Rabu, 21 Desember 2011

MASALAH ETIS DAN PEMECAHANNYA DALAM KEPERAWATAN PERIOPERATIFE

MASALAH ETIS DAN PEMECAHANNYA
DALAM KEPERAWATAN PERIOPERATIFE

BAB I
PENDAHULUAN
Keperawatan adalah profesi pelayanan yang didasarkan pada kebutuhan ilmiah untuk penyelidikan yang efektif dan seni mengomunikasikan sensitifitas pada aktifitas fisik,psikososial,dan ekonomi perawatan klien.Dimensi ketiga yang melandasi profesi ini adalah etik.
Etik adalah cabang dari filosofi,yang mengacu pada proses pemikiran rasional dalam upaya menentukan tindakan yang benar.Etik terapan mengarah pada pertanyaan tentang apa yang”sebaiknya” individu perbuat dalam situasi tertentu.Individu yang menghadapi masalah etis tidak mengetahui apakah tindakan yang dilakukannya benar atau salah(Curtin,1994).
Konsep caring dalam keperawatan adalah fundamental.Perawat dikatakan bermoral ,jika mereka perlindungan,peningkatan,dan pemeliharaan martabat manusia (Reilly & Behrens-Hanna,1991)
Masalah etis,yang berkaitan dengan kualitas asuhan dalam keperawatan,telah menimbulkan fenomena,yang telah diketahui sebagai distress moral(Jameton,1984).Moralitas terdiri atas derajat kesetaraan antara kebenaran yang individu lakukan dan prilaku aktualnnya(Curtin,1994).Masalah moral adalah salah satu kesalahan berpikir yang cenderung anda lakukan.Jameton memisahkan masalah moral dilingkungan perawatan kesehatan kedalam 3 katagori: (1) ketidakpastian moral,ketika seseorang merasa ragu tentang pandangan atau nilai yang diterapkan atau tidak yakin tentang masalah moralnya; (2)dilema moral,ketika dua atau lebih prisif moral diterapkan secara jelas,tetapi keduannya mendukung pelaksanaan tindakan yang tidak konsisten secara bersamaan; (3)distress moral,ketika seseorang mengetahui bahwa tindakan yang dilakukannya benar,tetapi tekanan institusional membuat ia hamper tidak mungkin melanjutkan tindakan yang benar tersebut.
Persoalan moral timbul pada semua aspek keperawatan,dari ruang kedaruratan sampai fasilitas perawatan tingkat lanjut dan perwatan kesehatan di rumah.Area perioperative dinilai lebih nyata dibandingkan area lain karena perawat merawat klien yang cenderung mengalami ketidaksadaran selama anastesi dan pembedahan.Berbagai masalah etis antara lain:respek yang kurang terhadp martabat klien;melakukan tes atau tindakan yg tdk perlu;berbohong pd klien;kekhawatiran mengenai benar tidaknya klien dibei persetujauan tindakan;tidak menghormati instruksi klien ;menunda dan/menghentikan hidrasi dan nutrisi;dan menghentikan tindakan pada mereka yang tidak lg mau mengusahakannya.Kebutuhan akan reformasi perawatan kesehatan telah meningkatkan kesadaran terhadap persoalan alokasi dan distribusi sumber yang diperlukan untuk merawat klien dengan aman dan adekuat .






























BAB II
PEMBAHASAN

Ada beberapa teori dan prinsif etis yang dapat membimbing perawat untuk melakukan tindakan yang dilandasi moral saat memberikan asuhan kepada klien.Dalam praktek kontemporer,dua teori etik mendominasi literature; deontology dan teleology.
Deontologi mennganggap bahwa tindakan moral tercakup kedalam tindakan seseorang dalam menunaikan tugasnya.individu yang bermoral mempunyai tugas untuk bertindak dengan benar dan menghindari kesalahan.Ahli deontologi bertindak tanpa memperhatikan/mempertimbangkan konsekuensi baik atau buruk dari tindakan tersebut.Teori ini disebarkan oleh Immanuel Kant dan melihat secara formal aturan serta prinsip yang ditetapkan .
Teori pluralistik dalam model deontologis menyatak an bahwa ada lebih dari satu aturan dasar untuk menentukan benar atau salah.Ada 6 prinsip etis utama yang berlaku dalam pengambilan keputusan perawatan kesehatan:
1. Otonomi-prinsip penentuan diri
Adalah hak seseorang untk memilih dan kemampuan untuk bertindak berdasarkan pilihan tersebut
Contoh: informed consent
2. Benefisiensi-tugas untuk melakukan yang baik
Kewajiban untk berbuat baik dan mencegah bahaya,terdiri dari 2 elemen :penyediaan manfaat dan penyeimbangan manfaat dan bahaya.Dampak yang tidak diharapkan paternalisme
3.Fedelity-Kesetiaan,membuat dan menepati ,merupakan das etis hubungan perwat-klien,klien mempunyai hak etis ,berharap perawat bertindak untuk hal yang terbaik bagi mereka,perawat bertindak sebagai advokat
4.Keadilan-prinsip kesamarataan
Ada 3 jenis ketidakadilan (ANA,1991):
a.Diskriminasi atau perlakuan yg tidak sama dalam menjalankan kebijakan atau peraturan
b.Eksploitasi orang lain
c.membuat penilaian yg salah kepada orang lain.
5.Nonmalefisiense
Kewajiban untuk tidak membahayakan orang lain,baik bahaya actual maupun resiko,physiological,psychological,social,spiritual.
Contoh pertanyaan :”apakah operasi menyebabkan lebih berbahaya atau lebih baik bagi pasien?”
6.Veracity- Kejujuran
Artinya kejujuran,tidak berbohong atau menipu orang lain.Macam-macam kebohongan:sengaja berbohong,merahasiakan informasi,merahasiakan sebagian informasi.kejujuran sangatlah sulit untk dilakukan ,utamanya membuat keputusan seberapa besar kejujuran disampaikan.
Utilitarianisma adalah teori teleologik yang paling umum digunakan.Fokus dari teori ini adalah konsekuensi tindakan yang dilakukan.Tujuan utilitarianisme adalah menjamin keputusan yang dapat menimbulkan kemaslahatan atau mengurangi bahaya pada khalayak.Menurut teori ini,tidak ada undang-undang yang mengandung makna yang salah secara moral,yaitu”hasilnya membenarkan caranya”
Prinsip ini dapat digunakan oleh perawat perioperative untuk mengembangkan sikap etis dan bertindak sesuai prisip etis mereka.

PENGAMBILAN KEPUTUSAN ETIS
Kerangka kerja pembuatan keputusan dari Andrew Jameton:
1. Mengidentifikasi masalah
2. Mengumpulkan data
3. Memikirkan masalah etis dgn seksama
4. Membuat keputusan
5. Bertindak dan mengkaji
Penjelasan:
Langkah 1,
Mengidentifikasi masalah.Nyatakan masalah sejelas mungkin spt:
a) adakah masalah etis yg tidak jelas bagi anda?adakah 2 atau lebih nilai atau prinsip penting tampak dalam konflik?Apa yg terjadi saat anda harus menjalankan kewajiban moral?
b) Apakah hubungan anda dgn keputusan tersebut?apakah anda bertanggung jawab untuk itu?apakah tanggung jawab tersebut sudah didelegasikan kepada anda ?apakah anda seorang konsultan, penasehat,perantara , atau pemberi suara atau semacamnya ?
c) apakah parameter waktu anda ? pakah anda melihat masalah, datang tiba-tiba dan tidak dapat dihindari ? berapa lama anda harus mempertimbangkan masalah ini ?haruskah anda harus membuat keputusan , meskipun anda tidak yakin tentang gambaran penting dari kasus ?
langkah 2.
Pengumpulan data.Gambarkan situasi yang menimbulkan masalah.Bagaimana riwayatnya? Fakta apa yang diperlukan ?fakta apa yang tidak relevan ? siapa pihak utama yang terlibat dan bagaimana pandangan dan minat mereka ?
Langkah 3.
Identifikasi pilihan. Apakah proses tindakan terbuka untuk anda ?dapatkah anda membayangkan proses tindakan yang mengejudkan atau baru? Siapakah yang akan dibantu dan siapa yang merasa dirugikan ?keputusan masa depan apa yang muncul berdasarkan proses tindakan tertentu.
Langkah 4.
Pikirkan masalah etis secara seksama. Hal ini dinamakan metode “ kotak hitam” apa yang dipertimbangkan individu pada langkah ini akan sangat luas , bergantung pada kasusnya.
Langkah 5.
Membuat keputusan. Setelah mempertimbang masalah dengan cermat, pilihlah proses tindakan terbaik yang menunjukan penilaian anda dengan mempertimbangkan penilaian orang lain.
Langkah 6.
Bertindak dan mengkaji .peleksanaan tindakan yang dipilh mungkin penuh dengan kejutan. Bandingkan hasil aktual dengan hasil yang telah anda harapkan untuk masa depan ( jameton,1984 )

Dilema lain dalam keperawatan perioperatif
Do-not-resuscitate telah digunakan sebagai dilema etis dalam keperawatan perioperatif dalam upaya menggambarkan model pengambilan keputusan etis.



























BAB III
KESIMPULAN

Seluas apa masalah moral atau etis dalam pratik keperawatan PO? Adakah harapan bahwa dengan membaca bab ini,perawat PO dapat mengenali dan mengatasi beberapa masalah moral yg ditemukan setiap hari dengan lebih baik? Penerapan teknik pembuatan keputusan pd masalah etis menuntut individu untuk memiliki beberapa pengetahuan antara lain : nilai pribadi dan orang lain, fakta dalam sitiasi,standar dan praktik professional,hokum,dan filosofi (Eriksen,1989). Suatu studi kasus telah disajikan sebagai contoh bg kita untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah moral dan etis.
Pendidik perawat perlu memasukan etik dasar ke dalam kurikulum keperawatan secara berkelanjutan sampai saat etik keperawatan mendapat tempat yg tepat disamping filosofi prinsip keperawatan. Ahli administrasi keperawatan harus secara cepat menyadari masalah yg timbul dari perawat yg mengalami ketidak pastian moral,dilemma moral dan bahkan distres moral. Jumlah perawat yg berminat untuk berpaktik di area teno;log tinggi seperti keperawatan PO, terbatas sedangkan kebutuhan akan staf meningkat. Ditakutkan,ketertarikan perawat yg berpraktik dalam area ini akan terus menurun,kecuali mereka didukung penuh oleh pihak dilingkungan administrative. Wilkinson (1987) menyinpulkan bahwa “upaya digalakan untuk mendukung perawat yg mendapat sangsi dalam kasaus distress moral”.Ahli administrasi keperawatan harus berusaha memegang teguh komitmen aktif yg ditetapkan dalam RS, agar perawat memdapat masukan mengenai persoalan moral yg dihadapinya.Institusi harus menetapkan definisi, prisip dan metode yg jelas dalam menghadapi masalah moral ini. Harus ada pemehaman jelas tentang kebijakan dan prosedur oleh ahli administrasi,dokter,perawat dan professional lain. Ahliadministrasi harus menyadari bahwa etik tidak dapat didasarkan pada situasi etik individu.Etika untuk individu biasanya berdimensi social dan sering kali aspek yg paling bermakna dari suatu kasus berimplikasi terhadap masyarakat luas.Banyak ahli filosofi yg mengatakan bahwa etik harus terus mengali lebih luas aspek public dari berbagai kasus.Semua perawat harus berupaya keras untuk membantu mempertahankan standar praktik yg tinggi dalam area PO. Upaya ini dilakukan dengan cara menjamin kesempatan staf untuk meningkatkan infomasi,pendidikan dan dukungan yg diperlukan untuk mengatasi masalah moral dalam area praktik ini.




DAFTAR PUSTAKA

Eriksen,J. ( August, 1989). Steps to ethical reasoning.Canadian Nurse, 23-24
Wilkinson,R.M.(Juli/Augus, 1987).Moral distress in nursing.Hospital Ethics, 2-5.
Barbara J. Gruendemann.Billie Fernsebner.(2006). Keperawatan Perioperatif.

Tidak ada komentar: