuhan penyakit
3) Jelaskan pentingnya perawatan diri
(1) pertahanan kulit tugkai/kaki hangat dan kering
(2) hindari menggigil.
(3) Jangan masase area yang sakit.
4) Jelaskan untuk memeriksakan diri ke dokter
5) Diskusiakn tanda dan gejala yang mungkin timbul
(1) nyeri sendi
(2) edema ekstermitas.
6) Jelaskan pentingnya rawat jalan secara terus menerus.
2.5.5. Diagnosa V
2.5.5.1. Tujuan :curah jantung adekuat, hemodinamik stabil, tekanan darah dapat ditolerir dalam batas normal.
2.5.5.2. Kriteria hasil meliputi :
1) Mempertahankan stabilitas hemodinamik seperti TD, curah jantung dalam rentang normal, penurunan/tak adanya disritmia.
2) Klien mampu mendemonstrasikan peningkatan toleransi terhadap aktifitas.
2.5.5.3. Intervensi
1) Auskultasi TD, bandingkan kedua tangan dan ukur dengan tisdur
R/ hipotensi dapat terjadi sehubungan dengan disfungsi ventrkel, hipoperfusi miokardial dan rangsang vagal.
2) Evaluasi kwalitas dan kesamaan nadi sesuai indikasi
R/ penurunan curah jantung mengakibatkan menurunnya kelemahan/kekuatan nadi.

3) Catat terjadinya S3, S4.
R/ S3 biasanya dihubungkan dengan GJK tetapi juga terlihat pada adanya gagal mitral. S4 mungkin berhubungan denagn iskemia miokardia, kekakuan ventrikel dan hypertensi pulmonal.
4) Pantau frekwensi jantung dan iramanya.
R/ frekwensi dan irama jantung berespon terhadap obat dan aktifiats sesuai dengan terjadinya komplikasi yang mempengaruhi kerja jantung.

2.6. IMPLEMENTASI
Implementasi dapat dilaksanakan sesuai dengan intervensi stiep diagnosa yang diangkat dengan memperhatikan kemampuan pasien dalam mentolerir tindakan yang akan dilakukan.

2.7. EVALUASI
2.7.1. Interview dengan keluarga pasien tentang pengetahuan dalam menghindari faktor pencetus terjadinya jantung reumatik
2.7.2. Observasi gejala dan serangan kelemahan kontrktilitas jantung.
2.7.3. Kaji kesehatan umum klien.
2.7.4. Observasi klien dan bicarakan dengan keluarga tentang macam –macam permasalahan yang dihadapi dan komplikasi lain
2.7.5. Interview dengan klien tentang kegiatan sehari-dari
2.7.6. Tentukan persetujuan dimana keluarga dan klien mengerti kondisi klien dan perpanjangan terapi yang dilaksanakan.

DEVEK SEPTUM VENTRIKEL

DEVEK SEPTUM VENTRIKEL

I. KONSEP DASAR MEDIS
Pengertian
DSV (Devek Septum Ventrikel) adalah suatu keadaan abnormal yaitu adanya pembekuan antara ventrikel kiri dan ventrikel kanan. (Suriadi dan Rita Y. 2001 : 295)

Etiologi
Penyebab secara pasti tidak diketahui, akan tetapi terdapat beberapa faktor predisposisi penyebab terjadinya VSD, yaitu pada saat hamil Ibu menderita rubella. Ibu hamil dengan alkoholik, usia Ibu padasaat hamil lebih dari 40 tahun, Ibu menderita IDDM (Insulin Dependent Diabetes Mellitus).
(referensi) (Suriadi dan Rita Y. 2001 : 295)
Faktor genetik : anak dengan down syndrome, memiliki resiko terjadinya DSV. (referensi) (Suriadi dan Rita Y. 2001 : 295)

Patofisiologi
Defek Septum Ventrikel ditandai dengan adanya hubungan septal yang memungkinkan darah mengalir langsung antar ventrikel, perubahan fisiologis yang terjadi dapat dijelaskan sebagai berikut :
Adanya defek pada ventrikel menyebabkan tekanan ventrikel kiri meningkat dan resistensi sirkulasi arteri sistemik lebih tinggi dibandingkan resistensi pulmonal, hal ini akan mengakibatkan darah mengalir ke arteri pulmonal melalui defek septum.


Volume darah dari paru akan meningkat dan terjadi resistensi pembuluh darah paru dengan demikian tekanan ventrikel kanan meningkat akibatnya ada shunting dari kiri ke kanan. Ini akan mengakibatkan adanya resiko endokarditis dan mengakibatkan terjadinya hipertrofi otot ventrikel kanan sehingga akan berdampak pada peningkatan workload, terjadilah pembesaran atrium kanan untuk mengatasi resistensi yang disebabkan oleh pengosongan atrium yang tidak sempurna.

Klasifikasi (Mansjoer Arif dkk ; 2000 : 445)
Berdasarkan kelainan hemodinamik VSD terdiri dari :
DSV Kecil
Biasanya asimptomatik jantung normal atau sedikit membesar dan tidak ada gangguan tumbuh kembang, bunyi jantung biasanya normal dapat ditemukan bising sistolik dini pendek yang mungkin didahului early systolic click. Ditemukan pula bising pansistolik yang biasanya keras disertai getaran bising dengan pungtum maksimum di sela iga III – IV garis parasternal kiri dan menjalar ke sepanjang sternum kiri, bahkan ke seluruh prekordium.
DSV Sedang
Gejala timbul pada masa bayi berupa sesak nafas saat minum atau memerlukan waktu lebih lama/tidak mampu menyelesaikan makan dan minum. Kenaikan berat badan tidak memuaskan dan sering menderita infeksi paru yang lama sembuhnya. Infeksi paru ini dapat mendahului terjadinya gagal jantung yang mungkin terjadi pada umur 3 bulan, bayi tampak kurus, despnu, talapnu, serta retraksi. Bentuk dada biasanya masih normal. Pada pasien yang besar dada mingkin sudah menonjol. Pada auskultasi terdengar bunyi getaran bising dengan pungtum maksimum di sela iga III – IV garis paristernal kiri yang menjalar ke seluruh prekordium
DSV Besar
Gajala ini timbul pada masa neonatus pada minggu I sampai III dapat terjadi parau kiri ke kanan yang bermakna dan sering menimbulkan despnu. Gagal jantung biasanya timbul setelah minggu ke VI. Sering di dahului infeksi saluran nafas bawah. Bayi sesak nafas saat istirahat, kadang tampak sianosis karena kekurangan O2 akibat gangguan pernafasan. Biasanya bunyi jantung masih normal dapat didengar bising pansistolik dengan atau tanpa getaran bising melemah pada akhir sistolik karena terjadi tekanan sistolik yang sama besar pada kedua ventrikel. Bising mid diastolik di daerah mitral mungkin terdengar akibat flow mur mur pada fase pengisian cepat. Saat terjadi parau terbalik dari kanan ke kiri pasien tampak sianotik dengan keluhan dan gejala yang lebih berat. Anak gagal tumbuh, sianotik dengan jari-jari tabuh (clubbing fingers). Dada kiri menonjol dengan peningkatan ventrikel kanan yang hebat. Bj I normal akan tetapi Bj II mengeras dengan splits yang sempit. Bising yang sebelumnya jelas menjadi berkurang intensitasnya, kontur bising yang semula pansistolik berubah menjadi ejeksi sistolik. Hati menjadi teraba besar akibat bendungan sistemik namun edema jarang ditemukan.
Manifestasi Klinis
Adanya tanda – tanda gagal jantung kanan, sesak, terdapat mur – mur, distensi vena jugularis, edema tungkai, hepatomegali.
Dhiaporesis
Tidak mau makan
Tachypnea.
Pemeriksaan Diagnostik
Auskultasi Jantung : bising sistolis yang terdengar hampir sama dengan yang didapat pada cacat – cacat yang lebih kecil ukurannya tetapi secara penutupan katup pulmonal terdengar lebih keras dan suara jantung ke – 2 hanya terbelah secara sempit, adanya bising diastolik puncak jantung menunjukkan adanya suatu pintasan dari kiri ke kanan.
Pantau tekanan darah
Foto Rontgen : akan terlihat pembesaran jantung, trunkus pulmonalis yang menonjol serta peredaran darah paru yang berlebihan.
ECG : memperlihatkan hipertrofi yang mengenai kedua ventrikel : gelombang – gelombang p tampak meruncing.
Echocardiogram : memperlihatkan beban volume atrium serta ventrikel kiri yang berlebihan, luasnya penambahan dimensi – dimensi mereka mencerminkan besarnya ukuran pintasan dari kiri ke kanan.

Penatalaksanaan (Mansjoer Arif dkk ; 2000 : 446)
DSV Kecil
Tidak memerlukan penangganan medis, hanya memerlukan Antibiotik Frofilaksis untuk mencegah Endokarditis pada tindakan tertentu
DSV Sedang
a) Terapi Medik
Bila klien dalam keadaan gagal jantung diberikan terapi gagal jantung (digiralis) kemudian dilakukan katerisasi untuk menilai keadaan Hemodinamik.
b) Terapi Bedah
Klien DSV sedang, dapat dilakukan bila klien berumur 4 – 5 tahun.


DSV besar dengan hipertensi pulmunal dengan hiperkinerik
Terapi medik untuk DSV besar sama dengan DSV sedang, katerisasi diulang sekitar klien berumur 2 tahun untuk menilai hemodinamik. Bila tidak dilakukan perbaikan keadaannya makin memburuk.
DSV besar dengan penyakit obtruksi vasikuler paru
Bila klien ini dilakukan uji oksigen atau tolazolin pada saat katerisasi jantung. Bila tahanan vasikuler paru masih dapat menurun dengan bermakna (ditandai dengan kenaikan saturasi dan penurunan tekanan arteri pulmunalis) maka diperlukan operasi segera. Bila uji tersebut tidak menurunkan tahanan vasikuler paru atu terjadi sindrom eisenmenger. Maka klien tidak perlu/ tidak dapat dioperasi dan hanya terapi yang diberikan bersifat suportif – simfomatik.
Penatalaksanaan
Pembedahan : menutup defek dengan dijahit melalui cardio pulmonalis.
Non Pembedahan : menutup defek denan alat melalui kateterisasi jantung.

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
Biodata : terjadi pada bayi dan anak.
Keluhan Utama
Sesak nafas
Riwayat penyakit sekarang
Sesak nafas, sianosis, kelemahan, nafas cepat
Riwayat penyakit keluarga
Di dalam keluarga ada yang menderita penyakit jantung.
Aktivitas sehari – hari
Nutrisi
Mengalami anoreksia, mual, muntah.
Istirahat
Mengalami gangguan karena sesak nafas.
Aktifitas
Mengalami kelemahan fisik, letih, lelah.

2. PEMERIKSAAN FISIK
Kepala
Mata : Konjungtiva merah muda.
Hidung : Ada peernafasan cuping hidung, terdapat cianosis.
Mulut : Mukosa bibir kering.
Dada : Pergerakan dada tidak simetris, ada tarikan Intercostae, terdengar bunyi jantung 1 dan 2 normal, terdengar bising pansistolik disela iga bawah tepi kiri sternum yang menjalar ke sepanjang sternum atau punggung hepatomegali.

Ekstremitas :
Atas : Ada clubbing fingers, ujung – ujung jari hipermik.

3. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Penurunan Curah Jantung berhubungan dengan ketidakefektifan kontraktilitas jantung preload dan afterload.
Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan karidak out put.
Resiko injury berhubungan dengan menurunnya tingkat kesadaran.
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafaas oleh sekret.
Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidak seimbangan antara pemakaian O2 oleh tubuh dan suplai O2 ke sel.
Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelelahan.
Gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan gangguan hemodinamik ventrikel kanan dan kiri.

4. PERENCANAAN KEPERAWATAN
Diagnosa 1
Penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakefektifan kontraktivitas jantung preload dan afterload
Tujuan
Menjaga keseimbangan antara pre load dan after load
Kriteria Hasil
1) Klien mengalami peningkatan curah jantung
2) Klien mengalami penurunan frekwensi curah jantung.

3) Peningkatan keluaran hasil.
4) Penurunan frekwensi pernafasan.
Intervensi
1) Kaji frekwensi pernafasan dan apikal istirahat tiap 1 – 2 jam dan jika diperlukan.
R/ Hasil frekwensi pernafasan dan adanya tanda – tanda sesak dapat dideteksi secara dini.
2) Pantau Kadar Elektrolit
R/ Adanya peningkatan natrium dan klorida dapat menunjukkan penyerapan cairan pada ginjal yang menurun.
3) Batsi pemasukan cairan
R/ Kelebihan volume cairan sering menimbulkan kongesti pada paru. Gejala odem paru dapat menunjukkan gagal jantung.
4) Timbang BB tiap hari
R/ Penimbangan BB tiap hari dapat menunjukkan adanya kenaikan ataupun penurunan BB.
5) Pantau intake dan output cairan
R/ Terapi diuretik dapat disebabkan oleh kehilangan cairan tiba – tiba atau berlebiha, meskipun ada oedema.
6) Kolaborasi dengan tim kesehatan dengan pemberian diuretik atau digoksin.
R/ Diuretik akan meningkatkan laju aliranurine dan dapat menghambat reabsorbsi Natrium dan Klorida.

Diagnosa II
Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan kardiak out put.
Tujuan
Peningkatan kardiak out put
Kriteria Hasil
1) Tanda vital dalam batas normal
2) Tidak ada odem
Intervensi
1) Kaji adanya tanda-tanda sianosis, pucat.
R/ Vasokontruksi sistemik diakibatkan oleh penurunan curah jantung mungkin dibuktikan oleh penurunan perfusi kulit dan penurunan nadi.
2) Pantau pernafasan dan catat kerja pernafasan.
R/ Pompa jantung gagal dapat mencetuskan distres pernafasan.
3) Kaji fungsi Gastrointestinal, catat Anoreksia.
R/ Penurunan aliran darah ke mensenteri dapat mengakibatkan disfungsi gastrointestinal.

Diagnosa III
Resiko injury berhubungan dengan menurunnya tingkat kesadaran
Tujuan
Px terhindar dari resiko injury.
Kriteria Hasil
Klien bisa merespon stimulus sesuai dengan perkembangan usianya.
Intervensi
1) Kaji status neurologi anak.
R/ Meningkatnya tingkat kesadaran anak
2) Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi.
R/ Untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi anak.
3) Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering dan makanan yang menarik untuk Px
R/ Tindakan ini dapat meningkatkan masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali.

Diagnosa IV
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas untuk sekret
Tujuan
Pertukaran gas menjadi optikal.
Kriteria Hasil
Px menunjukkan perbaikan ventilasi dan O2 jaringan adekuat
Intervensi
1) Kaji frekuensi kedalaman pernafasan.
R/ Berguna dalam evaluasi derajat distres pernafasan
2) Posisikan anak dengan tepat agar ada upaya untuk bernafas.
R/ Pengiriman O2 dapat diperbaiki dengan posisi duduk.
3) Kaji secara rutin kulit dan warna membran mukosa.
R/ Keabu-abuan dan sinosis sentral mengidentifikasi besarnya hipoksemia
4) Dorong mengeluarkan sputum
R/ Penghisapan dibutuhkan bila batuk tidak efektif
5) Auskultasi bunyi nafas
R/ Adanya mengi, mengidentifikasikan spasme bronkus / tertahannya sekret
6) Pemberian oksigen sesuai program
R/ Memenuhi suplai O2¬


Diagnosa V
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidak seimbangan antara pemakaian O2 oleh tubuh dan supali O2 ke sel.
Tujuan
Anak toleran terhadap aktivitas
Kriteria hasil
1) Aktivitas anak kembali normal
2) Anak tidak pucat
Intervensi
1) Evaluasi peningkatan intoleran aktivitas anak
R/ Dapat menunjukkan peningkatan dekompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas
2) Rencanakan keperawatan dengan periode istirahat
R/ Memberikan keseimbangan dalam kebutuhan dimana aktivitas bertumpu pada jantung
3) Berikan dukungan kepada anak untuk melakukan kegiatan sehari-hari
R/ Anak mengetahui kemampuannya untuk melakukan kegiatan sehari-hari

Diagnosa VI
Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelelahan
Tujuan
Klien dapat menunjukkan / mempertahankan berat badan yang normal
Kriteria hasil
1) Berat badan meningkat
2) Klien mentoleransi dietnya dengan masukan kalori yang adekuat
Intervensi
1) Tingkatan kalori dalam bentuk formula, terutama pada klien yang dibatasi cairannya
R/ Dengan peningkatan kalori dalam bentuk formula akan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi pada klien dan dapat mengurangi beban kerja jantung karena rendah cairan
2) Hindari kelelahan yang sangat, saat makan
R/ Kelemahan fisik saat makan akan mengurangi nafsu makan
3) Berikan makan dalam porsi kecil tapi sering
R/ Makanan porsi kecil tapi sering akan mengurangi adanya mual, muntah dan mengurangi kerja lambung secara maksimal
4) Gunakan selang NBT untuk pemberian makan pada bayi yang tidak makan per oral
R/ Nutrisi harus selalu diberikan pada tubuh bagaimanapun caranya agar dapat memenuhi kebutuhan tubuh terhadap nutrisi.
5) Kolaborasi dengan tim gizi
R/ Dengan kolaborasi akan dapat menentukan kebutuhan nutrisi dan macam diet yang diberikan

Diagnosa VII
Gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan gangguan hemodinamik ventrikel kanan dan kiri.
Tujuan
Tidak meperlihatkan tanda-tanda kelebihan cairan


Kriteria hasil
Tidak ada Edema
Intervensi
1) Monitor intake dan out put
R/ Perlu untuk menentukan fungsi jantung, kebutuhan penggantian cairan dan penurunan resiko kelebihan cairan
2) Monitor berat badan
R/ Penimbangan berat badan harian adalah pengawasan cairan terbaik
3) Kaji Edema, turgor kulit, membran mukosa
R/ Edema terjadi terutama pada masa jaringan yang tergantung pada tubuh

5. IMPLEMENTASI
Melaksanakan Implementasi sesuai dengan Rencana Keperawatan.

6. EVALUASI
Adanya minat dan seleran makan
Porsi makan sesuai dengan kebutuhan
Klien tidak sesak
Orang tua mengerti tentang penyakit anaknya

DAFTAR PUSTAKA

Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Kesehatan Anak II, INFOMEDIA, Jakarta.
Mansjoer, Arif, Dkk. (1999), Kapita Selekta Kedokteran Jilid II, Media Fesculapius, Jakarta
Ngastiyah, (1997), Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta.
Nelson, Ilmu Kesehatan Anak, ECG, 2000.
Betz L. Cecily, PhD., RN., Keperawatan Pediatri, Edisi 3, 2002.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN POST TREPANASI DENGAN INDIKASI TUMOR OTAK

2.1 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN POST TREPANASI DENGAN INDIKASI TUMOR OTAK
2.1.1 Landasan Teori
1) Pengertian
Tumor otak adalah lesi oleh karena ada desakan ruang baik jinak maupun ganas yang tumbuh diotak, meningen dan tengkorak.
2) Etiologi
(1) Riwayat trauma kepala
(2) Faktor genetik
(3) Paparan bahan kimia yang bersifat carsinogenik
(4) Virus tertentu
3) Patofisiologi
Tumor otak terjadi karena adanya proliferasi atau pertumbuhan sel abnormal secara sangat cepat dan daerah sentral nervous system (CNS). Sel ini akan terus berkembang mendesak jaringan otak yang sehat disekitarnya, mengakibatkan terjadi gangguan neurologik (gangguan fokal akibat tumor dan peningkatan tekanan intrakranial).
4). Klasifikasi
(1) Berdasarkan jenis tumor
- Jinak
• Acoustic neuroma
• Meningioma
• Pituitary adenoma
• Astro cytoma ( grade I. )
- Malignant
• Astro cytoma ( grade 2, 3, 4 )
• Oligodendroglioma
• Apendymoma
(2) Berdasarkan lokasi
- Tumor intradural
• Ekstra medular
- Cleurofibroma
- Meningioma
• Intra medular
- Apendymoma
- Astrocytoma
- Oligodendiglioma
- Hemangioblastoma
- Tumor ekstra dural
Merupakan metastase dari lesi primer, biasanya pada payudara, prostat, tiroid, paru-paru, ginjal dan lambung.
5). Manifestasi Klinis
(1) Nyeri kepala
Nyeri bersifat dalam, terus-menerus, tumpul dan kadang-kadang bersifat hebat sekali. Biasanya paling hebat pada pagi hari dan diperberat saat beraktifitas, yang biasanya menyebabkan peningkatan TIK yaitu batuk.
(2) Nausea dan muntah
Akibat rangsangan pada medula oblongata.
(3) Papilodema
Stasis vena menimbulkan pembengkakan papila syaraf optikus.



2. LANDASAN ASUHAN KEPERAWATAN
2.1 Pengkajian
1) Identifikasi faktor resiko paparan dengan radiasi atau bahan-bahan kimia yang bersifat carsinogenik.
2) Identifikasi tanda dan gejala yang dialami : sakit kepala, muntah dan penurunan penglihatan atau penglihatan double.
3) Identifikasi adanya perubahan perilaku klien
4) Observasi adanya hemiparase atau hemiplegi
5) Perubahan pada sensasi : hyperesthesia, paresthesia
6) Observasi adanya perubahan sensori : asteregnosis ( tidak mampu merasakan benda tajam ), agnosia ( tidak mampu mengenal obyek pada umumya ), approxia ( tidak mampu menggunakan alat dengan baik ), agrophia ( tidak mampu menulis ).
7) Observasi tingkat kesadaran dan tanda vital
8) Observasi keadaan keseimbangan cairan dan elektrolit.
9) Psikososial : perubahan kepribadian dan perilaku, kesulitan mengambil keputusan, kecemasan dan ketakutan hospitalisasi, diagnostik test, dan prosedur pembedahan, adanya perubahan peran.
10) Laboratorium
- Jika tidak ada kontra indikasi
- Fungsi endrokrin
11) Radiografi
- CT Scan
- Elektroencephalogram
- X-rays paru dan organ lain untuk mencari adanya metastase.
2.2 Diagnosa keperawatan
2.2.1 Perubahan perfusi jaringan otak b/d kerusakan sirkulasi akibat penekanan oleh tumor
2.2.2 Nyeri b/d peningkatan tekanan intrakranial
2.2.3 Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b/d ketidak mampuan mengenal informasi.

2.3 Rencana intervensi
2.3.1 Perubahan perfusi jaringan otak b/d kerusakan sirkulasi akibat penekanan oleh tumor
Data penunjang : perubahan tingkat kesadaran, kehilangan memori, perubahan respon sensorik/ motorik, gelisah, perubahan tanda vital.
Kriteria hasil : tingkat kesadaran stabil atau ada perbaikan, tidak ada tanda-tanda peningkatan TIK.
Intervensi :
1) Pantau status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nilai standar R/ Mengkaji adanya perubahan pada tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK dan bermanfaat dalam menentukan lokasi perluasan dan perkembangan kerusakan SSP.
2) Pantau tanda vital tiap 4 jam
R/ Normalnya autoregulasi mempertahankan aliran darah ke otak yang stabil. Kehilangan autoregulasi dapat mengikuti vaskulasrisasi serebral loka dan menyeluruh.
3) Pertahanan posisi netral atau posisi tengah, tinggikan kepala 200 - 300.
R/ Kepala yang miring pada salah satu sisi menekan vena jugularis dan menghambat aliran darah vena yang selanjutnya akan meningkatkan TIK
4) Pantau ketat pemasuan dan pengeluaran cairan, turgor kulit dan keadaan membran mukosa.
R/ Bermanfaat sebagai indikator dari cairan total tubuh yang terintegrasi dengan perfusi jaringan
5) Bantu pasien untuk menghindari /membatasi batuk, muntah, pengeluaran feses yang dipaksakan/ mengejan
R/ Aktivitas ini akan meningkatkan tekanan intra thoraks dan intra abdomen yang dapat meningkatkan TIK
6) Perhatikan adanya gelisah yang meningkat, peningkatan keluhan dan tingkat laku tidak sesuai lainnya.
R/ Petunjuk non verbal ini mengidikasikan adanya penekanan TIK atau menandakan adanya nyeri ketika pasien tidak dapat mengungkapkan keluhannya secara verbal.
2.3.2 Nyeri b/d peningkatan tekanan intrakrania1
Data penunjang : Klien mengatakan nyeri, pucat pada wajah, gelisah, perilaku tidak terarah/ hati-hati, insomnia, perubahan pola tidur.
Kriteria hasil : Klien melaporkan nyeri berkurang/ terkontrol, klien menunjukkan perilaku untuk mengurangi kekambuhan.

Intervensi
1) Teliti keluhan nyeri : intensitas, karakteristik, lokasi, lamanya, faktor yang memperburuk dan meredakan
R/ Nyeri merupakan pengalaman subyektif dan harus dijelaskan oleh pasien. Identifikasi karakteristik nyeri dan faktor yang berhubungan merupakan suatu hal yang amat penting untuk memilih intervensi yang cocok dan untuk mengevaluasi keefektifan dan terapi yang diberikan
2) Observasi adanya tanda-tanda adanya nyeri non verbal seperti ekspresi wajah, gelisah, menangis/ meringis, perubahan tanda vital
R/ Merupakan indikator / derajat nyeri yang tidak langsung dialami
3) Intruksikan pasien / keluarga untuk melaporkan nyeri dengan segera jika nyeri timbul
R/ Pengenalan segera meningkatkan intervensi dini dan dapat mengurangi beratnya serangan.
4) Berikan kompres diingin pada kepala
R/ Meningkatkan rasa nyaman dengan menurunkan vasodilatasi
2.3.3 Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b/d ketidak mampuan mengenal informasi
Data penunjang : Klien dan keluarga meminta informasi, ketidak akuran mengikuti instruksi, perilaku yang tidak tepat.
Kriteria hasil : Klien/ keluarga mengungkapkan pemahaman tentang kondisi dan pengobatan, memulai perubahan perilaku yang tepat.
Intervensi :
1) Diskusikan etiologi individual dari sakit kepala bila diketahui
R/ Mempengaruhi pemilihan terhadap penanganan dan berkembang kearah proses penyembuhan
2) Bantu pasien dalam mengidentifikasi kemungkinan faktor predisposisi
R/ Menghindari/ membatasi faktor-faktor yang sering kali dapat mencegah berulangnya serangan
3) Diskusikan mengenai pentingnya posisi/ letak tubuh yang normal
R/ Menurunkan regangan pada otot daerah leher dan lengan dan dapat menghilangkan ketegangan dari tubuh dengan sangat berarti
4) Diskusikan tentang obat dan efek sampingnya
R/ Pasien mungkin sangat ketergantungan terhadap obat dan tidak mengenali bentuk terapi yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Arthar C. Guxton and John E. Hall (1997), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, edisi 9, Penerbit kedokteran EGC, Jakarta.

Carolyn M. Hudak, barbar M. Ballo (1996), Keperawatan Kritis ; Pendekatan Holistik, Volume II, Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta.

Marlyin E. Dongoes, Masy Frances Moorhouse, Alice C. Geisses (2000), Rencan Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta.

TETRALOGI FALLOT

TETRALOGI FALLOT

A. KONSEP MEDIS
1. PENGERTIAN
Pengertian
• Tetralogi Fallot adalah kelainan jantung bawaan dengan gejala sianosis yang timbul sejak bayi lahir dan bertambah nyata jika bayi menangis / menetek lama (Ngastiyah : 1997).
• Tetralogi Fallot adalah penyakit jantung bawaan sianotik yang paling sering ditemukan (kapita selekta Kedokteran jilid 2 : 2000).
• Tetralogi Fallot adalah penyakit jantung bawaan sianotik yang paling sering ditemukan pada bayi lahir dan bertambah nyata jika bayi menangis/menetek lama.
Etiologi
• Faktor heriditer (keturunan).
• Faktor dari luar yang menyebabkan gangguan tumbuh
misal : infeksi vital yang diderita Ibu selama hamil.
Penyakit rubella pada trismester I kehamilan.
Patofisiologi
Aliran balik vena sistemik ke atrium kanan dan ventrikel kanan normal, bila ventrikel kanan berkontraksi perlu adanya stenosis pulmonal yang mencolok. Darah melalui shunt usp ke dalam aorta. Akibatnya desaturasi arteria dan sianosis menetap. Tekanan besar disebelah saluran aliran keluar ventrikel kanan yang tersumbat dan tekanan arteria pulmonalis biasanya lebih rendah dari normal, tingkat penyumbatan aliran keluar ventrikel kanan menentukan waktu mulainya gejala . keparahan sianosis dan tingkat hipertrofi ventrikel kanan (Kapita Selekta Kedokteran jilid 2 : 2000)









Tanda dan Gejala
• Sianosis
• Dispnea
• Squating
• Clubbing
• Td tahap awal normal tapi setelah menjalani sianosis dan polisitemia berat.
• Anemia
• Gagal Tumbuh
• Asidosis
• Hipoksia
Kelainan yang timbul
• Stenosis Pulmonal
• Dekstroposisi pangkal aorta
• Defek septum ventrikel
• Super trofi ventrikel kanan.
Komplikasi
• Infeksi saluran nafas
• Dehidrasi
• Trombosis Otak
• Abses Otak
• Endokarditis Bakterial
• Gagal Jantung Kongestif.
Penatalaksanaan.
• Penatalaksanaan Medis
- Antibiotik
- Diuretik digunakan untuk meningkatkan diuresis.
- Digitalis meningkatkan kekuatan kontraksi jantung.
- Besi untuk mengatasi anemia.
- Propanolol untuk mengatasi turunnya denyut jantung.
- Morfin (Analgesik)
- NaHCO3 untuk mengobati asidosis.
• Penatalaksanaan Bedah.
- Tindakan paliatik.
- Tindakan definity

LANDASAN ASKEP
1.1 Biodata Klien
Sering terjadi pada bayi baru lahir, laki – laki/ perempuan sama bayi umur 0 – 6 bulan  sianosis.
1.2 Keluhan Utama
Bayi sering menetek/ menangis  Sianosis, Lemah, Dispnea, Hipoksia, Anemia.
1.3 RPS
Klien malas beraktifitas dan tahap perkembangan anak tidak baik  sianosis.
1.4 RPD
Sering terjadi pada Ibu yang melahirkan berusia tua/ Ibu terkena infeksi Nbella.
1.5 RPK
Dikeluarga terdapat PJB
1.6 ADL
• Pola Nutrisi
DX Anoreksia  menyebabkan gangguan pada pertumbuhan dan perkembangannya.
• Pola Aktifitas
Aktifitas terbtas
• Pola Istirahat Tidur.
Tidur terganggu karena Dispnea.
• Pola Personal Hygiene
Sesuai dengan keterbatasan aktifitas.
1.7 Pemeriksaan
• Pemeriksaan Umum
TD : Sianosis berat : TD meningkat.
Nadi : Biodikardi
Suhu : Bisa turun bisa naik
RR : Tactupnea
BB : Kurang dari normal.
• Pemeriksaan Fisik
Mata : Konjungtiva pucat.
Bibir : Sianosis
Hidung : Pergerakan cuping hidung.
Dada : Bunyi S1 dan S2 tunggal murmur
Ekstremitas : Jari – jari tabuh
1.8 Pemeriksaan Penunjang
• Elektrokardiogram  menampakkan deviasi sumbu kekanan dan bukti adanya hipertrofi ventrikel kanan.
• Ekokardiorafi dua dimensi  memberi informasi mengenai luas penumpangan aorta pada sekat, lokasi dan derajat penyumbatan saluran aliran keluar ventrikel kanan.
• Kotensasi jantung  memperagakan sistolik dalam ventrikel kanan sana dengan tekanan sistematis.
• Katensasi jantung  memperagakan tekanan sistolik dalam ventrikel kanan sama dengan tekanan sistemik.
1.9 Dx. Keperawatan
1.9.1 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti pulmonal.
1.9.2 Pengaturan volume cairan berhubungan dengan cardiac output.
1.9.3 Perubahan cardiac output (penurunan ) berhubungan dengan fasmasi jantung yang abnormal.
1.9.4 Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan penyakit.
1.10 Intervensi
1.10.1 Diagnosa Keperawatan I
Tujuan : Pertukaran gas menjadi optimal.
Kriteria hasil : Klien tidak menunjukkan gejala sianosis.
Intervensi :
1) Monitor kualitas dan respirasi dengan suatu paru, catat pola suara nafas, rales ronchi batuk dan retraksi.
Rasional : Identifikasi dini gagal nafas/ akibat dari odema paru.
2) Latih batuk dan nafas dalam jika bisa.
Rasional : Mengeluarkan sekret yang ada dalam saluran nafas dan melatih kerja jantung.
3) Posisikan anak lebih tinggi untuk menambah pengembangan diafragma secara maksimal.
Rasional : Pengembangan diafragma secara maksimal akan memudahkan usaha bernafas.


1.10.2 Diagnosa Keperawatan 2
Tujuan : Keseimbangan cairan terpenuhi
Kriteria Hasil : Klien tidak menunjukkan gejala dehidrasi.
Intervensi :
1) Observasi kualitas dan kekuatan apikal, nadi perifer dan warna kulit.
Rasional : Nadi perifer dan warna kulit merupakan petunjuk kemampuan jantung memompa kebutuhan darah tubuh.
2) Monitor tanda CHF (misalnya : iritasi, tachicardi, tachipnea, dispnea, kelelahan saat berjalan, anoreksi, odem periorbital, oliguri, hepatomegali).
Rasional : Pada CHD kemungkinan juga didapatkan CHF.
1.10.3 Diagnosa Keperawatan 3
Tujuan : Perubahan cardiac output (penurunan) teratasi.
Kriteria Hasil : - Klien akan menunjukkan tanda vital dalam batas yang dapat diterima dan bebas gejala gagal jantung.
- Klien melaporkan penurunan episode dispnea.
Intervensi :
1) Observasi frekwensi, irama jantung, nadi apikal.
Rasional : Untuk mengkompensasi penurunan kontraktilitas ventrikuler.
2) Kaji kulit terhadap pucat dan sianosis
Rasional : Pucat menunjukkan menurunnya perfusi perifer sekunder terhadap tidak adekuatnya curah jantung, vasokonstriksi dan anemia.
3) Berikan Istirahat semi rekumben pada tempat tidur.
Rasional : Istirahat fisik untuk memperbaiki efisiensi kontraksi jantung dan menurunkan kebutuhan oksigen miokard dan kerja lebihan.
1.10.4 Diagnosa Keperawatan 4
1) Auskultasi bunyi usus.
Rasional : Penurunan bising usus menunjukkan penurunan motilitas gaster dan konstipasi (komplikasi umum) berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan.

2) Timbang berat badan sesuai indikasi.
Rasional : Untuk menentukan kebutuhan berat badan.
3) Berikan makan porsi kecil tapi sering.
Rasional : Membantu menurunkan kelemahan selama waktu makan.

DAFTAR PUSTAKA

Arthur C. Guyton and John E. Hall ( 1997), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Kesehatan Anak II, INFOMEDIA, Jakarta.
Mansjoer, Arif, Dkk. (1999), Kapita Selekta Kedokteran Jilid II, Media Fesculapius, Jakarta
Marylin E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3, Peneribit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Nelson (1993), Ilmu Kesehatan Anak: Textbook of Pediatrics Edisi 12, Buku kedokteran EGC, Jakarta.
Ngastiyah, (1997), Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta.
Sylvia A. Price (1995), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses - Proses Penyakit Edisi 4, Buku kedokteran EGC, Jakarta.

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MYESTENIA GRAVIS

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN
DENGAN MYESTENIA GRAVIS

1. Landasan Teori
Landasan (Konsep Medis dan Askep)
Myestenia gravis adalah suatu penyakit autoimun yang terjadi karena serangan asetil kolin reseptor dari neuromuskuler junction otot bergaris suatu antibody.(Hudak Carolyn,1997:291)
Etiologi
Penyebab pada manusia belum diketahui, terdapat beberapa teori yang dianjurkan antara lain :
1. Mempercepat degenerasi reseptor-reseptor asetil kolin melalui urutan terhadap yang mengenai “cross – cinting” dari reseptor antibody.
2. Blocking dari sisi reseptor aktif.
3. Merusak reseptor asetil kolin mungkin berhubungan dengan komplement.
Dari kesemua diatas berkaitan dengan kemampuan dari autoantibody untuk mengubah transmisi neuromuskuler baik oleh karena langsung menghambat pengikatan asetil kolin pada reseptor dan lebih mempercepat kerusakan molekul reseptor atau mengikat komplemennya untuk memulai lisis dari membran post sinatik oleh komplemen tadi.(Hudak Carolyn,1997:292)

Patofisiologi (Hudak Carolyn,1997:293)
Cidera Autoimun

Asetil Kolin ↓

Neuromuskuler
Terganggu

Makroskopis

Atropi Mikroskopis

Infiltrat limfosit
Otot/ organ

Pengaruh pada organ

Mata

Tidak bias
Menutup

Gangguan rasa
Nyaman
Sel nafas

• Kelemahan otot – otot pernafasan
• Dispneu
• Tidak mampu batu
• Tidak mampu membersihkan lendir di trakhea.

- Bersihan jalan napas tak efektif.
- Perubahan pola pernafasan.
- Kerusakan pola pernafasan.
- Kerusakan pertukaran gas. Leher

Kaku kuduk

Gangguan rasa nyaman (nyeri)
Mulut

- Tidak mampu menutup mulut.
- Sukar mengunyah
- Tidak mampu menelan.


Gangguan Nutrisi
Gangguan komunikasi verbal


Ekstermitas

Kelemahan otot & ekstermitas menyeluruh/ sebagian

Gangguan mobilitas fisik
klasifikasi
Ada 4 tipe :
1. Ocolar Myesthania
Terkenanya otot – otot mata saja, dengan prosis dan diplopia sangat ringan dan tidak ada kematian.
2. Mild Generalized Myesthenia
Permulaan lambat, seiring terkena otot mata, pelan – pelan meluas ke otot skletal dan bulber, system pernafasan tidak tertekan, respon terhadap obat baik.
3. Severe Generalized Myasthenia
Acut Furmanating
Permulaan cepat, kelemahan hebat dari otot - otot pernafasan progresifpenyakit biasanya komplikasi, biasanya komplikasi dalam 6 bulan, respon terhadap obat kurang memuaskan, aktifitas penderita terbatas, mortalitas rendah.
Late Severe
Timbul paling sedikit 2 tahun setelah kelompok 1 dan 2 progresif dapat pelan – pelan atau mendadak, presentase thimana kedua paling tingg, respon terhadapobat dan prognosis jelek.
4. Myesthenia Crisis
Memercepat buruknya keadaan penderita dapat di sebabkan :
• Pekerjaan fisik yang berlebihan.
• Emosi
• Infeksi
• Melahirkan anak
• Progresi dari penyakit.
• Obat – obat yang dapat menyebabkan blok neuromuskular.
• Penggunaan urus – urus.(Hudak Carolyn,1997:294)
Tanda dan Gejala
1. Kelemahan sebagian/ seluruh otot.
2. Tes tensilan (+)
3. Keluhan hilang dengan istirahat sebentar atau dengan obat.
4. Semakin berat pada perubahan keseimbangan hormon, kekambuhan penyakit, gangguan emosi, alkohol.
5. Terdapat kelainan kelenjar thymus.(Hudak Carolin,1997:295)
Diagnosis
1. Anamnesa
Anamnesa yang menjurus, terutama pada kelumpuhan yang berulang pagi hari biasanya masih baik, beberapa jam kemudian melemah.
2. Pemeriksaan
Bertujuan untuk membuktikan secepatnya keletihan otot.
• Fisik
Pemeriksaan motorik, tes pita suara, keping tes.
• Pemeriksaan tambahan
EMNG : single fiber, tes farmakologi; gejala – gejala klinis menghilang dengan penyuntikan neostigmin dan atropin IM atau penyuntikan endroponum IV. Tes laboratorium Autelmun titer AB Acetylkolin reseptor, pada penderita muda, cari thymama CT scan / tomografi.
Dx. Banding (Hudak Carolyn,1997:296)
1. Histeria
2. Multiple skerozik
3. Stematitis myestenia
4. Sindrom mogbrus
5. Karsinomatus myethenia.
6. Cholinergic Crisis

Penyulit
Bisa timbul myasthenia crisis atau cholinergic crisis akibat terapy yang tidak diawasi.
Therapy
1. Antikolinesterase
Piridostigmin bromida (mestin)
Dosis awal 3 x 60 mg P – O pada waktu bangun kemudian disesuaikan dengan dosisnya untuk mendapatkan efek optimal. Bila hasil tidak memuaskan pertimbangkan tymechomy atau pemberian kortikosteroid.
2. Kortikosteroid
Indikasi :
• Setelah thymectomy dari tymoma invasive.
• Penderita yang tak dapat dikontrol secara memuaskan.
• Kelompok usia lanjut > 50 tahun.
• Menolak thymecthomy.
• Tipe aculer murni.
Cara pemberian :
• Sesuaikan secara optimal obat – obatan anti kolinestrak.
• Mulai dengan dosis rendah (12 – 50 mg prednison) dengan pelan, ditambah sampai respon optimal atau dapat tahan pengobatan (maksimal biasanya 50 – 60 mg prednison).
• Pelan – pelan diubah pemberiannya menjadi 2 hari seklai.
• Dosis dipertahankan sampai perbaikan mencapai platean (biasanya 6 – 12 bulan).
• Turunkan sangat pelan – pelan sampai dosis pemeliharaan minimal.
• Awasi efek samping obat.
• Dosis anti kolinestrase dapat diturunkan secara hati – hati.

3. Plasma feresis
• Thymectomy
• Myasthenia gravis umum yang tidak dapat dikontrol dengan secara memuaskan dengan obat antikolinestrase, penderita < 50 tahun, 6 – 12 bulan setelah myasthenia gravis tidak ada renisi spontan.

2. Landasan Askep
1. Biodata
Usia puncak yang terkena yaitu pada usia 20 tahun, perbandingan pria dan wanita adalah 3 : 1.
2. Keluhan Utama
Kelemahan anggota tubuh dari tingkat ringan sampai berat.
3. RPS
Gejala kelemahan timbul secara lambat atau berlangsung cepat, menyerang satu atau lebih anggota tubuh dan menyebabkan gangguan sesuai dengan fungsi organ yang terkena pada tahap lebih lanjut bisa terjadi gagal nafas bila saluran nafas terserang.
4. RPD
Riwayat kelumpuhan yang berulang.
5. RPK
Riwayat keluarga dengan myasthenia gravis.
6. Riwayat Penyakit Psiko sosial spiritual.
• Psikologis.
Kecemasan sehubungan dengan prognosis penyakit yang jelek dan kurang pengetahuan tentang penyakit.
• Sosial
Penurunan tingkat interaksi/ kerusakan interaksi.

• Spiritual
Keyakinan klien tentang penyakitnya dihubungkan dengan keyakinan agama yang dianutnya.
7. Activity Daily Life
• Nutrisi
Penurunan pemenuhan kebutuhan nutrisi karena terjadi kelemahan pada mulut sehingga mulut sulit membuka / menutup, tidak bisa mengunyah dan sukar menelan. Bisa terjadi penurunan penyerapan makanan karena kelemahan otot – otot pencernaan.
• Aktifitas
Penurunan aktifitas karena kelemahan otot – otot tubuh dan ekstremitas.
• Istirahat Tidur
Gangguan istirahat tidur karena myasthenia menyerang pada mata, sukar menutup.
• Eliminasi
Bias terjadi incontinensia urin/ alvi.
• Personal Hyegine
Peningkatan ketergantungan dalam pemenuhan kebutuhan personal hyegine.
8. Pemeriksaan
• Umum
Keadaan umum : lemah, kesadaran menurun / cm, TD menurun/ dibawah normal. Nadi bradikard/ dibawah normal, RR Bradipnae/ dispnae, suhu hipertermi,/ dibawah normal.
• Pemeriksaan Fisik
Kepala : myasthenia gravis otot wajah, regurgitasi obat palatum melalui hidung, percakapan nasal abnormal, tidak mampu menutup, sukar mengunyah dan menelan, prosis dan diplopia.
Thorax : Dispneu, batuk yang lemah, tidak mampu membersihkan lendir dari trakhea, gagal nafas.
Leher : Distensi venajugularis, myasthenia pada laring dan faring.
Ekstremitas : Lemah gelang bahu, panggul (Penyakit yang lama), lemah semua otot.
9. Pemeriksaan Penunjang
-Test Tension (+)
-Kelainan kelenjar thymus
-Pada elektromiografi menunjukkan penurunan amplitudo potensial motor unit apabila digunakan terus menerus.
10. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Timbul
1. Bersihan jalan nafas b/d peningkatan sekresi pulmonal.
2. Gangguan mobilitas fisik b/d kelemahan otot – otot sekunder terhadap kerusakan neuromuskuler.
3. Kerusakan komunikasi verbal b/d mulut tidak bisa menutup.
4. Gangguan pemenuhan nutrisi b/d ketidak mampuan menelan.
5. Gangguan rasa nyaman (mata tidak bisa menutup) b/d melemahnya otot volunter.
11. Intervensi Keperawatan
1. Diagnosa I (Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d peningkatan sekresi pulmunal)
Tujuan : Nafas bersih
Kriteria :
• Kulit, mukosa, ujung ekstermitas, tidak biru.
• Tidak ada stridor inspirasi/ ronchi
Rencana :
• Berikan penjelasan pada klien dan keluarga tentang penyebab peningkatan sekresi pulmonal.
R/ Meningkatkan pengetahuan klien secara adekuat sehingga klien dan keluarga mengerti, menerima dan mau melaksanakan tindakan keperawatan.
• Berikan posisi baring semi fowler
R/ Meningkatkan volume rongga dada dan memaksimalkan ekspansi keperawatan.
• Kolaborasi tindakan fisioterapy dada dan suction.
R/ Fisio terapy dada melepaskan sekret dari dinding – dinding mukosa dan suction mengeluarkan sekret secara mekanis.
• Kolaborasi pemberian O2 sesuai indikasi.
R/ Memenuhi kebutuhan O2 tubuh, mencegah sianosis dan hipoksia jaringan.
• Observasi TTV sesuai indikasi.
R/ Peningkatan RR merupakan indikasi peningkatan sesak.
2. Diagnosa II(Gangguan mobilitas fisik b/d kelemahan otot-otot sekunder terhadap kerusakan neuromuskuler)
Tujuan : Klien dapat mobilisasi mandiri.
Kriteria hasil :
• Skala kekuatan mandiri 5.
• Tidak terjadi atropi dan kontraktur.
Rencana :
• Memberikan penjelasan pada klien dan keluarga tentang penyebab kelemahan otot.
R/ Meningkatkan pengetahuan klien dan keluarga secara adekuat.
• Ajarkan pada klien tentang rentang gerak aktif dan pasif.
R/ Meningkatkan kekuatan otot, mencegah atropi dan kontraktur.

• Motivasi klien untuk melakuka latihan gerak aktif dan pasif secara teratur.
R/ Meningkatkan kekuatan otot dan mencegah atropi dan kontraktur.
• Lakukan latihan miring kiri – miring kanan sesuai dengan indikasi.
R/ Menghindari penekanan yang lama pada anggota badan dan mencegah terjadinya dekubitus.
• Observasi TTV sesuai indikasi
R/ Deteksi dini terjadi kelainan.
11.Implementasi
Melaksanakan implementasi sesuai dengan rencana keperawatan.
12.Evaluasi
Menilai tingkat keberhasilan sesuai dengan intervensi.


DAFTAR PUSTAKA

1. Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo Surabaya (1994), Pedoman Diagnosis dan Terapi, RSUD Dr. Soetomo Surabaya : Surabaya.
2. Marylin E., Doengoes (1999), Rencana Asuhan Keperawatan, EGC. :Jakarta.
3. Lynda Juall Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan, EGC. : Surabaya
4. Carolyn Hudak (1997),Keperawatan Kritis,EGC:Jakarta

KEHAMILAN DENGAN HIPERTENSI

KEHAMILAN DENGAN HIPERTENSI

1. Pengertian
Hypertensi adalah keadaan dengan tekanan darah diastolik minimal 90 mmHg atau tekanan sistolik minimal 140 mmHg, atau kenaikan tekanan diastolik minimal 15 mmHg atau kenaikan tekanan sistolik minimal sebesar 30 mmHg. (Cuningham, MacDonald, Gant, 1995 : 773)
2. Klasifikasi
2.1 Hipertensi yang timbul akibat kehamilan dan sembuh setelah bersalin
1. Hipertensi tanpa proteinuria/ edema patologis
2. Pre eklampsia – dengan proteinuria dan/ atau edema patologis
a. Ringan
b. Berat
3. Eklampsia – proteinuria dan/ atau edema patologis disertai kejang
2.2 Hipertensi yang diperberat oleh kehamilan
Hipertensi yang sebelumnya sudah ada dan diperbuat oleh kehamilan
1. Superimposed pre eklampsia
2. Superimposed eklampsia
2.3 Hipertensi bersamaan dengan kehamilan
Hipertensi kronis yang sudah ada sebelum kehamilan/ menetap setelah persalinan.
3. Etiologi
3.1 Pre eklampsia
Timbul dalam tri mester akhir kehamilan
3.2 Penyakit ginjal menahun/ oleh penyakit pembuluh darah yang seperti hipertensi esensial
Timbul sebelum tri mester terakhir kehamilan (24 mg)
3.3 Mola hidatosa
Timbul sebelum kehamilan berumur 24 minggu karena Pre eklampsia

4. Patofisiologi
OK suatu sebab di otak

Merangsang saraf-saraf tubuh

Yang dirasakan ke ganglia simpatis

Ke spinal cord

Pregangkomie
(mengeluarkan acetil colin)

Mrg post gangliomie
(mengeluarkan norephineprine) JK volume darah menurun/ TD menurun

Renin dalam tubuh dilepaskan

Renin dalam plasma + protein

Menjadi angiostensin I

Angiostensin II

Menyebabkan vasokontriksi

Hipertensi
Beban ventrikel kiri meningkat

LVH

Kontraksi

Co menurun Stimulasi sekresi H. Aldosteron

Menyebabkan garam + air

Volume darah meningkat

Tekanan v. Kiri meningkat

Sirkulasi pulmonal meningkat

Beban paru meningkat
 edem paru

Complience dan recoil menurun

Sesak

Pola nafas inspeksif (gangguan pertukaran gas)


Otak

Penurunan sirkulasi O2 ke otak

Hipoksia

Pusing

Nyeri/ gangguan rasa nyaman 
Ginjal










Gangguan istirahat tidur
Efektifitas aliran darah menurun

Vasokontriksi ginjal
Filtrasi glomerulus

Reabsorbsi Na + H2O

Transudadi cairan

Edema

Kelebihan cairan 
GI
Rangsangan pada kipopse

HCl di lambung meningkat

Anoreksia, mual, muntah

Nutrisi < dari kebutuhan 
Ekstremitas

Penurunan sirkulasi O2

Menyebabkan pernafasan anaerob

Peningkatan asam laktat dalam tulang

Kelelahan, kelemahan

Kerusakan intoleran aktivitas
5. Gejala Klinis
5.1 Tekanan diastolik  90 mmHg pada kehamilan < 20 minggu
5.2 Tekanan diastolik 90-110 mmHg pada kehamilan < 20 minggu
Proteinuria < ++
5.3 Tekanan diastolik 90-110 mmHg (2 pengukuran berjarak 4 jam)
1. Pada kehamilan > 20 mg
2. Proteinuria
6. Penyakit-penyakit Hipertensi
6.1 Hipertensi esensial pada keluarga (penyakit hipertensi vaskuler)
6.2 Hipertensi Renovaskuler
6.3 Koarktasioaorta
6.4 Aldosteronisme primer
6.5 Feokromositoma
7. Pengaruh hipertensi terhadap kehamilan
Sebagai akibat penurunan sirkulasi uteroplacenta maka konsumsi makanan terhadap janin mengalami penurunan gangguan pertumbuhan dan perkembangan badan janin merupakan akibat yang paling jelas. Solutio placenta lebih sering dijumpai pada ibu dengan hipertensi. Insiden tertinggi pada eklamsi 23,6% disusul hipertensi kronis 10% dan pre eklamsi 23,6%
8. Pemeriksaan labolatorium
8.1 Foal ginjal
Untuk mengetahui kemungkinan penyakit ginjal menahun seperti prelonefritis akut, polikistik, dll.
8.2 Cultur urine
Untuk mengetahui kemungkinan infeksi ginjal.
9. Pemeriksaan penunjang
9.1 Pemeriksaan mata
Dilakukan dengan fundus copy untuk evaluasi lamanya penyakit diderita.
9.2 Pemeriksaan jantung
Dengan bantuan EKG dapat didiagnosa adanya komplikasi pembesaran jantung yang menggambarkan lamanya proses hipertensi
10. Pemantauan Kesejahteraan Janin
Dapat dilaksanakan dengan cara paling sederhana berupa pemantauan pertambahan BB, tinggi fundus uteri hingga paling canggih dengan pemakaian USG, NST.
11. Indikasi
11.1 Indikasi pada ibu :
1. Peningkatan serum kreatinin > 50%
2. Gangguan neurologi berat
3. Hipertensi tak terkontrol
4. Peningkatan serum silirubin
11.2 Indikasi pada anak
1. Berkurangnya pertumbuhan dan pergerakan janin
2. Matunitas paru
3. Kardiomegali abnormal
12. Penatalaksanaan
12.1 Untuk mempertahankan aliran darah pada uterus terutama pada saat pembentukan plasenta
1. Tirah baring
Pada hari 1 jam dan ditingkatkan sesuai umur kehamilan.
2. Pemberian obat
Pemberian phenobarbital
3. Diet
Kandungan protein minimal 90 gr setiap hari
12.2 Untuk mengendalikan hipertensi dan mencegah superimposed pre eklamsia/ eklamsia
1. Tirah baring dengan pemantauan 2x seminggu
2. Bila perlu diberikan phenobarbital
3. Diet seimbang karbohidrat
4. Obat anti hipertensi yaitu alfa metildopa, betabloker, hidralzin, clomidin, prazosun, antagonis kalsium, diuretikum.


DAFTAR PUSTAKA


Cunningham, dkk. 1995. Obstetri Williams. EGC : Jakarta.

Varney, Helen. 2002. Buku Saku Bidan. EGC : Jakarta.

Wiknjosastro, Hanifa (Ed). 1994. Ilmu Kebidanan. FKUI : Jakarta

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 1979. Perawatan Ibu di Pusat Kesehatan Masyarakat. Bakti Husada. Surabaya.

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN KASUS HEMATOPNEUMOTHORAK

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN
KASUS HEMATOPNEUMOTHORAK

A. KONSEP DASAR
1. Pengertian
Hematopneumothorak adalah gabungan antara pneumothorak dan hematothorak yakni terdapatnya udara dan darah dalam rongga pleura sehingga menyebabkan paru terdesak dan menjadi kolap. (Gallo dan hudak, 1997, Perawatan Kritis I, Hal 523)
2. Etiologi
Faktor pencetus hematopneumothorak :
a. Adanya trauma
b. Pernafasan Tekanan Positif Intermiten
c. Tekanan Ekspirasi Akhir Positif ( TEAP )
d. Resusitasi kardiopulmunal
e. Thorasentesis
(Arif Mansjoer, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, hal 295)
3. Patofisiologi
Trauma Thorax


Adanya tekanan (-) pada intrapleura


Udara dan darah masuk ke dalam rongga pleura


Sifat elastis paru




Paru kolap (mengkerut) Kurungan dinding thorax akan meleset ke arah luar
(Soeparman, 1999, Ilmu Penyakit Dalam, hal 593)
4. Tanda dan Gejala
a. Nyeri dada hebat
b. Anxietas
c. Diaforesis
d. Takikardi
e. Sianosis
f. Dispnea
g. Bunyi nafas tidak ada / menurun pada bagian yang sakit
h. Terdengar hipersonor / redup pada bagian dada yang sakit
i. Gerakan dada tidak sama
j. Nyeri pleura
k. Takipnea
l. Hypotensi / hypertensi
(Arif Mansjoer (2000) kapita selekta kedokteran, edisi 3, Hal 295)
5. Pemeriksaan Diagnosa
a. Pemeriksaan dada dengan sinar X
1). Ekspansi paru tidak sama
2). Peningkatan mediastinum pada bagian yang sakit
b. Analisa gas darah arteri
1). Penurunan PaCO2 / normal
2). Penurunan PH
3). Peningkatan PaCO2
6. Penatalaksanaan
a. Pemasangan selang dada
Jarum no 16-18 di masukkan ke dalam area interkostalis kedua, ketiga atau keempat pada garis midklavikula pada area yang sakit untuk mengurangi tekanan, selang dada di pasang dan didrainase segera dilakukan : air diberikan untuk mencegah bertambahnya tekanan / tegangan lebih lanjut.
b. Terapi O2
c. Terapi parenteral
d. Tranfusi darah
e. Ventilasi mekanik dengan PEEP
7. Diagnosa Banding
Status Asmatikus
8. Komplikasi
a. Penurunan curah jantung
b. Gagal pernafasan
c. SDPD
d. Henti jantung

PROSES KEPERAWATAN

1. Pengkajian
Biodata
Umur dan jenis kelamin tidak dapat ditentukan.
Keluhan Utama
Nyeri dada hebat.
Riwayat Penyakit Sekarang
Nyeri dada hebat, Anxietas, Diaforesis, Sianosis, Dipsnea Takikardi, Takipnea.
ADL
- Pola nutrisi
Penurunan nafsu makan
- Pola Istirahat
Sulit tidur akibat sesak
- Pola aktifitas
Kelelahan akibat aktifitas sehari-hari
- Pola Personal Hygiene
Pemenuhannya dibantu oleh keluarga
Pemeriksaan Fisik
a. Sirkulasi
1). Tachycardia.
2). Dysrytmia.
3). S3 atau S4 (Suara nafas gallop gagal jantung akibat efusi).
4). Denyut apical (PMI) menunjukkan terjadinya perubahan mediastinum (dengan tention pneumonia).
5). Tekanan Darah : Hipotensi / Hypertensi
b. Nyeri / rasa nyaman
1). Nyeri dada bilateral.
2). Gejala timbul tiba-tiba ketika batuk.
3). Nyeri hebat saat batuk, pernafasan dalam, kemungkinan menjalar ke bahu, lengan dan perut (efusi pleura).
4). Perilaku distraksi
5). Daerah nyeri menyebar.
6). Wajah menyeringai


c. Respirasi
1). Riwayat perdarahan trauma.
2). Riwayat penyakit paru kronik, infeksi / inflamasi paru (empyema/efusi), penyakit intestinal yang difus (sarcodicosus).
3). Riwayat kanker seperti : obstruksi tumor, keganasan sel dirongga pleura, biopsy paru.
4). Kesulitan bernafas, kekurangan udara / O2.
5). Batuk ( merupakan gejala ).
6). Tachypnea
7). Peningkatan pernafasan dengan menggunakan otot pernafasan di dada, leher, retraksi intercosta dan pernafasan perut.
8). Suara nafas menurun.
9). Penurunan fremitus
10). Perkusi dada : hyperesonansi ( udara ), redup
11). Observasi dada dan palpasi : gerakan dada yang berlawanan ( tidak sama).
12). Penurunan thorax yang berlawanan (tidak sama).
13). Kulit : pucat, syanosis, diaporesis, kripitasi subkutan ( air pada jaringan ).
14). Kejiwaan : cemas, kelelahan, kebingungan, stupor.
d. Keamanan
1). Kanker paru, riwayat radiasi / chemotherapy.
2). Fraktur dada
e. Pengetahuan
1). Riwayat keluarga yang mempunyai resiko tinggi : T B C, kanker.
2). Keterangan bukti adanya kegagalan.
3). Membantu perawatan diri.
f. Pemeriksaan Diagnosis
1). Sinar X paru
Gambaran expansi paru tidak sama, pengangkatan mediastinum pada bagian yang sakit.
2). Analisa gas darah arteri.
a). PaO2 / normal
b). Penurunan pH
c). Peningkatan PaCO2


2. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan ketidakadekuatan expansi paru ( Penumpukan udara / cairan ).
b. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan faktor biologis ( trauma jaringan dan faktor pemasangan selang dada ).
c. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi dengan ungkapan tentang perhatian, permintaan untuk informasi mengenai masalahnya yang berulang.
3. Rencana Keperawatan
a. Diagnosa Keperawatan I
Ketidakefetifan pola nafas berhubungan dengan ketidakadekuatan expansi paru ( penumpukan udara / cairan ).
Hasil yang diharapkan :
- Frekuensi, kedalaman, irama pernafasan normal.
- Pemeriksaan sinar x dada memperlihatkan ekspansi optimal.
- Bunyi nafas terdengar jelas dengan aurasi penuh.
Intervensi :
1). Kaji kwalitas, frekuensi dan kedalaman pernafasan laporkan setiap perubahan yang terjadi.
R/ Adanya tanda-tanda kesulitan pernafasan dan perubahan TTV merupakan indikasi adanya shock.
2). Perhatikan gerakan dada dan posisi dada.
R/ Penyimpangan gerakan dada dan paru tidak dapat mengembang merupakan efek samping dari pneumotention.
3). Auskultasi suara nafas setiap 2 – 4 jam.
R/ Kemungkinan tidak ada pengurangan segmen paru seluruh bagian paru. Ateletasis akan menyebabkan tidak adanya suara nafas. Dan bagian paru kolap akan terjadi penurunan suara nafas.
4). Baringkan pasien dalam posisi duduk, kepala ditinggikan 60 - 90.
R/ Peningkatan respirasi maximal dengan peningkatan expansi paru.
5). Berikan therapy oxygen / masal kanul dengan 2 – 6 liter/menit sesuai kebutuhan kecuali ada kontra indikasi.
R/ Pertolongan di dalam penurunan kerja pernafasan bentuk pertolongan kesulitan permasalahan dan syanosis dengan hypoxemia.
6). Berikan dorongan emosional, tetaplah bersama pasien selama anxyetas tinggi.
R/ Kecemasan akan menambah kesulitan pernafasan dan efek psikologik hypoksia.
b. Diagnosa Keperawatan II
Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan faktor biologis ( trauma jaringan ), faktor fisik ( pemasangan selang dada ).
Hasil yang diharapkan :
Pasien mengalami penurunan rasa nyeri dengan criteria :
- Expansi wajah dan posisi tubuh relaksasi
- Pola pernafasan meningkat
- Aktifitas meningkat
Intervensi :
1). Kaji adanya nyeri ( verbal dan verbal ).
R/ Nyeri hebat dapat menyebabkan shock neurogenik.
2). Berikan analgesik sesuai kebutuhan.
R/ Analgesik akan mengurangi rasa nyeri
3). Kaji keefektifan tindakan penurunan rasa nyeri.
R/ Mengontrol tindakan keperawatan yang mengarah pada nyeri dan dasar tindakan keperawatan selanjutnya.
4). Berikan pada pasien sebelum latihan batuk dan latihan pernafasan.
R/ Latihan batuk dan latihan pernafasan bias menimbulkan rasa nyeri, obat diberikan untuk mengurangi rasa nyeri.
5). Instruksikan pada pasien teknik pernafasan.
R/ Teknik pernafasan akan mengurangi rasa nyeri.
6). Amankan selang dada.
R/ Membatasi gerakan dan menghindari gesekan yang dapat menimbulkan rasa nyeri.
c. Diagnosa Keperawatan III
Kurangnya informasi ( pengetahuan ) berhubungan dengan kurangnya informasi ditandai dengan ungkapan tentang perhatian untuk informasi mengenai masalahnya yang berulang.
Hasil yang diharapkan :
Secara verbal mengerti penyebab masalah, mengidentifikasi tanda dan gejala yang dibutuhkan untuk pengobatan lagi, mengikuti aturan tindakan dan mendemonstrasikan gaya hidup untuk mencegah berulangnya penyakit.


Intervensi :
1). Jelaskan kembali patologi masalah individu.
R/ Informasi akan menurunkan ketakutan akan ketidaktahuannya, pemberian pengetahuan dasar untuk pengertian / alasan pokok dari kondisi yang dinamis dan therapy intervensi yang spesifik.
2). Identifikasi kemungkinan adanya komplikasi berulang.
R/ Kepastian alasan yang mendasari penyakit paru sebagai COPD dan keganasan mungkin kejadiannya kembali meningkat. Sebaliknya kesehatan pasien yang menderita pneumothorak spontan, kejadiannya 10 – 50 %.
3). Jelaskan tanda dan gejala yang membutuhkan evaluasi medik segera misalnya nyeri dada, dispneu.
R/ Hematopneumothorak yang berulang membutuhkan intervensi medik untuk mencegah komplikasi.
4). Jelaskan secara spesifik kebiasaan kesehatan yang baik seperti nutrisi yang adekuat, istirahat dan dan latihan.
R/ Memelihara secara umum guna peningkatan penyembuhan / membatasi penyakit yang berulang.
4. Implementasi
Tindakan keperawatan (implementasi) sesuai dengan intervensi yang telah dibuat.
5. Evaluasi
Menilai keberhasilan intervensi yang telah dilakukan.


Daftar Pustaka


Gallo dan Hudak, 1997, Perawatan Kritis I, Jakarta, EGC.

Marylin Dongoes, 2000, Nursing Cauplants, Philadelphia ; MFA Davis Company.

Arif Mansjoer, 2000, Kapita Selekta Kedokteran edisi 8, FKUI Jakarta.